Bunda PAUD, Riwayatmu Kini….

Pagi itu seorang perempuan, usianya sekitar pertengahan 30-an, tampak sedang berjalan dengan cepat sambil menenteng tas belanja. Buru-buru dia memasuki rumahnya, tak lama kemudian dia keluar lagi dan terburu-buru mencegat becak yang biasa mangkal di sekitar sana. Perempuan itu bernama ibu Aisyah. Beliau terburu-buru karena hampir terlambat menujut “tempat kerja”-nya. Sengaja diberi tanda petik, karena tempat itu nyaris tidak memenuhi segala macam kriteria tentang sebuah tempat kerja.

Kalau mengikuti budaya eufimisme (penghalusan) Indonesia, mungkin kita akan menyebut ibu Aisyah sebagai seorang guru. Tapi apa yang beliau terima masih jauh lebih parah daripada nasib para guru yang konon katanya sudah parah (walaupun berubah drastis setelah disertifikasi :P ). Secara tata kehidupan resmi yang berlaku, dia disebut sebagai seorang Bunda PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). PAUD, sesuai namanya, adalah sebuah program pendidikan untuk anak-anak usia pra sekolah. “Semacam play group”, kata salah seorang tokoh penggiatnya.

Aspek ekonomi adalah satu-satunya jurang pemisah yang membedakan antara PAUD dan play group. PAUD diperuntukkan bagi anak-anak yang tidak mampu. Para pengajarnya (Bunda PAUD) adalah para relawan dengan latar belakang ekonomi yang tidak jauh berbeda, namun kebetulan punya ijazah mulai SMP-SMA, yang juga tidak mendapat upah untuk pekerjaan mulia mereka. Proses belajar mengajar umumnya dilakukan di balai RW setempat, 2-4 kali seminggu, antara jam 8-10 pagi. Ironisnya lagi, alih-alih mendapat upah, para bunda PAUD tersebut justru masih harus mengeluarkan uang untuk transportasi mereka. Sungguh betapa mulia orang-orang seperti ibu Aisyah.

Setiap pertemuan diisi layaknya sebuah play group. Anak-anak diajari bernyanyi, membaca doa, dan berbagai ketrampilan. Kurikulum diatur dalam sebuah buku induk. Dalam buku tersebut terdapat teks-teks lagu yang menjadi bahan ajar seperti “gelang sipatu gelang”, “disini senang disana senang”, dll. Selain itu para Bunda juga mengisi daftar ajar harian untuk mengevaluasi apa saja yang sudah diajarkan pada para siswanya. Daftar itu juga digunakan untuk mengevaluasi kemajuan para siswa.

Setelah kurang lebih 3 tahun, akhirnya angin segar kelihatannya mulai bertiup. Mulai tahun 2009, para Bunda PAUD direncanakan untuk diberi ongkos transport dari pemerintah. Meskipun hanya uang transport yang hanya bernominal 5 digit, bukan upah, tapi setidaknya itu bisa menunjukkan itikad baik penghargaan kepada seorang guru. Setidaknya itu lebih baik daripada perlakuan sewenang-wenang untuk mengusir para janda dan keluarga almarhum guru besar dari rumah dinasnya :P .

Sayangnya, angin segar tersebut memang hanya kelihatan bertiup bagi ibu Aisyah. Uang transport yang dijanjikan ternyata betul-betul cuma janji. Itikad baik untuk menghargai jasa seorang Bunda PAUD dihancurkan oleh ulah oknum aparat Dinas terkait yang perlu dipertanyakan kemanusiaannya. “Lah wong untuk bisa ngambil uang transport itu, kita harus mengisi laporan selengkap-lengkapnya tentang apa yang kita ajarkan setiap pertemuannya, lah saya lak gak sempat masak,” keluh bu Aisyah. Salah satu instansi memang ditunjuk untuk mem-supervisi proses pemberian uang transport tersebut.

Konyol memang kalau tidak boleh dibilang tolol, kenapa sih pemberian uang transport yang jumlahnya tidak seberapa namun sarat makna tersebut harus dipersulit. Masa setiap orang harus berulang kali menuliskan teks lagu dan doa secara lengkap berulang-ulang setiap harinya?. Bukankah mereka cukup menggunakan daftar ajar hariannya? bukankah teks lengkap lagu dan doa tersebut sudah ada di buku induk? apa oknum-oknum tolol aparat ini tidak pernah belajar administrasi?.

Pendidikan yang seharusnya bisa membebaskan, membebaskan seorang relawan seperti ibu Aisyah dari sedikiiiiit beban hidupnya, justru semakin mempersulit posisinya. Oknum-oknum aparat yang semestinya berpendidikan dan bertanggung jawab terhadap pendidikan justru semakin menghitamkan sejarah hitam pendidikan kita. Aiiiih….. dan lagi-lagi orang-orang seperti ibu Aisyah yang sudah terlatih mengelus dadalah yang harus kembali mengelus dada….

Pernahkah tuan pikirkan, jasa mereka….
Pernahkah tuan renungkan, harga keringatnya…

-Iwan Fals-

*Cerita ini boleh dipercaya boleh tidak. Tidak ada yang menyatakan bahwa cerita ini fiktif/tidak. Tidak ada satupun nama lokasi baik negara maupun kota yang disebut disini. Hanya ingin berbagi saja ^^

1 Tanggapan ke “Bunda PAUD, Riwayatmu Kini….”


  1. 1 Rukia Agustus 6, 2009 pukul 9:37 am

    Tidak ada satupun nama lokasi baik negara maupun kota yang disebut disini. Hanya ingin berbagi saja ^^

    Nggak disebut juga kelihatan kalo itu Indonesia, yang memang punya birokrasi yang berbelit-belit kalau tidak mau dibilang menyusahkan :???:
    Jadi inget kasus TKW yang meninggal di Jeddah, hanya untuk memulangkan jenasahnya saja, keluarga TKW itu harus dipersulit :???:
    Indonesia oh Indonesia…
    Mungkin kita perlu pemimpin seperti Ahmadinejad (thinking)


Tinggalkan Balasan




This Blog Has Been Read

  • 94,535 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

April 2009
S S R K J S M
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

a