Akhirnya setelah sekian lama aku punya cukup banyak waktu untuk menuliskan dialog ini. Kalau kamu baca, anggap aja ini kenang-kenangan kebersamaan kita dulu
(emang kita pernah bersama-sama ya?). Cerita ini semi fiktif belaka, sebab nama tokoh demi kepentingan segelintir orang terpaksa disamarkan. Jadilah cerita ini dimulai………. alkisah setahun yang lalu di sebuah kampus tempat:
Waktu itu waktu sudah menunjukkan pukul 23.30, tapi waktu sebenarnya pasti belum segitu. Wajar saja, jam yang kita pakai sebagai patokan itu kan kecepeten. Tapi kita tidak pernah tahu kecepeten berapa menit karena tidak tahu siapa yang nyepetin. Lagipula nyepetin jam akan kehilangan esensinya kalau kita tahu jam itu lebih cepat berapa menit kan?
Kamu dengan santainya berjalan keluar dari musholla itu. Ya, musholla angker (kalau sepi) yang hampir tidak pernah kamu (kita ding) sholati itu (Tapi entah kenapa akhir-akhir ini kita sering mampir ke sana). dengan rambut yang masih basah air wudhu itu kamu duduk di depanku bersandar ke pangkal tangga batu. Dalam posisi berhadap-hadapan itulah kamu mulai membuka percakapan yang aku tidak ingat kapan kita terakhir bicara seperti itu.
Friza (F), bukan nama sebenarnya: Yaopo dun? (Sambil menyulut rokok GG Inter)
Mardun (M): Apane sing yaopo?
F: Yo iki, kene kan mari iki wisuda
M: Trus opo’o?
F: Lah, deloken ta arek2 kuwi. Mosok kon kate ninggal ngono ae?
M: Emange aku iso opo Friz? kon lak ngerti dewe to? betapa dalamnya bekas luka yang sudah ditancapkan?
F: Lha justru itu, kamu mau lari begitu saja setelah diskors? kon sadar nggak nek kon iku wes nggeret wong 14, eh sori wong 10 sih, soale sing papat wis berkhianat
(Tertawa terbahak-bahak (ROFL) berdua)
M: Leh, tapi atas dasar opo kon nuduh aku sebagai biang kerok?
F: Lah kon iku gak sadar ta? cuma gara-gara mbelani kowe si Perek Telu iku sampek nyekors arek 14.
M: Gak mungkin lah, gak mungkin de’e segoblok iku, emange aku sopo? (Teringat kata-katanya mas Aufa, memangnya kita ini siapa? gak boleh Geer)
M: Sudahlah, toh kamu sendiri kan yang bilang kalau zaman sudah berubah. Kamu sendiri kan yang sering menyitir ayat Kahlil Gibran itu? Kamu sendiri kan yang selalu menyuruh aku cepat lulus dan meninggalkan tempat ini?
F: Iyo sih, tapi rasane eman ae nek kudu ninggalno kampus ini. Opomaneh nek nontok kelakuane Pak Arif
M: (LOL) ya wislah Friz, kita kan nggak pernah tahu apa yang akan terjadi. Siapa tahu dia nanti malah jadi rektor. Gak ada bahan pembicaraan lain ta selain ini?
F: Wah, sejak kapan kamu jadi kayak anak masjid gitu? Masa depan itu harus dirancang Dun…. nggak bisa kamu biarkan mengalir begitu saja. Karl Marx saja merancang masa depan sampai ke detil yang rinci. Masa kamu nyerah gitu aja
M: Aduuh, ngomongno kene’an maneh, ganti topik poo……. aku lagi males eker-ekeran soal Marx, Hegel, Hasan Albana, utawa liyane. Toh “mereka” gak bakalan gelem ngerti
F: Alah, pengertian iku kan cuma masalah waktu. Tapi yo wislah…. (Menyulut rokok lagi)
M: (Mengalihkan pembicaraan) yaopo rencanamu mari iki?
F: Yo jelas golek kerjo lah……..
M: Wis onok rencana?
F: Paling aku budal nang Jakarta, nang kono wis onok sing nawari
M: Bukan itu maksudku jeeeh…. maksudku kapan nikah?
F: bah….. iki topik sing gak tak senengi. gak ono bahasan liyo tah?
M: Gak, cuma pengen ngerti ae yaopo rencanamu karo de’e
F: Wis ngene ae lah Dun, terus terang aku durung ngerti….
M: Lho….
F: Iyo Lah, kon kan ngerti, kene wis kenal 5 tahun lebih. Kon ngerti kan bagaimana orang-orang seperti kita ini dipandang?
M: Kita? lha lapo aku digowo-gowo
F: Terserahlah nek kon gak gelem ngakoni. Tapi kamu lihat kan, selama kita di sini? Berapa orang sih yang berani mengakui keberadaan kita? berapa orang sih yang berani terlihat berteman sama kita?
M: Alah, mulai berlebihan deh (meringis)
F: Yo tapi kenyataannya begitu kan? sulit sekali melakukan sesuatu tanpa mereka mencurigai terlebih dahulu. Bahkan aku sholat nang musholla ae langsung akeh sing rasan-rasan. Aku nyedeki arek wedok dituduh golek prospek.
M: (LOL) ya jelas, wong awakmu ora tau ketok sholat nang kono. Masio aku yo gak tau nek gak kepekso. Timbangane menyulut gegeran maneh gara-gara sholat nang kono (ketawa).
F: Nah intine gitu lah, bahkan sholat pun aku gak ono konco. Bahkan mahasiswa yang katanya intelektual saja masih melihat kita (karena aku kelihatan mau protes) yo wis, bukan kita, aku dengan cara yang sedemikian picik. Nek wis ngono terus orang tua mana yang mau merelakan anak gadisnya gawe aku?
M: Wah, aku gak ngerti ne ngono jeeh. Emang kon ndelok aku wis duwe pacar ta?
F: Yo enggak, tapi paling gak kan wes ono beberapa cewek sing khilaf wis tau dadi mantanmu? sampek sing luwih tuek ae gelem (meringis menyebalkan)
M: Ta** maksudmu opo? de’e wis rabi saiki, ojo dirasani maneh poo
F: Guyon Dun, guyon… (tetap tersenyum menyebalkan)
M: Yah, nek soal iku aku gak komentar lah. Tapi sing jelas, dengan kapasitas koyok kon, wong tuone sopo sih sing gak gelem (balas senyum menyebalkan)
F: Maksudmu?
M: Ya jelas, wajahmu lumayan gak jelek, pengetahuanmu sangat luas terutama soal agama. Belum lagi perangaimu yang tidak pernah pilih-pilih teman. Kalau menurutku sih orang tua walaupun lebih kurang berpendidikan, tapi pasti lebih bijaksana. Gak seperti orang-orang picik itu.
F: kon muji ta ngenyek?
M: Leh, jarang-jarang aku muji wong iki. Lagian sekarang kan cuma ada kita bertujuh (Aku, kamu, dua malaikat kita masing-masing, dan Tuhan), gawe opo aku mbujuki?
F: iyo, iyo, ngono ae ngamuk (menyulut rokok lagi). Tapi tak pikir-pikir pancen awak dewe kudu mulai mikir nggolek bojo. Kon gak pingin rabi ta?
M: pingin sih jelas, tapi gak saiki. Mosok anak bojoku tak pakani semir? golek kerjo disik lah
F: Tapi nek kon engko wis kerjo malah angel lho golek bojo, soale aku ngerti tipikalmu. Kon pasti gak bakal sempat golek bojo.
M: Yo nek gak sempat golek kan iso tuku (Meringis)
F: Awas kualat lho kon (melihat bungkus rokoknya), waduh rokokku entek, metu sik yuk golek rokok. Kapan-kapan ae disambung maneh……
Sekarang sudah tepat setahun berlalu sejak itu. Ternyata undangan nikahmu tak kunjung datang juga Friz, kapok kon, kualat!!. Tapi aku tetap kagum sama kamu, untung waktu itu kita dipertemukan (alalah). Gara-gara ketemu kamu aku jadi sadar kalau ternyata masih ada yang lebih parah dan lebih sial daripada aku. Tapi kamu bisa menghadapi semuanya dengan lebih arif dan bijaksana (bukan DJunaedy
). Walaupun kamu tidak mungkin baca karena kamu tidak suka ngeblog, tapi ketahuilah sobat….. I Miss U (Dan jangan paksa aku mengulanginya lagi….. isin peeek
). Dan satu lagi, aku benci gara-gara ramalanmu benar!!!!








*karena sudah diwarning sama empunya blog, dengan sangat terpaksa saya akan menggunakan bahasa suroboyoan juga*
hmmmm… mengenang masa lalu cacak iki. Ketoke nang panggon anyar terlalu tenang. Gak koyok nang kampuse awak dewe, masiyo soko njobo ketok rukun, tentrem. Tapi nang njero podo kaplok-kaplokan, suduk-sudukan
1
2
aaaaahh, keduluaaaaaannn…
asem tenan….
tapi ra popo…
hetrik !!
selamat mencari potongan tulang rusukmu, mas.
dia menanti di sana.
hehehe,serasa midnight in kenjeran 3 years ago
#siawhietji#
Enak ae, saya cinta damai, ngapain rindu huru-hara
cuma heran, ternyata setelah satu tahun masih belum ada yang berubah
katanya IT itu perubahannya setiap detik
#Nieznaniez#
Amiiiiiin
#K#
Ehhhm…… kayaknya menarik deh
ditulis enggak Jendral?
si Arif Djunaidy nya kok ga dikasi link websitenya aja, biar para audiens kagum (huek) sama kumis tebalnya itu…
AMPPPOOONN…NDAK MUDENK SAIA BOSO KEK NGONO…
*masi ublek-ublek nyari kamus boso daerah…*
#dr#
Aku nggak tau link-nya kep, kamu mau berbaik hati masangin?
#hoek#
Yaah…. masak nggak tau, kan bisa dikira-kira dari kaluimatnya. Masih sama-sama di Jawa kok
demi:
1. melindungi identitas user
2. demi menjaga sang pemosting dari fitnah kejam yang bisa mengakibatkan skorsing dengan alasan sak karepe dewe dari PR 1 yang gemesin
3. kebaikan saya sendiri :p
4. setelah melihat postingan dari sodara rahmat yang sudah dihapus (mungkin karena SARA atau diintimidasi, saya tidak tahu), dan juga postingan-postingan dan komentar-komentar sodara mardun tentang ex Dekan FTIF ITS ini,
maka saya tidak mencantumkan ID saya yang sesungguhnya.
kenapa? soalnya saya ingin memberikan link tentang siapa PR1 ITS yang tercinta saat ini (huek byor).
berikut linknya (beserta kumisnya):
Arif Djunaidy
Ramalan yang mana?
Ramalan kamu bakal susah nyari jodoh?