Suatu percakapan antara Simon dan Felix (nama dan tempat disamarkan demi kebaikan bersama)
Simon (S) : jadi apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu?
Felix (F) : naah… ngggak ada apa-apa. Apa yang membuatmu berpikir aku sedang berpikir?
S : Fel, plis deh.. waktu Andrea menelponku minta tolong untuk bicara denganmu aku kira dia cuma bercanda.
F: Memang, bukankah dia hobi bercanda, dia kan hobi nonton sinetron (meringis)
S: Sudahlah (mengambil kursi dan menggeser ke dekat Felix) kita sudah bersama-sama hampir seumur hidup, jangan kamu coba menipuku dengan senyummu itu.
F: (menghembuskan asap rokok lalu tertawa)
S: Nah kan, tertawamu itu sama sekali terdengar seperti orang marah daripada tertawa (menyulut rokoknya)
F: Can’t ever fool you didn’t ya (meringis lagi)
S: sudahlah, jangan kamu mulai bertingkah seperti si tolol yang suka bicara berputar-putar itu. Apa sih sebenarnya yang mengusik pikiranmu
F: (menghela nafas panjang) kamu pernah bicara pada dirimu sendiri?
S: Maksudmu?
F: Ya begitulah, aku sedang menemui jalan buntu Sim….. aku tidak bisa mencapai kesepakatan dengan diriku sendiri, antara rasa bersalah dan kemarahan.
S: Sudahlah, anak siapa yang kali ini kau hamili?
F: Hamili matamu (melempar puntung rokok yang sudah hampir habis)
S: (mengelak sambil tertawa) Habis dari tadi kamu berbicara seperti orang yang sedang kebingungan gak jelas
F: Memang Sim, terus terang aku sedang bingung. Aku sedang dihadapkan pada pilihan antara menjadi anak durhaka ato berkhianat pada keyakinanku sendiri
S: Durhaka? wah-wah, kelihatannya kamu mulai serius ini, kenapa memangnya Fel?
F: Yah, mudah saja, karena yang sedang kuhadapi sekarang adalah ibuku sendiri. Kalau kamu yang ada di posisiku kamu pilih yang mana?
S: Bah, itu bukan pilihan yang masuk akal Fel, selalu ada pilihan ketiga kan?
F: Ada, pilihan ketiga memang ada, tinggal kita lupakan saja dan anggap semua itu tidak pernah terjadi. Nah itulah yang dari tadi aku pikirkan
S: Lantas? kamu masih waras kan? kenapa tidak kamu ambil saja pilihan ketiganya?
F: Kamu kira gampang hah? melupakan semua begitu saja? kau pikir aku sedang menghadapi Para Penjual Tuhan itu? ini keluargaku Sim, kita berbicara tentang ibuku yang sudah melahirkan aku dan orangnya masih hidup sampai sekarang (menyulut rokok lagi)
S: Lah…. bukankah pertanyaanmu sudah kamu jawab sendiri Fel? itu ibumu sendiri kan? kamu mau mengorbankan tali silaturahmi keluarga For the sake of your fuc*ing idealism???? Sadar woi! Kamu boleh hancurkan hidup semua orang yang menghalangi langkahmu, tapi bukan keluargamu.
F: Bukankah kamu yang selalu mengajariku tentang pengorbanan Sim, bahwa dalam setiap jalan yang kau pilih pasti ada yang dikorbankan..
S: OK ok, tapi coba kamu lihat ke dalam dirimu sendiri. Seandainya kamu menang, lantas kamu sukses jadi anak durhaka. Lalu apalagi yang mau kamu cari? apa kamu bisa memaafkan dirimu sendiri kalau kamu sampai jadi anak durhaka? belum lagi hukuman yang bakal kamu terima nanti di akhirat kalau memang akhirat itu ada.
F: Kalau aku mengambil pilihan ketiga Sim, apa yang harus kulakukan coba? meminta maaf dan melupakan semuanya? Ada bagian diriku yang sampai sekarang masih tidak terima Sim, tidak terima kalau aku harus meminta maaf untuk sebuah kesalahan yang tidak pernah aku lakukan.
S: Fel, tidak perlu alasan untuk meminta maaf. Memang mulia bagi seseorang jika dia mau meminta maaf untuk kesalahannya. Namun jauh lebih baik meskipun konyol jika kamu mau meminta maaf tanpa alasan apapun.
F: Nggak gue banget deh
S: Yah kalau kamu memang butuh alasan Fel…. mintalah maaf karena kamu hampir meretakkan tali keluarga kalian. Tidak perlu diucapkan, cukup kau katakan pada dirimu sendiri alasan itu.
F: Bah….. aku benci kalau kamu benar, tapi bukan berarti aku setuju dengan kata-katamu. Tapi akan kupikirkan…..








ehm ehm… nanti kira-kira ada cerita finishingnya nggak?
Proyeksi masalah diri sendiri atau murni fiksi?
Kalau yang pertama, ya, pragmatis dikitlah…
Turn around idealism?
Never compromise!
#dr#
belum kepikir tuh
#K.Geddoe#
“based on true story”, bukan true story
#dnial#
bagooos bagooos
Curhat ki… *mlayu*
jalan ketiga
menahan ego untuk memegang teguh idealism..
kebanyakan sih menghasilkan manusia-manusia dengan kepribadian ganda…
hati-hati… lho!!
G.B.U