Asyiiik, akhirnya cuci mata juga. Setelah hampir setahun (ato lebih mungkin) nggak nginjek mall, akhirnya nginjek lagi
. Buset, rasanya masuk mall jadi kaya orang dusun, nyari tempat janjian aja nyasar mulu. Mau tanya satpam, gak keliatan blas, heran waktu dicari jarang ada… giliran kita ngutil dari toko langsung muncul dianya
.
Akhirnya setelah muter-muter sambil ngeliatin gadis-gadis remaja dengan pakaian-pakaian “uniknya” (ada yang masih pake rok abu-abu… gile jam berapa ini
), tempat tujuanku ketemu juga. Setelah celingak-celinguk akhirnya Kelihatan juga batang kacamata-nya si Iwan. Dia duduk di bagian smoking area.
Sambil nyengir langsung kuamperin duduk di depannya. Iwan cuma senyum, “Darimana Dun? tumben telat”, tanyanya. “Hehe, biasa Wan, abis nyari duit, sapa tau ada yang buang duit 100 jt di jalan”, sahutku sembari nyengir. Lalu kita mengobrol dan menyelesaikan tujuan awal kita janjian ketemu. Tiba-tiba dia melongok kebawah, melihat sandal hitam saya yang warnanya sudah pudar jadi abu-abu, lalu tersenyum.
Senyumnya yang aneh bikin aku penasaran dan bertanya
Aku : Napa Wan?
Iwan : Nggak papa, kamu masih tetep aja hobi pake sandal kemana-mana
Memang sih, hobi memakai sandalku ini sudah melekat dan nyaris jadi trademark. Proporsi pemakaian sandal, sepatu, dan cekeranku kalau di statistik kira-kira 1:6:3
. Bahkan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) juga tidak luput jadi korban sandal.
“Ya piye Wan, emang udah kebiasaan, pake sepatu males sih ribet harus pake kaus kaki dulu, trus harus ngiket tali.”, kilahku sekenanya. Lagi-lagi dia tersenyum. “Wah kalau melihat kengototanmu tidak mau pakai sepatu, aku jadi inget sama tukang semir di masjid dekat kantorku Dun,”.
Iwan lalu bercerita soal tukang semir sepatu yang biasa mangkal di Masjid dekat kantornya. Kantor Iwan memang terletak di daerah yang cukup padat sehingga masjid di dekat kantornya tidak pernah sepi jamaah. Selain beribadah, masjid yang cukup terkenal itu juga difungsikan sebagai tempat persinggahan dan istirahat.
“Dulu, waktu masih baru, aku sama teman-teman kantorku langsung berinisiatif sholat di masjid,” ceritanya. Iwan ini memang rajin sekali mengikuti kajian, namun yang membuatnya sangat berharga untuk di-teman-i (baca diajak berteman) adalah sikapnya yang konsisten. Tak pernah dia menggunakan ilmu-ilmu yang didapatnya dari kajian-kajian untuk mempolitisir atau memanipulasi orang lain buat kepentingan golongan/partainya
.
Nah, waktu Iwan dan teman-temannya sholat di masjid, sama sekali tidak terpikir oleh mereka untuk memakai sandal. “Repot kan kalau ke kantor harus bawa sandal, toh di masjid ada tempat penitipan sepatu”, kira-kira begitulah alasannya. Di dekat tempat penitipan sepatu tersebut ada seorang bapak-bapak tukang semir dan anaknya mangkal. Betapa kagetnya Iwan dan teman-temannya ketika seusai sholat tidak mendapati sepatu mereka di tempat menaruh sepatu.
Rupanya dalang dibalik pemindahan sepatu mereka adalah upaya pro aktif sang bapak-bapak tukang semir ini. Dengan santainya dia menyemir semua sepatu yang diletakkan di daerah penitipan sepatu. Semua dilakukannya meskipun dia tidak tahu apakah pemiliknya akan membayar atau tidak.
“Trus kamu bayar Wan?”, tanyaku. “Ya jelas lah, mau gimana lagi, sepatunya udah disemir masa gak dibayar,”. Lantas sejak kejadian itu mereka selalu mengupayakan agar tidak memakai sepatu ke masjid. “Loh emangnya besoknya kalau kamu balik lagi, sepatumu disemir lagi?”. “Iya”.
Waw, rajin sekali bapak-bapak tukang semir itu pikirku. “Berarti kamu sekarang bawa sandal tiap hari dong Wan?”. “Ya gak mesti, kalau lupa atau terburu-buru ya tetep pakai sepatu.”. “Trus kamu bayar tukang semirnya? gak ngeroweng (ngomel) gitu kamu?”. “Ya buat apa Dun, dah kadung ngasih ya Ikhlas aja lah, percuma kalau udah ngasih tapi ngomel-ngomel, gak barokah, lah kamu sendiri gimana?”.
“Kalau aku? ya paling tak ambil langsung sepatuku trus pergi… aku kan gak minta disemirin, kalau dia ngomel ya salahnya sendiri, kalau pertama kali doang sih gpp tak bayar, kalau tiap hari ya maap (melet)”………..








Bukankah model bisnis seperti itu lagi ngetren di Internet dan dunia IT?
Facebook, twitter, money blogging, konsep Open Source(terutama ini) semua berbasis memberi dulu dan menarik bayaran kemudian. Konsep ini salah satu konsep gratis yang dipakai dalam Freemium.
Mungkin kamu bisa merekrut tukang semir itu jadi marketing manager, he has very advanced marketing strategy.