Bagi yang berlangganan koran Jawa Pos tentu melihat kalau sejak sebulan terakhir ini selalu ada tulisan bersambung di halaman pertama. Kelihatannya sih memang wajar saja kalau sebagai seorang CEO beliau berbagi cerita tentang pengalamannya melakukan transplantasi liver. Sama seperti Surya Paloh yang selalu didukung dengan jajaran Metro TV-nya.
Tapi membaca tulisan-tulisan pak Dahlan Iskan yang terakhir saya baca sudah mencapai episode 25, saya jadi semakin yakin kalau ini bukan sekedar berbagai pengalaman biasa. Saya yakin, seandainya beliau bukan CEO Jawa Pos sekalipun tulisannya pasti tetap dimuat karena sangat sarat muatan.
Memang dalam beberapa episode pertama beliau masih menceritakan pengalamannya seputar melakukan transplantasi liver. Saya sempat penasaran, seseru-serunya sebuah pengalaman melakukan transplantasi liver, tidak mungkin bisa ditulis sampai 25 episode. Apalagi kalau itu ditulis dengan gaya jurnalistik yang notabene tidak bertele-tele seperti sinetron Indonesia. Ternyata dugaan saya benar, tulisan pak Dahlan makin lama makin sarat muatan. Makin lama semakin banyak kritik tajam nan halus yang beliau lontarkan melalui “berbagai pengalaman”-nya.
Contohnya pada episode 19, ketika dia secara tidak langsung mengatakan bahwa sebetulnya teknologi medis di Singapura itu kuno dan tidak sebesar namanya. Beliau meminjam mulut seorang dokter spesialis dari cina yang telah terbukti berhasil memperpanjang nyawanya. Tidak berhenti sampai di sana, pada episode selanjutnya beliau kembali mengkritik dedikasi para dokter di Indonesia. Terlihat dalam tulisannya yang memuji Prof Shao (Dokter yang memotong limfanya).
“Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak pulang”, kata saya dalam hati
sebuah kritik yang sangat jelas melihat betapa muramnya dunia kedokteran kita saat ini. Tentunya tidak menafikkan kemajuan yang berhasil dibuat oleh para dokter kita. Seperti Rumah Sakit Husada Utama yang pada 4 September lalu sukses mengoperasi pasien penderita Ventrical Septal Defect (VSD) langka (Sekat bilik jantungnya bolong di bagian bawah).
Tidak berhenti di sana, episode 25 yang baru saya baca justru lebih bikin geleng-geleng kepala lagi. Kritik sangat pedas dilontarkan kepada para pemuka agama yang suka menebar ancaman ala sinetron “Adzab Ilahi”. Betapa beliau mengecam orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang mati dengan muka menghitam (yang jadi contoh kebetulan Nurcholish Madjid) itu dilaknat Tuhan. Padahal menghitamnya muka itu dikarenakan penyakit Sirosis yang dideritanya.
Pasti si pengkotbah tidak pernah melihat mayat Mao Zedong. Mao adalah pendiri partai komunis yang tentu tidak mengakui adanya Tuhan. Namun bagaimana wujud mayatnya? Wajahnya putih bersih dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya.
Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme di sedunia, terlihat putih, bersih dan manis sekali.
Apakah itu pertanda roh lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan?
Yang jelas Lenin, dan juga Mao tidak meninggal karena Sirosis
saya dan kakak saya tertawa terpingkal-pingkal membaca tulisan ini. Sebuah sindiran yang sangat berapi-api dan ditutup dengan satu kalimat yang sangat nyegeki (bikin cegek). Belum lagi tulisan lanjutannya yang (kalau menurut tulisannya lho ya, isi hati siapa yang tahu
) semakin membahas masalah-masalah sosial yang sebetulnya sudah tidak lagi ada hubungannya dengan transplantasi liver.
Saya tidak bermaksud apa-apa, cuma heran aja kok masih ada orang seperti ini. Orang yang saat nyawanya di ujung tanduk tapi masih sempat memikirkan hal lain. Bahkan sempat menuangkan semuanya ke dalam tulisan. Kira-kira motifnya beliau ini apa ya?








Mungkin sebagai dokumentasi pencarian, untuk ditunjukan ke keluarganya jika misalnya operasinya gagal, mereka bisa melihat sosoknya sebelum meninggal.
btw, salut juga untuk pemilik blog yang bisa melakukan promosi koran sambil lalu
lha wong dia nulisnya setelah operasi kok. Jadi kalau operasinya gagal ya nggak sempat nulis kan?
Saya yakin, seandainya beliau bukan CEO Jawa Pos sekalipun tulisannya pasti tetap dimuat karena sangat sarat muatan.
dari awal saya juga berfikir demikian..
Saya sebenarnya ngak mau terlalu baca takutnya terbawa alur (padahal tiap hari bacaaanku jawa pos). Sampe mengkultuskan dia.
Yah pandai2 aja melihat keadaan dan bacaan…
motifnya ya cari ketenaran to. kok susah.
ahahahaaaaaaaaaaa…
#Arul#
Tul…..
#nieznaniez#
cari ketenaran? iya kalo udah sehat….. lha kalo belum jelas mati apa hidup masa masih butuh ketenaran?
ingin jadi kritikus…klo mati dikenang banyak orang
aku sih lebih menaruh hormat pada orang macam beliau. meskipun tulisan-tulisannya bukan tulisan ilmiah tapi berbobot, berbanding lurus dengan orangnya yang bijak dan lurus. daripada orang-orang yang berpendidikan tinggi, tapi pikirannya picik dan culas, akhirnya seringkali berbuat memalukan dan merendahkan diri sendiri dan istitusinya (hmmm. jadi inget satu nama).
sori OOT, disudahi aja, takut diskorsing ntar, ups…
anu…. paling selain motif2 diatas….
asline Pak Dahlan Iskan pengen nge-blog juga..
lha berhubung dia g punya account di wordpress.com melainkan hanya punya perusahaan koran Jawa Pos, y udah dia nulis di headline-nya JP aja..
PS:Leh.. punya koran kok “hanya”?
Iya tuh, kalo di beliau ngeblog keknya seru.
#xwoman#
padahal dengan popularitasnya sekarang harusnya beliau itu jadi sasaran kritik ya
#siawhietji#
Ehhm…. jangan
lupasebut nama#imil#
Jangan-jangan habis ini ada Blog JPNN (Jawa Pos News Network)
#danalingga#
wah, bisa nyaingi
Guhprasetalmarhum Wadehel tuhheh?? berarti tulisan ini kayaknya ga hanya dimuat di Jawa Pos doang tapi diseluruh anak koran jawapos..
di Ambon post-nya pak dahlan di blog-nya dia ada jga iks
btw.. emang orang luar biassaaa padahal pertamax sayah ga suka cara beliau memimpin perusahaan itu.. namun sampe skarang rasa itu masih ada
wuw…keren aja tuh tulisannya pak dahlan, huyemmm..huyem..
apalagi soal sirosis, saia juga ikot LOL (<– maksa pake kosakata yang baru tau) sangadh tuh, hohoho
salam knal ya kawand!
makasi suda sudi mamfir ke blogna saia!
#almacastie#
Jelas dong, kalo bosnya (jawa pos) muat, masa anak buah (Ambon pos) nggak
btw pak dahlan punya blog? dimana? boleh tau alamatnya?
#hoek#

salam kenal juga
sudi-sudi mampir juga ya….
Kalau aku ma kakakku mah bacanya sampai ROFL (Rolling On the Floor Laughing)
tapi ada baiknya juga ada tulisan smacam itu,,kita jadi lbh banyak tau n kalopun ada buruknya ya dibuang aja. ambil yg baik2nya aja
sperti yg sirosis itukan mencerahkan kita
Dia jadi nyalon gubernur g sih?
Kayaknya menarik untuk disimak kampanyenya… Mesikpun kemungkinan menang kecil, tapi kampanyenya pasti penuh ide
(Pramoedya Ananta Toer)
#K#
sirosis mencerahkan? perasaan bikin muka jadi gelap deh
#Dnial#
nggak jadi, udah terlalu tua
#peyek#
wah, betul juga ya
Benar, memang luar biasa. Kalau diterbitkan dalam bentuk buku, kami mungkin berminat membelinya.
loh memang mau dijadikan buku. Makanya dia sengaja nggak ngasih foto dalam tulisannya
nanti fotonya dimasukkan dalam bukunya biar orang yang sudah kadung baca tulisannya penasaran dan beli
memang taktik dagang yang jenius sempat-sempatnya
*geleng-geleng kepala*
tapi… sebagai figur bapak dalam keluarga, kamu kok kasi komen?
Dia mau mati dan mungkn itu kado sebelum mati
kirain ini ngomongin aku…
*kaboooorrr*
ee, tapi aku juga suka sama tulisan2 beliau loh…

#dr#
Maksudnya kok gak kasih komen tentang beliau sebagai figur bapak?
ehm….. no comment deh
#Buchin#
Waduh, ndoain orang mati kamu Chin
#siwi#
Untung selera tulisannya bagus 
Masya Allah, udah sadis, narsis pula ternyata
iya dun… tulisannya emang bagus2
dengan sedikit egonya yang pro ke China daripada Amerika…
tulisannya menjadi enak dibaca.
salam mampir
sepakad… ganyang Amerika!!!
ini ngomongin aku ya?
saya suka dengan buku Mr. Dahlan Iskan karena dapat pengetahuan baru mengenai liver or hati.