Heran, cuma itu kata-kata yang bisa terucap. Hare gene, masih aja para pendidik yang mengaku wakil orang tua itu menerapkan pola-pola destruktif. Pemilu aja sudahberubah, gak nyoblos tapi nyontreng, masa para pendidik dengan serentetan gelar itu masih belum juga berubah. Bukannya mengajari menyelesaikan masalah, mereka justru mengajari untuk menghancurkan sumber masalah. Dan herannya mereka selalu berkhotbah tentang perlunya soft skill dan perlunya kearifan sosial bagi para mahasiswa teknik…… ampun deh Pak.
Dulu waktu SMA, pola destruktif paling terasa efeknya pada kegiatan ekstrakurikuler. Masih tergores tajam dalam ingatan ketika sampai beberapa kali kelaliman tersebut dilemparkan secara membabibuta oleh para guru. Bagaimana satu demi satu kegiatan diluar jam pelajaran diberangus sebagai kambing hitam. Ketika terjadi tawuran dalam sebuah pertandingan sepak bola, segala bentuk sepak bola dilarang!. Ketika banyak siswa terlihat nongkrong sepulang sekolah, dilakukan pengusiran segera setelah bel pulang sekolah. Alih-alih berusaha menyelesaikan masalah, mengajari tentang bagaimana bersepak-bola dengan arif, alih-alih mengajari bagaimana memanfaatkan waktu luang sepulang sekolah dengan bijak, para guru lebih memilih cuci tangan dengan meniadakan sumber masalah.
Di sebuah perguruan tinggi yang direktori oleh seorang profesor ternyata juga tidak jauh berbeda. Ketika hendak melakukan renovasi terhadap bangunan kantin, serta merta para penghuninya (baca pedagang dan para Unit Kegiatan Mahasiswa) diberi warning untuk menyingkir. Secara resmi dan tertulis, sama sekali tidak ada kejelasan tentang akan direlokasi kemana sekretariat UKM dan para pedagang tersebut. Tentunya kebijakan seperti ini memicu perlawanan dari para pedagang yang terancam putus penghasilannya dan dari para mahasiswa yang terancam kehilangan tempat berteduh serta makannya.
Berusaha meninggalkan cara lama yang konon dianggap kampungan (demonstrasi), akhirnya para mahasiswa bersama pedagang mencoba menyampaikan usul-usul dan permintaan tertulis kepada bapak Rektor yang terhormat dan (seharusnya) arif dan bijaksana. Selain secara tertulis, sewaktu menyerahkan mereka juga berusaha menjelaskan secara lisan. Pada intinya mereka hanya meminta relokasi sementara saat kantin tersebut direnovasi, sekaligus meminta kejelasan status saat nantinya renovasi tersebut selesai.
Tapi apa yang terjadi? Apa jawaban bapak Rektor kepada para perwakilan mahasiswa? sebuah jawaban yang sangat tidak pantas keluar dari mulut seorang profesor. Menurut pengakuan para perwakilan mahasiswa, bapak Rektor menolak melakukan relokasi sementara karena alasan kebersihan. Hanya dengan alasan seperti itu beliau (kepada mahasiswa) menolak relokasi. Lucu sekali kalau tidak boleh dibilang konyol.
Sebagai seorang pendidik, lucu sekali kalau alasan kebersihan seperti itu digunakan sebagai dalih menolak relokasi. Bukankah masalah kebersihan itu bisa dibicarakan. Tinggal diatur saja apakah yang menjaga kebersihan disediakan pihak kampus atau penghuni (pedagang dan UKM). Kalau memang pihak penghuni yang menjamin kebersihannya, kan tinggal dibuat kesepakatan. Kalau kesepakatan dilanggar baru sanksi dijatuhkan mulai peringatan sampai dengan pengusiran. Bukannya serta merta menolak atas dasar kekhawatiran yang tidak berdasar.
Heran….. tapi ya sudahlah… guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kalau profesornya aja gitu, ya jangan salahkan kalau murid/mahasiswanya makin lebih dari itu








jawaban simple dari kalo relokasi butuh biaya lagi mungkin
hehehe, biaya indirect mungkin om, kan itu pedagang pastiya juga bakal bayar sewa soalnya ^^