Titipan Dari Jogja

Kemarin waktu buka email, tiba-tiba mataku tertumbuk pada satu email yang menarik. Ternyata email itu adalah petisi dari Mas Eko Prasetyo. Seorang penulis terkenal dari Jogjakarta. Saya pertama kali tahu tentang beliau sewaktu membaca karyanya Sekolah Itu Candu. Kemudian disusul dengan karyanya yang makin ganas, Orang Miskin Dilarang Sekolah. Selain itu karya-karyanya yang lain tentang pendidikan juga sangat menohok dan pahit, meskipun benar.

Kesempatan bertemu pertama kali saya dapatkan tahun 2004 lalu. Waktu itu saya diundang oleh BEM ITS untuk memberikan materi tentang wacana kampus menuju Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang sekarang beralih lagi menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP).

Aku (A): Siapa pembicara satunya?

Kurir (K): Mas Eko Prasetyo

A: Haaaaahh? (shock sesaat)

K: Kenapa mas? tau mas Eko kan?

A: iya iya, tahu

Mampus aku, dipanelkan sama salah satu penulis idolaku? rasanya lemas seketika. Dan benar saja, saat hari H beliaunya tampil dengan sangat memukau. Akhirnya saya hanya bisa berusaha sebisa mungkin untuk mengimbangi (dan acara tersebut dimasukkan dalam salah satu bukunya lho :P ). Sempat berdiskusi beberapa saat setelah acara, ternyata beliau ini orangnya asyik banget.

Setelah itu kita juga sempat bertemu beberapa kali dalam beberapa acara. Beliau ini sangat dekat dengan Yuliani, salah satu temanku yang dihajar oleh kejamnya birokrasi kampus dengan skorsing 2 semester. Nah, ternyata setelah sekian lama kasus ini berjalan, beliau angkat suara juga. Berikut ini adalah Petisi dari beliau yang mengutuk kejamnya birokrasi kampus ITS (uncensored). Bagaimana menurut anda?

PETISI UNTUK ITS

Oleh: Eko Prasetyo

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan menganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: Lawan!

(Wiji Thukul)

Saya mengenal Yuli, Tommy, dan Benny hanya sesaat. Yuli seorang mahasiswi yang energik dan antusias. Tiap kali bertemu selalu ada yang digelisahkan. Tentang ketidak-adilan atau mahalnya biaya pendidikan. Sedangkan Tommy beberapa waktu lalu mampir ke kantor. Pria muda yang tenang dan sedikit gundah. Mengadukan putusan skorsing yang dikeluarkan oleh kampusnya. Sebuah kampus yang mengantarkan Rektornya menjadi menteri komunikasi. Kampus yang mahir dalam banyak temuan tekhnologi. Kampus yang sepadan derajadnya dengan kampus-kampus ternama lainnya.

Saya beberapa kali mampir ke kampus ITS. Menjadi pembicara pada tempat yang sama. Dari soal BHMN hingga riset. Mahasiswanya pintar, berani dan tertib. Mereka selalu menjemput di bandara dengan kebanggaan. Jas almamater dan berkisah tentang kampusnya. Sebuah tempat yang menyenangkan meski ada kegundahan. Diantara gundah itulah Yuli, Tommy, dan Benny menjadi pemukanya. Mereka merasa perih melihat sikap kampus yang ‘diam’ pada kasus Lapindo. Mereka ingin kampus jadi pembela warga yang jadi korban. Wibawa dan popularitas ITS mustinya mampu berbuat lebih. Tak sekedar riset apalagi sekedar pendataan. Kampus itu semustinya bisa bersuara lantang dan memihak. Yuli, Tommy, dan Benny merasa sukar menerima sikap netral kampus ITS. Apalagi ada kecurigaan kampus mempermainkan korban.

Mustinya ITS beruntung masih punya mahasiswa yang kritis dan bernyali. Harusnya ITS bangga karena ada mahasiswa yang berontak. Atas sebuah situasi yang menyimpan ketidak-adilan. Terhadap kondisi sosial yang hingga kini tak mampu dibereskan. ITS melalui mereka diingatkan kembali tentang tanggung jawab Perguruan Tinggi. Bukan sekedar mengantar seseorang jadi sarjana melainkan juga punya mandat perubahan. Sayangnya ITS memilih untuk tidak bersikap seperti itu. Mereka beranggapan anak-anak belia yang pintar dan kritis ini patut dihukum. Mereka menganggap hukuman skorsing adalah balasan yang setimpal. Agak janggal: Menteri Komunikasi mantan Rektor ITS tampaknya tak bisa mengajarkan pada pewarisnya, ‘cara berkomunikasi’ yang baik.

Rektor baru yang titelnya berderet juga mengambil sikap yang sama. Ternyata benar kepintaran dan kematangan emosi tak bisa bersanding. Gelar Professor bukan memberi petunjuk tentang kearifan. Malah dengan gelar itu ketetapan skorsing tak bisa diubah. Agak menggelikan karena ITS sering menyelenggarakan training ESQ. Training yang digunakan untuk menyambut mahasiswa baru. Sebuah pelatihan yang mendidik orang untuk bisa tabah, sabar dan tawakal. Ternyata hasilnya adalah putusan kasar, naif dan emosional. Tak sedikitpun ada bekas keteduhan dan kematangan emosi. Jangankan itu: ratusan protes yang dikirim tak membuat putusan itu diubah. ITS konsisten untuk memegang ketetapan skorsing. Kampus ini ternyata menyimpan tekhnologi ‘ketidak-pedulian’ yang sempurna.

Mungkin mereka kurang membaca sejarah. Kisah tentang kampus-kampus ternama yang berisikan mahasiswa pemberani. Soal Che Guevara yang menjadi mahasiswa pencetus revolusi Kuba. Negeri yang hari ini dibangun tanpa hutang sepersenpun. Tentang Soekarno yang berani memprotes semua kebijakan kolonial. Amat keterlaluan kalau birokrat ITS tak kenal dengan nama ini. Kisah mengenai mahasiswa Trisakti yang gugur untuk perubahan. Karena tangan mereka-lah Rektor ITS kini menjabat menteri. Melalui siraman darah para aktivis mahasiswa kampus ITS mendapat porsi kekuasaan. Hukuman untuk Yuli, Tommy maupun Benny membawa ITS meluncur mundur. Kampus ini mengulang kembali apa yang dikutuk oleh Sjahrir, Hatta maupun Soekarno. Kampus hanya jadi penyimpan tenaga budak dan tempat yang sunyi dari pergerakan. Andai kampus hidup dengan mesin ketaatan maka lingkungan kampus akan mirip seperti makam.

Tempat dimana mahasiswanya kian lama kian mirip satu sama lain. Belajar terlampau rajin. Kuliah tanpa mengenal kenyataan. Tembok dan bangunan megah hanya seperti sebuah arca. Karena yang menghuni bukan lagi manusia. Pribadi yang semustinya memiliki kepekaan, akal sehat dan solidaritas. Yang tertinggal hanya pribadi yang susah menerima kritik, perbedaan apalagi tuntutan akan tanggung jawab sosial. Pertanyaan yang kemudian terlontar: untuk apa kampus ini terus berjalan? Untuk kegunaan apa kampus ini dibangun secara megah? Jika derita rakyat tidak mampu didengar apalagi dibela. Jika tiga orang mahasiswa yang mengkritik kemudian dihardik dengan hukuman? Saya kadang heran mengapa kampus ini jadi bertindak tidak senonoh.

Tahukah kampus ini tentang Bung Tomo. Pria muda radikal yang mengobarkan revolusi Surabaya. Usianya tak lebih 17 tahun. 12 Oktober 1945 ia mendirikan Radio Pemberontakan di Surabaya. Janjinya luar biasa: ‘rambutnya tak akan dipotong sebelum Indonesia merdeka penuh’. Melalui tangan dan ucapanya pertempuran 10 november jadi membara. Karena perjuangan ia dan beberapa kawanya, kampus ITS berdiri di Surabaya. Tommy, Yuli, Benny dan kawan-kawanya hendak meneruskan apa yang dilakukan oleh Bung Tomo. Meneguhkan sikap merdeka dan melawan segala ketidak-adilan. Sangat disayangkan ITS melayangkan surat hukuman pada ketiganya. Bung Tomo dulu berhadapan dengan NICA. Sekutu yang membonceng dan tak ingin Indonesia merdeka. Kini Tomy dan kawan-kawanya berhadapan dengan orang yang berkulit sawo matang. Pribumi. Bangsanya sendiri. Malah diantaranya adalah gurunya.

Sekali lagi, kita tak bisa diam. ITS mustinya diingatkan kembali akan mandatnya. ITS sebaiknya berkaca pada sejarah. Sejarah dimana pendidikan akan selalu bergulat dengan perubahan sosial. Sejarah dimana kampus tempat melatih dan lahirnya seorang pemimpin. Dan pemimpin muncul ketika dihadapkan pada kenyataan sosial yang pahit. Disana terletak dua pilihan: menjadi kekuatan yang berhamba pada modal atau jadi pembela korban. Tommy, Yuli Benny ingin menjadi yang terakhir. Sayang kampus tak melindungi moralitas yang agung ini. Kampus ITS nyatanya lebih memilih untuk menghukum suara keadilan ini. Kita yang ada di dalam maupun di luar tak boleh sekedar prihatin. Waktunya kita menyatakan perlawanan. Saatnya kita menyerukan apa yang dulu dikerjakan oleh Bung Tomo. Nyatakan tidak terhadap setiap pembungkaman nurani. Kepalkan tangan kita untuk menonjok siapapun yang mencoba mengakimi kebenaran. Sekali lagi: kita jangan diam! Di hadapan kebenaran tak ada sikap netral!

32 Tanggapan ke “Titipan Dari Jogja”


  1. 1 calonorangtenarsedunia Oktober 18, 2007 pukul 4:28 pm

    ah..dunno what to say..

    semoga rektor ITS suka buka2 blogmu, Dun..

  2. 2 dr Oktober 18, 2007 pukul 5:02 pm

    cih, sekeras apapun kita berusaha, tapi kalo kebanyakan “pemain” didalemnya (bukan cuman rektorat aja) sifatnya ya sama aja, gimana???

    yang ada cuman sumpah serapah dalam hati…

  3. 3 sibermedik Oktober 18, 2007 pukul 5:11 pm

    wis ta Rek ojo kakena polah pas kuliah..sing penting ndang lulus, dapet penghasilan halal, & bisa jadi orang berguna (Agent Of Chang & Control) bagi masyarakat…

    Idelaitas itu seperti layang-layang,
    lihat arah angin tapi jangan selalu ikut angin…
    Jangan ditarik terlalu keras nanti putus benangnya..
    Jangan dikendurkan terlalu sering nanti lepas…

    Jadi sekali lagi…boleh idealis tapi harus punya strategi untuk meraihnya secara elegan & terhormat..

  4. 4 sibermedik Oktober 18, 2007 pukul 5:21 pm

    kenapa nggak PETIS UNTUK ITS?
    PETIS lebih berguna sebagai pelengkap Tahu Isi, Ote-ote, Tempe Gembes & etc gorengan yg lain ketimbang PETISI…betuull??

  5. 5 mardun Oktober 18, 2007 pukul 5:33 pm

    #calonorangtenarsedunia#
    hmm…. mungkin gak ya?

    #dr#
    jangan dalam hati kep, memicu penyakit degeneratif :P
    kalo pingin nyumpah serapah cari tempat sepi aja terus teriak-teriak sendiri :evil:

    #sibermedik#
    memang, kadang-kadang kita menarik benang terlalu keras. dan kalau sudah terlanjur putus kita trauma sehingga lain kali malah terlalu kendor sehingga lepas :D

    Sepakat sekali, semuanya harus diraih secara elegan dan terhormat. Sesuatu yang diraih dengan cara nggak bener nggak mungkin hasilnya bener :D

    Kalo Petis, wah aku juga mau :D apalagi kalo lengkap sama tahu isi dan kawan-kawannya.

  6. 6 aRuL Oktober 18, 2007 pukul 9:09 pm

    oh iya… waktu itukan saya pesertanya, dan liat mardun wow… hebat…mantap banget pemikirannya…
    hehehe…

    Saya berusaha netral untuk masalah ini, dan saya melihat mas eko belum melihat penuturan dari pihak rektorat ITS.

    Saya sebagai mahasiswa ITS tetap masih menyayangkan kedua belah pihak tidak berkomunikasi secara langsung ketika skorsing itu jatuh.

    untuk pendapat saya seperti yang tercantum di Pernyataan Sikap BEM ITS 2006/2007 di sini
    saya ikut rumuskan.

  7. 7 mardun Oktober 18, 2007 pukul 10:07 pm

    masih menyayangkan kedua belah pihak tidak berkomunikasi secara langsung ketika skorsing itu jatuh

    sama……..ini yang sangat disayangkan. Sejumlah “bapak-bapak” juga sudah menawari mediasi, tapi ditolak dengan sukses.

    tapi nasi sudah menjadi bubur…. dan saya juga tidak mau serta merta mengatakan rektorat yang salah. Jadi sebagai orang yang seharusnya tidak tahu apa-apa, saya hanya mempertanyakan letak keadilannya?

    Kalau memang sama-sama salah, kenapa hanya satu yang dihukum

  8. 8 nRa Oktober 18, 2007 pukul 11:10 pm

    Teruntuk temanku Yuli, Tommy dan Benny…
    Percayalah akan ada balasan untuk mereka dan akan ada hasil untuk kita semua (semoga hasil itu masih bisa kita nikmati).
    Dun… titip salam nang arek2 lek ketemu.

    VIVAT!!!

  9. 9 extremusmilitis Oktober 19, 2007 pukul 1:07 am

    Nyatakan tidak terhadap setiap pembungkaman nurani.

    Akurrrr!!!.

  10. 10 rozenesia Oktober 19, 2007 pukul 2:43 am

    Saya jadi ingat ketika terhipnotis orasi mas Eko pas awal kuliah tempo hari >__<

  11. 11 caplang™ Oktober 19, 2007 pukul 9:55 am

    teruskan perjuanganmu, bro :)

  12. 12 nieznaniez Oktober 19, 2007 pukul 11:16 am

    hmm…kamu bisa berbuat apa, mas ??
    [ini pertanyaan lhoo..itu ada tanda tanya di belakangnya..ehehehee..]

  13. 13 'K, Oktober 19, 2007 pukul 11:18 am

    jadi binun
    kuliah ki mo belajar or mau berpolitik yaa???

  14. 14 syafriadi Oktober 19, 2007 pukul 11:22 am

    udah pasang selebaran untuk promosi blog ini dikampus blm mas?
    klo belom perlu dilakuin tuh :)

  15. 15 calonorangtenarsedunia Oktober 19, 2007 pukul 5:33 pm

    ada titipan dari jakarta: Bubarkan saja ITS!!

    *dilempar granat*

  16. 16 aRuL Oktober 19, 2007 pukul 8:46 pm

    @ hana :: enak aja kampus gue dibubarin…
    tunggu gue lulus doloh.. :P

  17. 17 alex Oktober 19, 2007 pukul 8:50 pm

    @ aRuL
    Nah! Nah! Nah!
    Yang udah pening sama skripsi protes tuh :lol:

    *sodori granat*

  18. 18 hoek Oktober 19, 2007 pukul 9:00 pm

    emang cuma satu kata buad ITS!
    LAWAN!

  19. 19 cakmoki Oktober 19, 2007 pukul 11:55 pm

    Jaman gini masih ada yang seperti ini?
    Supaya Rektor ITS dan kru rektorat jadi gemulai, untuk tahun berikutnya perbanyak terima cewek … piye?
    Trus ajak pak Rektor ngeblog and Kopdar … nraktir juga :P

  20. 20 mardun Oktober 20, 2007 pukul 2:35 am

    *buka ring tinju*
    *masukkan Arul ma Hana*
    *sewa Alex jadi wasit*
    *nonton sambil makan es krim*

    silakan dipimpin partai utamanya Lex :D

    #hoek#
    kamu kok seperti punya dendam sama ITS kawand?

    #cakmoki#
    wah kalo itu setuju banget saya cak. apalagi bagian terima ceweknya itu :P

    tapi memang karena mahasiswa teknik itu keras-keras, jadinya dosennya pada ikut keras juga paling ya? :evil:

  21. 21 mardun Oktober 20, 2007 pukul 2:39 am

    #nra#
    beres zan, kalau ketemu entar tak sampein (kalau ketemu lho)

    #ekstremusmilitis#
    akuuur!!

    #rozenesia#
    memang hebat dia ya :D

    #caplang#
    itu maksudnya buat mereka kan? entar saya sampein deh (kalau ketemu)

    #nieznaniez#
    ya bisa ngepost postingan ini :P

    #’K#
    kayaknya karena banyak dosennya yang suka berpolitik, akhirnya mahasiswanya ikut-ikutan deh :D

    #syafriadi#
    yah enggak lah mas, lha emang saya siapa? :P

  22. 22 Hanna Oktober 20, 2007 pukul 10:03 am

    Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

    Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

    Dituduh subversif dan menganggu keamanan

    Maka hanya ada satu kata: Lawan!

    (Wiji Thukul)

    Hebat sekali kata-katanya.

  23. 23 venus Oktober 20, 2007 pukul 10:16 am

    hwaduh….ga bisa komen. tadi ke sini pengen liat postingan yg lucu2, malah dapet yg serem…huhuhu…

  24. 24 mardun Oktober 20, 2007 pukul 11:15 am

    #Hanna#
    sayang dia meninggal terlalu cepat

    #venus#
    waduh mbok, bukan bermaksud bikin yang serem, dapet titipan soalnya.
    postingan yang sebelum-sebelum ini kan lucu :D

  25. 25 dokterearekcilik Oktober 20, 2007 pukul 8:57 pm

    Emang prinsip <a href=”http://dokterearekcilik.wordpress.com/2007/09/07/harus-tua-baru-boleh-bicara/http://dokterearekcilik.wordpress.com/2007/09/07/harus-tua-baru-boleh-bicara/” title=”Harus tua baru boleh bicara” masih berlangsung dimana mana….yg tua gak mau denger yg muda…..padahal mungkin idenya sama, cuman karena gaya penuturan dan cara mencapainya berbeda sehingga sering gak akur. Yaaa inilah yg mesti dibenahi…… maju terus dun…tapi jangan sampe jatuh di got :)

    Maaf nyoba ngelink tapi kalo salah jangan marah ya…maklum saya kan junior kalo urusan ngeblog :)

  26. 26 Shelling Ford Oktober 20, 2007 pukul 11:32 pm

    di jokja juga ada sebuah univ negeri yang gebleknya luar biasa kok…

  27. 29 mardun Oktober 23, 2007 pukul 10:27 am

    #dokterearekcilik#
    bener pak, terima kasih atas dukungannya ya….. nanti saya sampaikan :)

    #shellingford#
    jangan-jangan memang kodratnya universitas negeri itu gitu semua ya :P

  28. 30 dnial Oktober 23, 2007 pukul 12:05 pm

    Ya kan gampang aja..
    Kalau demo jangan misuh2…
    Jangan ngumpul banyak2…
    Jangan waktu kuliah, ntar ngganggu yang kuliah…
    Jangan waktu jam efektif, ntar yang kerja di gedung terganggu…
    Jangan waktu cawapres dateng…
    Jangan waktu presiden dateng..
    Jangan waktu pejabat dateng…

    Pokoknya jangan bikin malu kampus…
    Masak kampus nggak bisa ngatur mahasiswanya?
    Makanya ada Tata Kehidupan Kampus…
    Habis cerai dari Tommy, si Tata makin aneh2 aja…

    Gampang kan?
    Intinya jangan mengganggu orang lain, ya to?

  29. 31 baskoro Oktober 25, 2007 pukul 7:59 pm

    mestine promosino blogmu neng wong2 iku dun. ben moco. ojo2 mbuka google ae g eruh :grin: .wong mantan dekan kita tercinta + abahmu iku ae g ngerti ipconfig.

    btw kiro2 eruh g yo wong2 kuwi nek ono tulisan2 koyok ngene?

  30. 32 mardun Oktober 25, 2007 pukul 11:10 pm

    #dnial#
    bagaimana kalau aku terganggu hanya dengan keberadaanmu?
    definisi mengganggu sendiri belum jelas kan?

    #baskoro#
    wah gak ngerti bas…. lha kon sing masih di kampus gimana lho?


Tinggalkan Balasan




This Blog Has Been Read

  • 95,886 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

a