Jadi ingat, waktu lebaran kemarin aku terlibat diskusi serius dengan masku. Ceritanya waktu itu kita sekeluarga mau sowan ke mertuanya mbakku. Karena tempatnya cukup di pelosok (nggak jauh sih sebenarnya) Mojokerto, maka kita naik mobil. Sebuah mobil Toyota Kijang kotak tahun 199* kita naiki ber-8. Karena kursi di depan setir sudah dibooking sang kepala keluarga yang ngotot nyetir (padahal aku dan masku sudah menawarkan diri), maka otomatis kursi sebelahnya ditempati ibuku tercinta.
Kursi di tengah ditempati oleh si empunya hajat, mbakku dan suaminya beserta satu orang saudara cewek. Jadinya aku, masku, dan istrinya harus rela berdesak-desakan di belakang. Bagaimana tidak, lha wong kita semua itu orang-orang besar (tinggi, bukan gendut). Belum lagi kita harus bersaing berebut tempat dengan ban serep dan beberapa barang. Itu semua masih ditambah dengan penderitaan kita yang kesasar. Jadi kita berangkat jam 12 siang, baru sampai rumah lagi jam 22.00. Nah, daripada ngomel dan menggerutu tidak karuan, akhirnya kita yang berada di garis belakang memutuskan untuk ngobrol. Yang berawal dari bercanda akhirnya jadi serius dan berakhir ke bercanda lagi.
Awalnya kita hanya bergosip tentang bengkel aneh di dekat rumah. Bengkel tersebut memasang papan layanan yang cukup aneh. Papan tersebut menyatakan bahwa bengkel nyentrik itu menerima service “Ulisan Peng” yang ternyata maksudnya oli samping. Dari situ tiba-tiba kami menyimpulkan bahwa si pemilik bengkel menggunakan Homofon dalam membuat papan namanya. Akhirnya kita bertiga (walaupun istrinya masku lebih banyka diam) terlibat diskusi serius tentang Homonim, Homograf, dan Homofon.
Homonim adalah terminologi dalam Bahasa Indonesia untuk menyebut kata-kata yang memiliki arti berbeda namun sama dalam penulisan dan pelafalan. Contohnya adalah
“Bisa” yang berarti racun ular dan “Bisa” yang berarti dapat/mampu
Homograf berbeda, meskipun penulisannya sama namun pelafalannya berbeda. Contohnya adalah
“Apel” yang berarti buah dan “Apel” (dibaca dengan e yang rada gimana gitu) yang berarti kumpul atau baris
Lain lagi dengan Homofon, jenis ini justru memiliki pelafalan yang sama meskipun penulisannya berbeda. Contohnya adalah
“Coklat” yang berarti warna campuran antara kuning, merah, dan biru dengan “Cokelat” yang berarti sebuah makanan (sering diklaim sebagai tanda cinta
)
Setelah berdiskusi cukup serius dan mencoba mereka-reka, akhirnya kita mengalami kebuntuan saat mencari contoh ketiga. Maksudnya contoh ketiga adalah arti ketiga dari sebuah homonim, homograf, maupun homofon. Contohnya “bisa”, kita hanya menemukan dua arti untuk “bisa” (racun dan dapat). Akhirnya dengan setengah bercanda Masku mencetuskan idenya
Masku (M): Saya tahu, tapi hanya bahasa Jawa yang bisa
Aku (A): Masa?
M: Iya, beneran
A: Gimana coba?
M: sekarang misalnya kamu ditanya orang “kamu sedang apa?” kamu jawab gimana?
A: Nggak tahu, gimana coba njawab pake homonim?
M: Dodol dodol dodol (jualan dodol (sejenis makanan) dodol (bodoh) )
Semuanya : HAHAHAHAHAHAHAHA
Begitu kerasnya kita tertawa sampai bapak saya yang menyetir menoleh kebelakang. Untung saja tidak terjadi apa-apa. Dan tanpa sadar kita sudah mencapai tujuan, rupanya cukup lama juga kita berdiskusi membicarakan sesuatu yang tidak berguna itu
.








hahahaha… tapi dodol (dungu) itu boso jowo ya? bukannya bahasa betawi ato bahasa apa ya?
setuju.. ma koment pertamax diatas
dodol yang terakhir ituh masih dipertanyakan asalnya
*jangan2 kaya kasus lagu rasa sayang lagee*
hehehe
ga sopan ajah aku.. misi mas.. salam kenal
*ngulurin tangan*
Kerancuan kata, ya?
Kadang-kadang bisa salah paham juga lho kalau berhadapan dengan yang nggak nyambung maksud kita
akhirnya ini masuk postingan jugah…
ahahahaaaaaaaaaa…
gedhang[bhs bali] = kates[bahasa jawa]
gara2 ini ibuku bingung nukokno buah ponakan ku sing teko bali
#de#
waduh, betawi? nggak tahu, kita kebetulan nggak ada yang bisa bahasa betawi tuh
#ordinary#
*ulurin tangan* sama sama
#alex#
apalagi kalau cuma tulisan, dan kita tidak tahu intonasi maupun pelafalannya. bisa gawat tuh
#nieznaniez#
kan sudah lewat hari senin
#dmztc03#
tanya aja, gedhangnya bahasa jawa atau bali
Jadi ingat waktu ngajar, nih, hehehehe
Sebenarnya banyak juga sih kata-kata yang berhomonim, misalnya buku (kitab, ruas), kali (sungai, operasi bilangan), catur (empat, permainan), *ditambah daftarnya, yak*, berhomograf, misalnya teras (penting, serambi), tahu (mengerti, makanan) *ditambah daftarnya, yak*, dan berhomofon, misalnya, massa (orang banyak) dan masa (waktu), syarat (ketentuan) dan sarat (penuh) *ditambah daftarnya, yak*.
*Halah, lha jadi kelas yang sedang belajar bahasa Indonesia toh iki*
Tentang dodol? *tertawa ngakak* betul juga itu! Termasuk homonim gado2, hahahaha
OK, postingan yang ringan tapi bermakna. Memperkaya kosakata bahasa Indonesia.
Trus…kalo kata ” HOMO ” tu sendiri apa artinya bang mardun..????
@niez
udah pernah dibahas bareng km kah?
@mardun
masmu di fs nya itu interested dating women, sama aku aja apa gmn?poligami bukan masalah kok…
#sawali#
terima kasih pak atas pujiannya
#epa#
Tanya sama praktisinya aja mbak
*aduh mataku sakit nih ngelirik Anto, Arul, dan Ade sekaligus*
#calonorangtenarsedunia#
)
itulah yang dimaksud MBA (married but available
“akhirnya ini masuk postingan jugah…
ahahahaaaaaaaaaa…”
ah? ada hubungan afa ini antara mardun dan niez? ada afa ini? ada afa? afa niez termasuk salah satu figuran dalam cerita ini?
apik dun cerito mu…
belajar sambil bercerita n sambil ngakak, wkk :))
Dol, ojo dodolan dodol terus po o Dol!
#hoek#
tenang kawandh, nanti kamu tak buatin cerita juga
#nra#
ya begitu itu kalau satu keluarga ngumpul
#siw#
dodol opo wi?
…. contoh homonim,hografnya ada yg lain ga… ?
mardun ini terep aneh2 aja, sejak pertama tahu di acara Format 2002
kerjo nang endi saiki?
§ Ur Englis Pokebuleri §
1. Kelapa muda: the gun
2. Bakso: back show
2. Kerupuk: crew book (mekso sithik)
. . . . . . . .
* diphelothothin by guru Englis
** kabhuur kesremphet ojheckh kena bechekh ga ada chewekh (mxudx?)