Arsip untuk Oktober, 2007
Diproteksi: Hattrick PLN
Diterbitkan Oktober 31, 2007 Experiences , Suara Hati Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentarSuara Penjaga Kebun Binatang
Diterbitkan Oktober 24, 2007 Features , Story and Motivation , Suara Hati 30 CommentsKenalkan, aku seorang penjaga kebun binatang. Sebut saja namaku Donald, mirip seorang tokoh kartun kan? tapi entah kenapa aku jadi sangat terbiasa dengan panggilan itu. Aku bekerja di sebuah kebun binatang. Kebun binatang tempatku bekerja tidak semegah kebun binatang Ragunan ataupun Taman Safari. Meskipun begitu, bagiku kebun binatang tersebut sangat berarti. Karena meskipun tidak semua orang tahu, sebenarnya kebun binatang itu milikku. Lanjutkan membaca ‘Suara Penjaga Kebun Binatang’
Jadi ingat, waktu lebaran kemarin aku terlibat diskusi serius dengan masku. Ceritanya waktu itu kita sekeluarga mau sowan ke mertuanya mbakku. Karena tempatnya cukup di pelosok (nggak jauh sih sebenarnya) Mojokerto, maka kita naik mobil. Sebuah mobil Toyota Kijang kotak tahun 199* kita naiki ber-8. Karena kursi di depan setir sudah dibooking sang kepala keluarga yang ngotot nyetir (padahal aku dan masku sudah menawarkan diri), maka otomatis kursi sebelahnya ditempati ibuku tercinta.
Kursi di tengah ditempati oleh si empunya hajat, mbakku dan suaminya beserta satu orang saudara cewek. Jadinya aku, masku, dan istrinya harus rela berdesak-desakan di belakang. Bagaimana tidak, lha wong kita semua itu orang-orang besar (tinggi, bukan gendut). Belum lagi kita harus bersaing berebut tempat dengan ban serep dan beberapa barang. Itu semua masih ditambah dengan penderitaan kita yang kesasar. Jadi kita berangkat jam 12 siang, baru sampai rumah lagi jam 22.00. Nah, daripada ngomel dan menggerutu tidak karuan, akhirnya kita yang berada di garis belakang memutuskan untuk ngobrol. Yang berawal dari bercanda akhirnya jadi serius dan berakhir ke bercanda lagi. Berdiskusi tentang bahasa
Kemarin waktu buka email, tiba-tiba mataku tertumbuk pada satu email yang menarik. Ternyata email itu adalah petisi dari Mas Eko Prasetyo. Seorang penulis terkenal dari Jogjakarta. Saya pertama kali tahu tentang beliau sewaktu membaca karyanya Sekolah Itu Candu. Kemudian disusul dengan karyanya yang makin ganas, Orang Miskin Dilarang Sekolah. Selain itu karya-karyanya yang lain tentang pendidikan juga sangat menohok dan pahit, meskipun benar.
Kesempatan bertemu pertama kali saya dapatkan tahun 2004 lalu. Waktu itu saya diundang oleh BEM ITS untuk memberikan materi tentang wacana kampus menuju Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang sekarang beralih lagi menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP).
Aku (A): Siapa pembicara satunya?
Kurir (K): Mas Eko Prasetyo
A: Haaaaahh? (shock sesaat)
K: Kenapa mas? tau mas Eko kan?
A: iya iya, tahu
Mampus aku, dipanelkan sama salah satu penulis idolaku? rasanya lemas seketika. Dan benar saja, saat hari H beliaunya tampil dengan sangat memukau. Akhirnya saya hanya bisa berusaha sebisa mungkin untuk mengimbangi (dan acara tersebut dimasukkan dalam salah satu bukunya lho
). Sempat berdiskusi beberapa saat setelah acara, ternyata beliau ini orangnya asyik banget.
Setelah itu kita juga sempat bertemu beberapa kali dalam beberapa acara. Beliau ini sangat dekat dengan Yuliani, salah satu temanku yang dihajar oleh kejamnya birokrasi kampus dengan skorsing 2 semester. Nah, ternyata setelah sekian lama kasus ini berjalan, beliau angkat suara juga. Berikut ini adalah Petisi dari beliau yang mengutuk kejamnya birokrasi kampus ITS (uncensored). Bagaimana menurut anda? Silahkan Dibaca
Pay It Forward
Diterbitkan Oktober 15, 2007 Education , Features , Suara Hati 37 CommentsTags: Blog Action Day
Bencana erosi selalu datang menghantui
Tanah kering kerontang banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia
Itu adalah sepenggal lirik lagu dari bang Virgiawan Listianto alias Iwan Fals. Lagu yang sudah meluncur sejak tahun 1982 (katanya lho ya, saya belum lahir soalnya) itu ternyata masih laku (baca cocok) sekarang. Ya, ini memang posting yang saya buat dalam rangka konsekuensi memasang Banner Blog Action Day di sidebar saya
.
Lingkungan, sejauh mata memandang, sejauh mouse meng-klik, dan sejauh telinga mendengar tidak ada yang bagus-bagus dari Lingkungan. Yang disana teriak global warming, yang di nggak kalah sananya teriak-teriak soal Overpopulation. Sementara di Sini juga nggak kalah ramainya. Di sini sebelah sana teriak-teriak soal Perusahaan bajingan yang mencemari lingkungan dan menyebarkan penyakit, di sini sebelah situ teriak-teriak soal penjarahan hutan untuk kepentingan perusahaan asing perampok sumber daya alam. So what gitu loh
Hari Suci dengan Orang Gila
Diterbitkan Oktober 13, 2007 Experiences , Story and Motivation 23 CommentsIdul Fitri, hari suci (kata guru agama
) yang ramai-ramai dirayakan orang-orang. Nah seperti biasa, ritual yang paling banyak dilakukan adalah sholat Ied di pagi-pagi buta. Meskipun hanya tidur sebentar karena balas dendam (kapan lagi bersenang-senang sampai pagi karena libur
) tapi toh saya berangkat juga. Karena lokasi lapangan Masjid buat sholat Ied-nya persis di depan rumah, maka kami sekeluarga berangkat dengan jalan kaki.
Setelah sholat selesai, maka ritual berikutnya untuk yang harus diikuti adalah mendengarkan khotbah. Meskipun khotbahnya penuh dengan hujatan sepihak mengenai perbedaan penetapan hari raya, namun saya maklum saja sebab dia adalah pengikut salah satu ormas
. Nah setelah selesai, kita pulang ke rumah. Setelah minal-minul sekeluarga, kami semua menunggu sang kepala keluarga pulang. Apa yang dibawa ayah saya?
Kepada pak Muh. Maftuh Basyuni SH yang sangat saya hormati. saya hanya ingin menyampaikan apresiasi saya yang sebesar-besarnya. Semenjak saya bisa menonton televisi sampai sekarang ini, baru kali ini departemen agama mengeluarkan keputusan yang luar biasa. Anda tetap menghargai Muhammadiyah yang lebaran tanggal 12 Oktober, namun tetap meminta mereka menghargai muslim lain yang lebaran 13 Oktober. Suatu terobosan kebijakan yang sangat bagus pak. Meskipun saya sama sekali bukan ahli agama apalagi termasuk golongan PPT (Para Pengaku Tuhan), namun saya yakin anda jauh lebih paham hukumnya. Yang sabar ya pak, mungkin memang bangsa kita yang majemuk ini masih sulit menerima terobosan yang tidak ada di kitab “Hall of Fame” mereka.
Oh iya, bersama dengan surat ini saya juga mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1428 Hijriyah. Saya dan sebagian teman lainnya memilih untuk jadi antek-antek pemerintah dan ikut lebaran bersama pemerintah
. Dan meskipun saya selalu minta maaf setelah berbuat kesalahan, namun ada kalanya saya pura-pura lupa kalau bikin salah
. Jadi saya juga mengucapkan permohonan maaf lahir dan batin, maafkan saya ya kalau pernah bikin kesalahan
Dengan segala Hormat………
Masih Rakyat Indonesia, bukan Malaysh**t
Mardun
Politik Tingkat Tinggi
Diterbitkan Oktober 7, 2007 Experiences , Features , Story and Motivation , Suara Hati 38 CommentsPertama-tama saya menghaturkan salut yang teramat dalam kepada mereka yang berdomisili di Ibukota. Jadi ingat filmnya (alm) Ateng, “Sekejam-kejamnya Ibu Tiri Masih Lebih Kejam Ibu Kota”. Jakarta memang kota yang sangat kejam, terutama kepada para pendatang yang Cupu seperti saya. Lha wong semua permasalahannya jauh lebih kompleks daripada Surabaya. Apa yang ada di Surabaya biasanya ada di Jakarta dengan intensitas yang lebih tinggi (pedagang asongan, pasar maling, dll)
.
Inilah sebabnya banyak sekali orang dari kantor saya ataupun kantor lain di bidang yang sama dikirim ke Jakarta untuk “diasah”. Waktu pengasahannya juga bervariasi antara 1-2 tahun. Sekembalinya dari kawah candradimuka tersebut mereka akan segera mendapatkan lonjakan pangkat mendadak (tentunya diiringi kenaikan gaji
). Saya sih percaya saja, lha wong pengemis di sana saja bisa bermain politik, apalagi politikusnya. Politik Ala Pengemis
Hari ini saya bekerja dengan semangat berlebih. Tidak bermalas-malasan santai seperti biasanya. Karena berdasarkan informasi dari vendy, yang konon didapatnya dari Arul, si Gadis kecil nan sadis ini mengajak kawan-kawan blogger Surabaya untuk melakukan Kopdar. Tempat yang dipilih adalah Obonk Steak pukul 20.00 WIB, karena Siwi mau nraktir merayakan BEP Warnetnya.
OK, segera bersiap-siap. Sampe kantor pukul 16.15 langsung mengetik berita. 16.30 berita selesai, langsung cabut ke kantor satunya untuk ber-oemar bakrie-ria jam 17.00 WIB. Jam pertama selesai pukul 18.00 saya segera kembali ke kantor. Dua berita lagi selesai diketik pukul 18.45, langsung cabut lagi ke kantor satunya untuk kembali ngoemar Bakrie jam 19.00. 19.45 langsung cabut ke lokasi yang sudah disepakati. Kopdaaar!!
Sebenarnya saya agak segan dan begidik waktu menuliskan judul di atas. Namun karena berkali kali dituduh seseorang, jadilah kata-kata “Cintaku” saya gunakan. Sebenarnya cerita ini adalah sambatan seorang teman saya. Tapi karena demikian panjangnya maka saya tokohkan dia menjadi tokoh “Saya”. Jadi “Saya” atau “Aku” dalam cerita ini adalah teman saya. OK! kalau sudah Ok kita mulai ceritanya:
Entah kenapa terkadang memang orang sulit melepaskan diri dari stigma yang sudah terlanjur dipaksakan melekat di dirinya. Seperti cerita sebuah desa dimana terdapat tiga orang yang bernama Sastro. Agar mudah membedakan, warga kemudian memanggil mereka sesuai dengan pekerjaannya.
- Yang pertama dipanggil Sastro Bedak karena berjualan bedak.
- Yang kedua dipanggil Sastro Kayu karena berjualan kayu
- Yangketiga dipanggil Sastro Bebek karena berjualan bebek
Alkisah istri si Sastro Bebek merasa malu, sebab dia selalu dipanggil “Bu Sastro Bebek”. Akhirnya dia memutuskan berjualan kembang. Dengan begitu dia berharap orang-orang akan memanggilnya “Bu Sastro Kembang”. Ternyata begitu dia mulai berjualan kembang keesokan harinya, usahanya langsung membuahkan hasil. Dia segera menjadi pembicaraan ibu-ibu di desa tersebut. Gimana hasilnya?








Yang Baru Komen