Sebenarnya saya agak segan dan begidik waktu menuliskan judul di atas. Namun karena berkali kali dituduh seseorang, jadilah kata-kata “Cintaku” saya gunakan. Sebenarnya cerita ini adalah sambatan seorang teman saya. Tapi karena demikian panjangnya maka saya tokohkan dia menjadi tokoh “Saya”. Jadi “Saya” atau “Aku” dalam cerita ini adalah teman saya. OK! kalau sudah Ok kita mulai ceritanya:
Entah kenapa terkadang memang orang sulit melepaskan diri dari stigma yang sudah terlanjur dipaksakan melekat di dirinya. Seperti cerita sebuah desa dimana terdapat tiga orang yang bernama Sastro. Agar mudah membedakan, warga kemudian memanggil mereka sesuai dengan pekerjaannya.
- Yang pertama dipanggil Sastro Bedak karena berjualan bedak.
- Yang kedua dipanggil Sastro Kayu karena berjualan kayu
- Yangketiga dipanggil Sastro Bebek karena berjualan bebek
Alkisah istri si Sastro Bebek merasa malu, sebab dia selalu dipanggil “Bu Sastro Bebek”. Akhirnya dia memutuskan berjualan kembang. Dengan begitu dia berharap orang-orang akan memanggilnya “Bu Sastro Kembang”. Ternyata begitu dia mulai berjualan kembang keesokan harinya, usahanya langsung membuahkan hasil. Dia segera menjadi pembicaraan ibu-ibu di desa tersebut.
Wah Bu Sastro sekarang jualan kembang lho
Bu Sastro yang mana?
Bu Sastro Bebek
Wakakak, ternyata belum berhasil. Akhirnya dia mencoba berjualan parfum, batik, dll sampai akhirnya dia menyerah dan menerima panggilan “Sastro Bebek” tersebut. Kasihan ya.
Waktu baca cerita ini, saya senyum-senyum sendiri sambil geleng-geleng. Kasihan banget ya bu Sastro itu. Ternyata sangat amat sulit sekali untuk melepaskan sebuah stigma yang sudah terlanjur melekat. Seperti sebuah stigma yang melekat pada diri saya. Padahal saya sama sekali tidak tahu siapa yang mulai melekatkannya pada saya.
Seperti waktu itu, dalam sebuah acara, kebetulan saya bertemu dengan seseorang yang dulu pernah akrab dengan saya. Karena menjaga tali silaturahmi, maka saya menyapanya.
Saya (S): Pak!
Pak Toni (PT, bukan nama sebenarnya): eh dik ****, apa kabar?
S: Baik-baik saja pak
PT: Gimana, sudah lulus?
S: Alhamdulillah sudah pak
PT: Terus sekarang kesibukannya apa?
S: Ya gini deh pak, kerja kecil-kecilan, yang penting cukup.
(Setelah sedikit basa-basi)
PT: Eh dik, kamu nggak pernah “gitu-gitu” lagi?
S: Enggak pak, sudah cukup lah
PT: Lho dik, sekarang itu kalau nggak terjun ke politik praktis sulit lho kita merubah keadaan
S: Ya kan sudah ada sendiri pak yang bagiannya ikut-ikut partai gitu
PT: Iya sih, tapi kan gak ada salahnya kalau kita ikut ambil bagian. Saya aja sekarang terus terang ikut partai. Ini kartu nama saya (memberi kartu nama)
Kemudian saya perhatikan kartu namanya. Masya Allah, ternyata Pak Toni ini sekarang sudah jadi ketua DPC Surabaya partai XXX. Partai besar yang dipimpin oleh sebuah tokoh nasional yang tidak asing lagi. Saya mulai merasakan hawa MLM di sini. Ternyata dugaan saya tidak meleset.
PT: Ayo dik, kamu tidak mau bergabung ta?
S: Ah enggak pak, saya nggak suka politik
PT: Alah, jangan terburu-buru memutuskan deh, ayo kapan-kapan main-main ke kantor cabang sana. Rugi lho kalau nggak ikut
(berbicara tentang visi misi partainya yang konon merupakan pembaruan dari visi lama partai tersebut yang sudah terlanjur jelek)
S: Ya, gampang deh pak. Eh saya permisi dulu ya pak, ada janji
Setelah lolos dari Pak Toni, kupikir saya sudah aman. Itu kan cuma godaan sesaat. Eh nggak taunya waktu saya main-main ke rumah teman saya, sebut saja namanya Irul, hawa MLM kembali terasa. Lagi-lagi partai yang sama, rupanya dia sudah jadi salah satu pengurus DPD Jawa Timur malahan. Selidik punya selidik rupanya dia ikut partai tersebut karena jadi downline bapaknya yang ternyata adalah tangan kanan si ketua partai. Dan seperti biasa aku menghindar. Sebenarnya alasanku sederhana saja
Aku Benci Politik, Titik
Nah, beberapa waktu yang lalu tanpa sengaja aku ketemu lagi sama Pak Toni. Aku sudah berusaha menghindar, tapi terlambat. Lagi-lagi dia mulai melancarkan jurus-jurusnya.
PT: Lho dek ****, ayo gimana? katanya mau main-main ke kantor cabang (Kapan aku pernah bilang iya?)
S: eeeeee……… ya masih belum sempat pak.
Dan aku pun kembali menghindar. Aman, pikirku. Akhirnya ada dua nama yang kuhindari mati-matian sampai sekarang. Di sela-sela pekerjaanku (karena pekerjaan kecil-kecilan maka waktu luangnya banyak
) aku lebih suka bermain dengan teman-teman lamaku yang kuanggap jelas-jelas tidak suka politik. Nah suatu malam Yanto, teman lamaku mengajak aku main-main ke rumah Mas Edi.
Waktu sampai di rumahnya, aku melihat sesosok wajah yang tidak asing lagi. Wajah yang kerap menghiasi poster-poster kampanye calon gubernur dari partai YYY. “Mati aku,” pikirku. Dan benar saja, ternyata tidak lama kemudian, wajah-wajah lain yang tidak kukenal bermunculan. Baru setelah berkenalan aku mulai sadar kalau nama-nama mereka sering dibicarakan oleh para aktivis-aktivis mahasiswa di beberapa kampus. Dan ternyata rapat tersebut sedang merancang cara-cara untuk mempropagandakan si bakal calon gubernur ini dengan cara yang tidak vulgar.
Akhirnya setelah ngalor ngidul dan bicara tentang wacana-wacana politik yang aku nggak mudeng blas maksudnya apa, mereka memutuskan untuk menggelar sebuah acara dengan menjadikan si bakal calon ini sebagai pembicara. Agar lebih tidak kentara, seorang pembicara lain diupayakan untuk ikut dalam seminar itu. Tugas segera dibagi, untungnya aku tidak kebagian apa-apa. Akhirnya aku bisa pulang dengan selamat.
Arrgh, heran….. kutukan apa ini? kenapa ya aku sulit sekali melepaskan diri dari dunia gila itu. Padahal aku nggak pernah mudeng (baca paham) dengan yang mereka omongin. Kutukan apa sih ini?. Dan kenapa orang-orang dekatku yang biasa bermain bersama kok malah pada tergoda sama dunia gila itu. Huh…….. ampun deh. Mending kalo aku bisa nyambung dan urun pendapat dengan jelas.
Udah jelas-jelas aku nggak ngerti dan selalu menghindar kalau diajak bergabung, kenapa sih diajaki terus? Nggak ada orang lain apa?
Aku benci Politik! Benci! Benci! Benci!
Dasar orang-orang aneh!








satu
curhat mas ??
ahahahaaaaaaaaa…
knapa ga kaya bu sastro bebek itu aja ?? nrimo..
ahahhaaaaa…
hetrikkk !!!
ah ya…lagi-lagi cap stemfel itu, kasian sekali temanmu kawand? teman..atau emang kamuh?
Wakakaka!
Emang lingkarannya kayak gitu…
Coba temen2mu bisnismen, paling yang kesana nyari investor, kesini nyari manajer, kesana lagi nyari pengusaha.
Lha konco2mu akeh2e aktipis. Biasane aktipis kan terjun ke politik.
#nieznaniez#
Entar tak sampein deh
#hoek#
itu temanku kalee
#dnial#
Kamu sama hoek berkomplot menuduh aku ya?
politik memang kedjam!!
bukannya politik itu indah??
caramudah menjadi yg paling benar dan eksis
cieeeeeeeee……….
laris nih ye?
oo…. Politik juga pake cara MLM tah?
kisah hidup sendiri nih
*ngakak guling-guling
cintaku membenci politik?
kamu benci politik ya, cintaku?
*bikin gosip baru*
#caplang#
Betullll!!!!
#K#
Mudah buat yang duitnya banyak kaleeee
#Imil#
wong itu bukan saya kok
makanya baca dulu yang bener
#Arul#
Kan sudah tak jelaskan waktu kopdar
#nieznaniez#
*gelundungin sekalian*
#Almascatie#
aduh, gimana ya? soalnya aku bikin judulnya itu agak dalam tekanan sih *lirik ke yang menekan*
#calonorangtenarsedunia#
Tentu dong sayang, emang kamu suka?
aku sih ga begitu suka.tapi mau lepas juga kok sulit ya, sayang?
*kesambet*
weleh……. aktivis nih ceritanya say? cocok dong kamu sama Arul
ahahhaaaa…emang siapa ya yang menekan ??
*kura-kura dalam perahu
sedekah komen di bulan puasa…
#mardun# :: tulis komentku pas sebelum kopdar.. hehehe…
ini lagi berguru sama Arul..
bagus-bagus… kamu berguru ke orang yang tepat
aku kan jg mau berguru sm km..
# calonorangtenarsedunia
iyah, mas mardun ahlinya.
selamat belajar, mba.
*kabuuuuuuurr sebelum ditimpuk monitor sama mas mardun