Arsip untuk Kategori 'Education'

Siapa yang Menipu Siapa yang Ditipu [2-(semoga)Tamat]

Prolog:

Sebenarnya sudah lama sekali bagian kedua ini ingin ditulis oleh penulis. Namun karena hal ikhwal yang memaksa maka tulisan bagian kedua ini baru bisa diterbitkan sekarang. Putusnya hubungan saya dengan dunia maya ini disebabkan oleh kesalahpahaman yang berujung pada pemutusan hubungan dengan dunia maya secara teknis selama kurang lebih satu bulan :P . Ok-lah masalah itu lain cerita… sekarang kembali ke topik, yang masih ingin tahu (homograf ya pak) lanjutannya silahkan membaca, semoga menghibur…… :P

Selamat Membaca

Siapa yang Menipu Siapa yang Ditipu (1)

Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya membaca prolog saya tentang Cheat&Bug terlebih dahulu. Kalau tidak sempat juga tidak apa-apa kok, saya kan cuma promosi :P . Dalam tulisan ini saya cuma akan membeberkan sebuah kasus yang sudah agak lama berlalu (sekitar satu bulanan). Sengaja saya tunggu agak lama karena dua alasan. Yang pertama sembari mengumpulkan data-data pendukung. Yang kedua supaya saya tidak dituduh provokator lagi :P . Sebisa mungkin saya tidak akan menghakimi salah satu pihak (meskipun perlu :P ) tapi kalau memang ada tulisan saya yang terlalu menjurus harap dimaklumi hehehehe :P Sudah siap?

Mau Nembak Harus Sadar Diri

Bagi yang sedang atau pernah sekolah, tentu sudah maklum dengan ritual yang namanya ulangan. Ulangan biasanya (dan bodohnya) digunakan untuk mengukur prestasi seorang siswa. Untuk menunjukkan kalau sekolah yang pandai mengeruk harta itu masih memiliki welas asih, biasanya selalu ada kesempatan bagi mereka yang “bodoh”. Padahal itu hanya upaya untuk mendongkrak akreditasi :P

Dengan standar nilai yang berbeda (antara 50-65), mereka yang memiliki nilai dibawah standar diberi kesempatan untuk mengikuti perbaikan (Her, perbaikan, remedy, dll). Seorang guru yang benar dan adil tentunya paham bahwa sebagus apapun nilai perbaikan, tentunya tidak dapat melebihi nilai mereka yang lolos dari jeratan perbaikan (walaupun ada juga oknum guru-guru gila yang melanggarnya).

Dengan asumsi demikian, maka mereka yang mengikuti perbaikan tidak akan melebihi nilai dari mereka yang tidak mengikuti perbaikan. Sehingga peserta terbaik dari ulangan perbaikan “kasta”-nya maksimal adalah sama dengan “kasta” terendah dari mereka yang tidak mengikuti perbaikan. Menurut saya memang inilah yang terbaik demi keadilan (kalau memang keadilan masih ada). Apa hubungannya dengan Nembak?

Maaf Karena Kita Lulus Bareng Pak

Pak Sugeng….. kalau memang bapak sempat baca tulisan saya ini, ketahuilah…. saya bukan bermaksud membuka luka lama. Saya hanya tidak tahan lagi untuk mengekspresikan rasa bersalah ini. Selama dua belas tahun ini rasa bersalah itu cuma berupa dugaan semata. Saya hanya mendengar itu dari teman-teman saat bercanda. Saya selalu menolak percaya kalau memang saya punya andil terhadap kejadian itu Pak. Saya takut percaya kalau saya punya andil dalam mutasi Bapak. Namun setelah mendengar langsung dari mulut Bapak…. saya kehabisan kata-kata, saya tidak tahu lagi mau bilang apa selain “maaf”. Maafkan saya pak, maafkan teman-teman juga, maafkan kami semua. Salah Apa Toh?

Homonim, Homograf, dan Homofon

Jadi ingat, waktu lebaran kemarin aku terlibat diskusi serius dengan masku. Ceritanya waktu itu kita sekeluarga mau sowan ke mertuanya mbakku. Karena tempatnya cukup di pelosok (nggak jauh sih sebenarnya) Mojokerto, maka kita naik mobil. Sebuah mobil Toyota Kijang kotak tahun 199* kita naiki ber-8. Karena kursi di depan setir sudah dibooking sang kepala keluarga yang ngotot nyetir (padahal aku dan masku sudah menawarkan diri), maka otomatis kursi sebelahnya ditempati ibuku tercinta.

Kursi di tengah ditempati oleh si empunya hajat, mbakku dan suaminya beserta satu orang saudara cewek. Jadinya aku, masku, dan istrinya harus rela berdesak-desakan di belakang. Bagaimana tidak, lha wong kita semua itu orang-orang besar (tinggi, bukan gendut). Belum lagi kita harus bersaing berebut tempat dengan ban serep dan beberapa barang. Itu semua masih ditambah dengan penderitaan kita yang kesasar. Jadi kita berangkat jam 12 siang, baru sampai rumah lagi jam 22.00. Nah, daripada ngomel dan menggerutu tidak karuan, akhirnya kita yang berada di garis belakang memutuskan untuk ngobrol. Yang berawal dari bercanda akhirnya jadi serius dan berakhir ke bercanda lagi. Berdiskusi tentang bahasa

Titipan Dari Jogja

Kemarin waktu buka email, tiba-tiba mataku tertumbuk pada satu email yang menarik. Ternyata email itu adalah petisi dari Mas Eko Prasetyo. Seorang penulis terkenal dari Jogjakarta. Saya pertama kali tahu tentang beliau sewaktu membaca karyanya Sekolah Itu Candu. Kemudian disusul dengan karyanya yang makin ganas, Orang Miskin Dilarang Sekolah. Selain itu karya-karyanya yang lain tentang pendidikan juga sangat menohok dan pahit, meskipun benar.

Kesempatan bertemu pertama kali saya dapatkan tahun 2004 lalu. Waktu itu saya diundang oleh BEM ITS untuk memberikan materi tentang wacana kampus menuju Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang sekarang beralih lagi menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP).

Aku (A): Siapa pembicara satunya?

Kurir (K): Mas Eko Prasetyo

A: Haaaaahh? (shock sesaat)

K: Kenapa mas? tau mas Eko kan?

A: iya iya, tahu

Mampus aku, dipanelkan sama salah satu penulis idolaku? rasanya lemas seketika. Dan benar saja, saat hari H beliaunya tampil dengan sangat memukau. Akhirnya saya hanya bisa berusaha sebisa mungkin untuk mengimbangi (dan acara tersebut dimasukkan dalam salah satu bukunya lho :P ). Sempat berdiskusi beberapa saat setelah acara, ternyata beliau ini orangnya asyik banget.

Setelah itu kita juga sempat bertemu beberapa kali dalam beberapa acara. Beliau ini sangat dekat dengan Yuliani, salah satu temanku yang dihajar oleh kejamnya birokrasi kampus dengan skorsing 2 semester. Nah, ternyata setelah sekian lama kasus ini berjalan, beliau angkat suara juga. Berikut ini adalah Petisi dari beliau yang mengutuk kejamnya birokrasi kampus ITS (uncensored). Bagaimana menurut anda? Silahkan Dibaca

Pay It Forward

Bencana erosi selalu datang menghantuiBanner Blog Action Day
Tanah kering kerontang banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia

Itu adalah sepenggal lirik lagu dari bang Virgiawan Listianto alias Iwan Fals. Lagu yang sudah meluncur sejak tahun 1982 (katanya lho ya, saya belum lahir soalnya) itu ternyata masih laku (baca cocok) sekarang. Ya, ini memang posting yang saya buat dalam rangka konsekuensi memasang Banner Blog Action Day di sidebar saya :D .

Lingkungan, sejauh mata memandang, sejauh mouse meng-klik, dan sejauh telinga mendengar tidak ada yang bagus-bagus dari Lingkungan. Yang disana teriak global warming, yang di nggak kalah sananya teriak-teriak soal Overpopulation. Sementara di Sini juga nggak kalah ramainya. Di sini sebelah sana teriak-teriak soal Perusahaan bajingan yang mencemari lingkungan dan menyebarkan penyakit, di sini sebelah situ teriak-teriak soal penjarahan hutan untuk kepentingan perusahaan asing perampok sumber daya alam. So what gitu loh

Antara Seeing dan Believing

Pernahkah kamu melihat seseorang yang begitu sempurna? Dalam artian dia punya begitu banyak kelebihan sehingga kamu tidak bisa menemukan alasan untuk tidak suka padanya. Misalnya seperti seorang menteri dengan latar belakang keluarga NU, (mengaku) aktifis HMI, bicaranya menyejukkan hati (kecuali gebrakan mejanya). Kalau iya, pernahkah kamu tiba-tiba merasa tidak suka pada orang itu?

Sebaliknya, pernahkah kamu bertemu orang yang begitu menyedihkan? Sampai-sampai orang (sok tahu) memvonisnya tidak punya masa depan. Misalnya seperti seorang pemabuk, pecandu narkoba, (Kata orang yang suka mengaku Tuhan) kafir pula. Dan pernahkah kamu tiba-tiba merasa suka padanya?

ini nggak ngomongin politik

Diproteksi: Putri Raemawasti Kebanggaan ITS

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Antara Idealisme, Kesuksesan, dan Sok Tahu

Sumpah deh, aku sama sekali nggak bermaksud ikut campur memikirkan masalah yang bukan masalahku. At least sampai sekarang aku masih percaya sama Kahlil Gibran dan SOAD. Tapi gara-gara baca komen ini, aku jadi tergoda untuk nulis lagi tentang tempat mulia dengan kurator keparat ini. Terus baca komen ini, aku jadi betul-betul pingin nulis tentang rumah biruku tersayang ini lagi.

Pertama-tama, saya berasumsi bahwa teman saya ini memang orang yang sangat mempercayai temannya. Kemudian saya juga berasumsi bahwa dia adalah orang yang sangat mudah berempati dengan orang lain (Apalagi alumni yang lebih tua). Sebab dia dengan mudahnya percaya dan berempati pada orang-orang yang mengaku idealis. Padahal definisi idealisnya sepertinya perlu di re-write deh. karena..

Halaman Berikutnya »


This Blog Has Been Read

  • 44,608 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031