Pak Sugeng….. kalau memang bapak sempat baca tulisan saya ini, ketahuilah…. saya bukan bermaksud membuka luka lama. Saya hanya tidak tahan lagi untuk mengekspresikan rasa bersalah ini. Selama dua belas tahun ini rasa bersalah itu cuma berupa dugaan semata. Saya hanya mendengar itu dari teman-teman saat bercanda. Saya selalu menolak percaya kalau memang saya punya andil terhadap kejadian itu Pak. Saya takut percaya kalau saya punya andil dalam mutasi Bapak. Namun setelah mendengar langsung dari mulut Bapak…. saya kehabisan kata-kata, saya tidak tahu lagi mau bilang apa selain “maaf”. Maafkan saya pak, maafkan teman-teman juga, maafkan kami semua.
Jadi begini ceritanya, dua belas tahun yang lalu (dengan gaya pendongeng):
Pak Sugeng, beliau adalah sosok orang yang saya jadikan panutan. Wali kelas saya sewaktu kelas VI SD dulu. Seorang guru teladan yang hidup dengan sederhana. Namun kesederhanaan hidup tidak membuat hatinya sederhana. Bahkan dia tidak pernah takut mempertaruhkan karirnya (menentang kepala sekolah, bahkan menentang pejabat Diknas) demi keadilan untuk murid-muridnya.
Terakhir kali saya bertemu beliau sewaktu saya masih kuliah (sekitar empat tahun yang lalu). Entah ada angin apa yang membawa saya berkunjung ke rumahnya. Rumah yang pernah saya datangi setiap hari sampai beberapa bulan menjelang Ebtanas untuk les. Saya bertemu beliau, masih gagah dan berwibawa meskipun usianya tidak bisa berbohong. Sayang, kita hanya sempat mengobrol singkat. Dari sanalah saya tahu bahwa sekarang beliau tidak lagi mengajar di SD saya.
Tadi pagi sebuah SMS masuk ke Handphone. Rupanya dari Fajar, teman SD sekaligus sepupu saya. Dia mengabari bahwa hari ini ada halal bil halal (busyet, tanggal berapa ini) di rumah Citra. Cuma sempat membaca, tanpa sempat membalas saya kembali tidur setelah ditinggal tidur lagi oleh seseorang yang masih mengumpulkan nyawa. Siangnya Dimas telepon, pengurus DPD ****** ini rupanya sudah di depan rumah saya. Untung saya sudah mandi, langsung saja saya berpakaian seadanya dan beranjak menemuinya. Di depan rupanya dia, Fajar, dan Haris sudah menunggu. Akhirnya kita bersama-sama berangkat ke rumah Citra.
Sampai rumah Citra, seperti biasa kita masih menunggu for the gang to assembled, dan seperti biasa Ariel p*te* p** selalu datang terakhir karena sibuk. Setelah lengkap (gila, sudah 12 tahun lebih, dan kita masih bisa sering berkumpul
) kita mengobrol seperti biasa. Mengungkit luka lama saya dengan Messy dan mencoba meneruskan gosip antara saya dengan Citra menjadi topik yang paling saya hindari. Untunglah tiba-tiba ada yang punya ide untuk berkunjung ke Pak Sugeng, wali kelas kita dulu. Setelah Citra menelepon untuk membuat janji, kita segera berangkat.
Karena waktu masih menunjukkan pukul 13.00, maka kita memutuskan untuk makan dulu. Ternyata kita makan di wapo kayoon, tempat yang sama dengan lokasi peluncuran tugu pahlawan dot com. Sambil makan, kita kembali ngobrol dengan keras karena harus bersaing dengan lagu dari speaker restoran tersebut. Dan herannya, makin keras kita ngobrol, lagunya juga makin keras. *lirik pengunjung-pengunjung lain yang sirik*
Setelah makan, kita menuju rumah pak Sugeng. Dan beliau dengan istrinya menyambut kami dengan ramah. Sosok yang masih sama gagahnya dengan sosok yang kulihat terakhir kali. Masih sama berwibawanya seolah-olah aku masih mengenakan seragam putih merah
. Kami semua tumplek blek dalam ruang tamunya. Dan saya…. karena ukuran body yang agak sedikit besar, duduk diatas kursi di sebelah beliau
Pak Sugeng (PS) : Tadi itu yang nelepon Citra ya? pertamanya saya bingung… tapi setelah dia bilang lintingan (angkatan) -nya Mardun saya langsung inget.
Anak-Anak (AA): memangnya kenapa pak?
PS: ya angkatan kalian memang berkesan, soalnya kita lulusnya bareng
AA: haaah?
PS: Iya, kalian dapet ijazah, saya dapet surat mutasi
AA: lho kok bisa pak?
PS: Lha iya, gara-gara drama yang kalian pentaskan di Jogja itu….. pak **** (kepala sekolah waktu itu) tersinggung. Setelah kalian tidur, semua guru minus saya dipanggil satu-satu ke ruangannya. Setelah saya tanya-tanya rupanya dia curiga kalau saya yang nyuruh kalian bikin drama itu.
AA: Masa cuma gara-gara drama gitu sampe dipindah pak?
PS: Ya enggak, sebelumnya saya juga pernah nentang dia waktu mau menaikkan adiknya jadi guru kelas V (menceritakan detilnya)
AA:(bisik-bisik) sepertinya itu angkatan kita juga deh
PS: Padahal saya itu heran, wong kalian mau bikin drama saja saya nggak tahu. Saya sudah sempat minta tolong pak Bambang (guru kesenian) buat nyelidiki. Tapi beliaunya bilang kalo latihan kalian tidak jelas kapan dan dimana. Kalian ini memang pintar menyembunyikan jejak
AA: wah, kita memang hebat ya? untung kita nggak bikin mafia (tertawa)
PS: Lha waktu itu pak **** gak manggil Mardun, soalnya dia ampun-ampun, si Mardun itu kan lawan politiknya. (tertawa)
AA: kok……
PS: Dia itu sambat ke saya, pusing kalo ngadepin Mardun, kalau membantah merepotkan
AA: (tertawa lagi) tapi itu bukan Mardun pak sutradaranya. Sutradaranya itu Nuri, sekarang dia di Bandung. Tapi kita bisa datengkan ke sini kok pak kalo perlu. Sekaligus untuk minta maaf
PS: (tertawa) nggak perlu, kalau saya sih nggak masalah. Tapi kayaknya yang perlu kalian temui itu pak ****, beliau pasti masih inget (tertawa lagi)
Dan kita terus mengobrol, akhirnya waktu jualah yang memisahkan kita. Kemudian kita kembali berkumpul ke rumah Citra. Karena satu mobil, aku sempat melakukan sebuah perbincangan rahasia dengan Citra. Pembicaraan itu tidak mungkin kulakukan di depan orang banyak. Semuanya berkat Anin dan Haris yang mau tutup mulut
Sesampai di rumah aku langsung menuju kamar. Perasaanku betul-betul kacau. Kenapa baru sekarang aku tahu? kenapa drama spontanitas dari sekelompok anak kecil saja bisa jadi masalah? Padahal kami kan cuma mendramakan kejadian-kejadian yang kami alami di kelas setipa hari? Kenapa cuma gara-gara sebuah drama, seorang guru yang begitu hebat harus disingkirkan dari posisinya di sebuah sekolah favorit?
Ah….. lagi-lagi aku cuma bisa bilang maaf dalam hati. Maafkan aku Pak, maafkan kami Pak. Tapi engkau memang guru SD terbaik yang pernah mengajar kami. Semoga hidupmu makin bahagia Pak. Saya dan teman-teman sangat sayang pada Bapak. Dan seandainya ada yang bisa kami lakukan untuk menebus kesalahan……………….
N.B ini ada beberapa skrinsyut
kali aja ada yang butuh
Alfi, Dimas, Dina, dan Anin sedang pilih-pilih makanan
Citra…. hasil jepretan Alfi
Eh, di Rumahnya Citra ternyata ada fotonya dia sama Messy lho











Nomer siji…!
soalnya dia ampun-ampun, si Mardun itu kan lawan politiknya
wah ternyata sudah ada bibit dari kecil ya? Sampe sekarang bisa berkiprah seperti itu di kampus..
Berarti dulu itu gara2 kamu dia pindah….
*Bakar Mardun*
masak situ sama guru-nya lulus-nya bareng? mas-nya jenius ya? atau dulu maksa biar lulus-nya di-cepetin?
*pura-pura lugu*
btw, kembali cerita klise rekan-nya oemar bakri dengan setting berbeda ter-jadi, ketika seorang guru harus di-geser demi kepentingan tertentu
tapi kaya-nya ndak usah merasa ber-salah deh mas, kalau mo cari yang salah, yang harus di-persalah-kan yang kepala sekolah YTH itu. tapi ngapain juga nyari-nyari yang salah, toh pak Sugeng sendiri udah me-maaf-kan kan?
emang judul drama-nya apaan sih?
Hai, Dina!
*digampar*
masih sedih kah?
Ikut prihatin dengan pak guru-mu, salam ya buat beliau.. but life must going on.. maafkan aja diri sendiri, silaturrahmi bagi beliau dari murid2nya adalah curahan karunia.. baginya itu sudah cukup kok..
drama-nya tentang apa sih?
ayo dun, critain dramanya…
trus nasib kang Sugeng gimana?
madrun eh mardun! maap, maap (nyembah2). kasian banget pak sugeng ya? trus waktu itu beliau dipecat atau dimutasi? halah saknoneee..
#dodo#
ah, itu cuma perasaan kamu saja
#dnial#
kamu kan nggak pernah diajar beliau. Waktu itu kan kamu masih kelas V
dasar adik kelas durhaka
#extremusmilitis#
yang bareng keluarnya mas…. satu pake ijazah, satu pake surat mutasi.
ya itulah mas, padahal dramanya sih cuma menceritakan satu hari di sekolah gitu deh. Yang memerankan gurunya kebetulan saya
#Caplang#
mau titip salam? entar tak sampein deh mas
#calonorangtenarsedunia#
masih sih…. tapi gpp deh, kan akhirnya juga Happy ending..
#gempur#
iya juga sih mas, saya sih kalau di posisi beliau nggak mungkin dendam kok. Masa saya mau dendam sama sekelompok anak kecil
entar kalo ketemu saya sampaikan salamnya mas, makasih ya
#CK dan Vendy#
ya dramanya sih tentang satu hari di sekolah gitu… entar kapan-kapan tak posting skripnya kalau masih ingat
Ato daniel mungkin inget?
#Swiwi#
Sekarang beliau mengajar di SD yang nggak begitu favorit sih….
#venus#
dimutasi mbok, ke SD lain yang tidak terlalu favorit.
Tapi sekarang SD itu jadi favorit lho, sementara SD saya dulu malah sekarang anjlok jlok prestasinya. Apa mungkin ini keadilan buat Pak Sugeng ya?
pembicaraan apa ini ?! mencurigakan…
ternyata “bakat” ini sudah ada dari kecil. ahahhaaa…
salam aja deh
ndak bisa mem-bayang-kan
wah-wah, jadi kagum sama sampeyan mas! Berarti dari kecil sampeyan emang udah bakat yah ^-^”
*lihat komen atasku
tuh kan. ternyata yang berpendapat gitu ga cuma aku. ihihihhiii…
btw, apa “bakat” yang dy maksud sama kaya yang aku maksud yah ?? ehheeheheee…
salam buat pakgurunya..
Penasaran soal drama yang dipentaskan itu!
pas jaman kuliah kok gak ada lagi pendidik sampeyan (eh, maksudnya kita ding
) yang ikutan lulus bareng yah
hmmm…
*mode memancing di air keruh = ON, lariii…*
#nieznaniez#
bakat? bakat main drama maksudmu. Sepertinya aku bisa jadi aktor nih
#ale dan anang#
iya, kalo ketemu lagi saya salamin
#extremusmilitis#
ah bung bisa saja
#alief#
iya, sayangnya steven spielberg gak pernah ketemu aku
#peyek#
dramanya biasa mas, suer. Saya aja sudah lupa, entar kalo saya bisa kontak sama sutradaranya yang lagi kul di Bandung saya posting deh scriptnya
#Siawhietji#
kamu mau lulus bareng siapa? mau lulus bareng-bareng sama si kumis beracun ta?
Menunggu kisah drama itu diangkat ke layar lebar eh maksudnya ke blog
messynya kmana??
mardun… mardun… wakakakakak…. (ketawa ngakak 5 menit, perutku mpe pegel)