Pelacuran Itu Sah Kan Bung?

Tiap tahun kalau menjelang puasa selalu ada topik yang sama di media massa. Ya, topik itu seputar polemik tentang penutupan tempat hiburan malam seperti diskotik dan rumah Bilyar. Setelah di”diskusikan” akhirnya rumah Bilyar tetap boleh buka. Tapi tempat pelacuran dan Diskotik HARUS TUTUP.

Dan seperti biasa, selalu ada barisan penegak hukum yang sudah beraksi duluan sebelum keputusan disahkan. Atas nama Tuhan dan beralasan “For The Greater Good” mereka menutup paksa semua tempat yang nggak setor upeti dianggap sarang maksiat. Padahal mereka tidak sadar bahwa tindakan seperti itu justru semakin menancapkan pemahaman bahwa pelacuran dan konco-konco maksiatnya itu legal.

Jelas saja, sebab selalu alasan yang dikoar-koarkan untuk menutup adalah

Hargai Mereka Yang Berpuasa

Mereka semua minta dihargai untuk sebuah ibadah yang memang sejatinya adalah ujian menahan hawa nafsu? *geleng-geleng kepala* Benar-benar orang suci. Dan taruhan berapa, saat puasa nanti “mereka” pasti lebih sibuk berburu pahala daripada mikirin nasib Perek-perek yang harus “cuti” satu bulan. Memang nikmat sekali kok merengguk pahala diatas penderitaan orang lain.

Lebih fatalnya, dalih menghargai orang berpuasalah yang mereka gunakan untuk menutup sarang maksiat. Itu kan sama saja mereka bilang

 Silahkan buka lagi setelah puasa

Secara tidak langsung mereka telah melegalkan pelacuran kan? saya termasuk orang yang percaya sama guru agama. Saya percaya melacur dan menyewa pelacur itu dosa. Tapi karena saya tidak punya kuasa untuk mencarikan mata pencarian lain untuk para pelacur itu, maka saya tidak melarang mereka melacur (Ataupun bergabung dengan barisan anti pelacur).

Tapi mereka? mereka dengan cueknya minta dihargai dan menyuruh menutup pelacuran dengan alasan mengganggu orang berpuasa. Mereka bilang pelacuran itu maksiat dan bisa menggoda iman orang puasa. Ngaku aja dasar mata keranjang semua loe pade. Kalo mau konsisten tutup aja pelacuran untuk selamanya. Tapi awas kalo nggak bisa ngasih solusi untuk nasib mereka (perek dan germonya) selanjutnya.

Simpel aja toh, perusahaan tidak akan bertahan kalau tidak ada langganan. Kalau memang mau bikin tempat seperti Dolly, Sarkem, Saritem, (puing-puing) Sadon itu gulung tikar sebetulnya mudah. Jangan ganyang produsennya (baca wismanya), ganyang aja pelanggannya. Ganyang (sesuai prosedur, dicangkemi, ditangani, disikili) aja mereka yang ketahuan mampir ke tempat begituan (seperti mahasiswa yang ninggal jaket almamater karena nggak punya uang misalnya :P ). Dan jangan lakukan itu cuma waktu puasa!!

Membakar lokalisasi tidak akan pernah bisa menghilangkan pelacuran. Buktinya Sadon (Magetan) yang sudah terbakar habis masih tetap laku keras. Mereka justru menikmati sensasi tersendiri “begituan” di puing-puing. Tapi kalo nggak ada yang beli pasti mereka akan gulung tikar sendiri kan. Justru mengganyang para pelanggan inilah yang jauh lebih sulit daripada membakar lokalisasi.

Melacur (menyewa pelacur) itu masalah mental. Mungkin ada Orang yang melacurkan diri karena terpaksa. Tapi adakah orang yang terpaksa jadi hidung belang? nggak mungkin kaleee :P . Orang-orang kayak gini ini yang harus diberantas. Tapi taruhan berapa, laskar yang doyan bakar diskotik dan pelacuran itu pasti kagak berani musuhin hidung belang-hidung belang yang biasanya orang kaya atau tokoh ini. Mereka pasti takut atau mungkin malah udah dibayar duluan :P .

Meskipun mereka bukan prajurit, tapi kalau mereka tidak dibiarkan merebut kemerdekaan mereka sendiri, mereka akan selamanya bermental budak. Karena ketika lain kali mereka diperbudak orang lain, mereka akan kembali berharap ada yang menolong mereka.

Itu sepotong dialog (gak persis-persis amat sih) dalam komik “Tale of The Sea King”. Waktu itu Fan Gamma Bizen, tokoh utamanya menyerang sebuah kapal musuh. Dia hanya membebaskan budak-budak di dalam kapal dan membiarkan mereka berperang sendiri melawan calon mantan majikan mereka. Padahal kalau dia mau, dia bisa menghabisi prajurit dalam satu kapal sendiri seperti yang dilakukannya di kapal sebelumnya.

Jadi apakah anda setuju tempat maksiat tutup selama puasa ataukah tutup selamanya?
Atau anda punya solusi lain untuk mereka kalau memang terpaksa ditutup?
Atau dibiarin aja sampai mereka tutup sendiri?
Apapun pilihannya, Terkutuklah para tukang bakar atas nama Tuhan itu!!! :P

36 Tanggapan ke “Pelacuran Itu Sah Kan Bung?”


  1. 1 bachtiar September 13, 2007 pukul 5:27 am

    kalau orang pelacuran gak di tutup selama bulan puasa , sekarang terbalik donk . bersenang-senang di antara orang-orang yang sedang berpuasa .
    yang salah bukan orang yang puasa . tapi yang melacur ?

    pelacuran is haran , jadi tutup aja selamanya .

  2. 2 rivafauziah September 13, 2007 pukul 5:35 am

    Tutup Pelacuran Kok cuma di Bulan Puasa, Bulan lainya Boleh Buka, Atau Maksudnya Kalau Bulan Puasa Ditutup Buat UMUM dan Khusus Buat Para Pejabat Hee.hee..
    Buktinya Yang Ditutup Adalah SPA, Panti Pijat, Bola Tangkas, JUDI Bola, Karaoke. Ini Membuktikan Bahwa Perjudian dan Pelacuran Sudah Disyahkan.!

  3. 3 alex September 13, 2007 pukul 7:52 am

    Mereka semua minta dihargai untuk sebuah ibadah yang memang sejatinya adalah ujian menahan hawa nafsu? *geleng-geleng kepala* Benar-benar orang suci. Dan taruhan berapa, saat puasa nanti “mereka” pasti lebih sibuk berburu pahala daripada mikirin nasib Perek-perek yang harus “cuti” satu bulan. Memang nikmat sekali kok merengguk pahala diatas penderitaan orang lain.

    Ya, demikianlah kalo ibadah itu pretensinya surga-neraka rakitan jani dan ancaman akan pahala-dosa…
    Menyebalkan memang. Memaksa orang menghargai ibadah seseorang lainnya demikian…
    Padahal orang bisa juga bilang, “Siapa suruh ente puasa? … Apa? Perintah agama ente?! Ente pikir agama ente saja di negeri ini?”

    *miris* :(

  4. 4 alex September 13, 2007 pukul 7:56 am

    Halahh…. salah tulis —>> rakitan jani dan ancaman :(
    mestinya jani –>> janji

    *koreksi*

  5. 5 galih September 13, 2007 pukul 8:17 am

    Para ahli dalil yang biasa ndalil silakan berkomentar, galih meneruskan membaca…

  6. 6 dnial September 13, 2007 pukul 9:09 am

    Memang pelacuran itu legal kan?
    Sama seperti merokok…
    Toh tidak merugikan orang lain? why not?

  7. 7 sigid September 13, 2007 pukul 1:32 pm

    Mereka semua minta dihargai untuk sebuah ibadah yang memang sejatinya adalah ujian menahan hawa nafsu?

    Nggih, betul itu mas, orang-orang pada bingung. Puasa kan jadi latihan mental bukan latihan perut untuk nahan lapar.
    Lha kalo puasa tapi ndak ada godaan yang di-puasai, latihan menahan hawa nafsunya ilang dong.

    Eh, tapi pelacuran tetep saja seharusnya ndak boleh meski bulan apapun sekarang.

  8. 8 aRuL September 13, 2007 pukul 8:15 pm

    Tidak boleh bung,itu ndak boleh loh…

    Salahnya Indonesia itu tidak memiliki biaya sosial dalam menanggulangi permasalahan sosial, seperti pelacuran, beda dengan negar lain mereka memiliki biaya sosial (sosial cost) bukan hanya untuk pelacuran tetapi juga buat pengangguran atau yang digusur rumahnya…

    Jika ingin membasmi pelacuran sudah barang tentu harus disertai dengan pemberian kerja bagi mereka2…

  9. 9 alex September 13, 2007 pukul 8:29 pm

    Jika ingin membasmi pelacuran sudah barang tentu harus disertai dengan pemberian kerja bagi mereka2…

    *angguk2 sepakat dengan arul* :)

  10. 10 danalingga September 13, 2007 pukul 10:52 pm

    Tutup tutupan itu mah perkara gampang, yang susah itu setelah di tutup lantas bagaimana?

  11. 11 alex September 14, 2007 pukul 4:00 am

    @ danalingga

    Tutup tutupan itu mah perkara gampang, yang susah itu setelah di tutup lantas bagaimana?

    Yaa… buka-bukaan lagi :lol:
    Bukannya banyak aparatur negara yang gak rela juga keilangan penghasilan sebagai bekingan para mucikari brengsek yang jual2 kelamin anak perempuan orang itu?
    Aparaturnya juga mesti ditangkapi donk harusnya :mrgreen:

  12. 12 galih September 14, 2007 pukul 7:25 am

    Lho semua komentar kok senada ama penulis neh? mana nih komentar yang kontroversial? Lanjoooot….

  13. 13 danalingga September 14, 2007 pukul 8:26 pm

    gi puasa soale, jadi harus senada. *kabooooeeeer*

  14. 14 siawhietji September 16, 2007 pukul 2:27 am

    padahal, puasa baru terasa kalo emang kita dihadapkan pada realita kehidupan sehari-hari. bukannya malah dikondisikan supaya godaan yang datang minimal. lek ngunu lak podo wae mbujuk

  15. 15 mardun September 17, 2007 pukul 3:19 am

    #bachtiar#
    hehehe, padahal tanpa bulan puasa udah banyak orang yang “puasa” tiap harinya :P

    #rivafauziah#
    Betul, harusnya kalau mau tutup ya tutup terus aja. Kalau memang tutupnya selama bulan puasa, seharusnya semua yang menggoda (warung atau restoran misalnya) juga ditutup :P

    #alex#
    Makanya, harusnya yang ditangkepi itu yang mampir, biar pada kapok. Kalo perlu dirazia aja, sampe ketauan udah punya istri langsung kebiri :P

    #danalingga#
    ya setelah ditutup ajarin penghuninya cara mbuka lagi (usaha lain tapi, kantor public relation misalnya) :)

    #daniel#
    merugikan kalau bikin macet jalan. mau minta tanda tangan pejabatnya nggak ada :P (tapi itu contoh gak masuk akal deh :P ). yang paling merugikan itu rasa malunya kalau ada jas almamater ketinggalan. jadinya waktu ditanya orang
    “anak mana mas?”, “oh anak *** pak”, “oooo yang waktu itu di dolly nggak mbayar terus ninggal jaket itu ya” :P

    #galih#
    jangan jadi provokator ya :P

    #arul#
    nah, apa gunanya BLK (Balai Latihan Kerja) seperti yang di menanggal itu? masa gunanya cuma buat disewa anak ITS ngadain LKMM-TD doang?

    #sigid#
    mereka itu kan preventif, jadi kalo entar dituduh istrinya “ada main” mereka bisa alasan “kan lokalisasinya ditutup selama puasa,” padahal mereka check in di hotel :P

    #siawhietji#
    mungkin puasa disamain kayak OSPEK kali ya?

  16. 16 Rizma September 21, 2007 pukul 8:34 am

    Lho ga bisa itu!! itu kan ga boleh,, ga boleeh,, pokoknya ga boleeeeeh!!!

    itu menodai bulan yang suci ini!!!
    mereka semua noda!!
    noda harus diberantas!!
    ga ada noda kan ga belajar? lha? :lol:

    *atas rikues yang pengen komen ga senada*

  17. 17 'K, September 21, 2007 pukul 7:01 pm

    susah bgt mikirinnya
    bangsa kita sudah terbiasa menjadi bangsa yg munafik.
    udah ribet ngubahnya.yg penting diteras depan bersih,perkara dapur berantakan mah cuex ajah.*memalukan*

  18. 18 mardun September 22, 2007 pukul 2:53 am

    #rizma#
    Ah, itu kan sama dengan menggarami air laut :P

    #k#
    Hihihi, perumpamaan yang bagus. Tapi masalahnya mereka mbersihin terasnya dengan ngerusak teras orang lain :D

  19. 19 peyek September 23, 2007 pukul 1:42 am

    Weleh…..Malah diskon besar-besaran selama puasa tuh!

  20. 20 Guh September 23, 2007 pukul 11:45 am

    pelacuran tuh ga mungkin bisa diberantas, mending disediakan tempat khusus aja plus aturan tegas, boleh praktek di wilayah lokalisasi, tapi diluar itu bakal kena hukuman berat. Mati kalo perlu.

    eh, ini bahas ibadahnya orang yang gila hormat atau pelacuran sih? hihi.

  21. 21 mardun September 23, 2007 pukul 9:41 pm

    #peyek#
    lah kok tahu? pernah survey ya cak? ato jgn2….. :P

    #guh#
    tempat khusus dah ada…. tinggal aturannya.
    tapi peraturan itu setegas apapun tetep tergantung penguasanya kan?

    daripada nggasak pereknya kan mending mutus “lifeline” aja biar mereka gulung tikar sendiri :D . nah lifeline mereka kan ya para hidung belang yang mampir itu :P

  22. 22 hoek September 24, 2007 pukul 6:26 pm

    bener katanya mas guh, ga munkin diberantas, ntar bisa-bisa para hidung belang bakal kebinunan dan akhirnya…pembantu pun jadi korban *inget nasib TKW-TKW di luar negeri (ngga nyebut negara mana lho ya! mbok ghibah..)*

    *hidung belang MODE ON*
    “Tapi adakah orang yang terpaksa jadi hidung belang? nggak mungkin kaleee ”
    ehm..saia terpaksa karena tuntutan hawa nafsu…dan juga saia kasihan kepada mereka-mereka yang menjajakan dirinya, saia tersentuh dan merasa kasihan..

    *ditimpuk sendal sama mardun*

    *hidung belang MODE OFF*

    kalopun lifelinenya diputus, para petinggi-petinggi (a.k.a germo) bisa bertindak lebih nekad lage lho? misal = promosi melalui sekolah-sekolah dengan *beeeppp…*
    (sori rahasia perusahaan)

    *ga cuma ditimpuk sendal, sepatu juga…*

  23. 23 rozenesia September 25, 2007 pukul 3:07 pm

    Bisnis laris-manis bak kacang goreng sejak zaman baehula ini mah emang ga bisa diberantas dan ga bakal hilang dari muka bumi. Baik yang terorganisasi maupun yang individual. :lol:

  24. 24 mardun September 27, 2007 pukul 2:43 am

    #Hoek#
    *ambil lagi sandal dan sepatunya sebelum dijual ma hoek*

    wah ini aku gak pernah kepikiran. Mungkin juga ya ada hidung belang yang motivasinya kasihan?

    #rozenesia#
    terus enaknya gimana?

  25. 25 baliazura September 27, 2007 pukul 12:37 pm

    ga jaminan khan klo misalkan di tutup trus ga ad orang yg lakuin
    hal hal yg maksiud maksiad..??

  26. 26 buchin September 27, 2007 pukul 1:23 pm

    tutup selamanya

  27. 27 hoek September 27, 2007 pukul 6:38 pm

    “Mungkin juga ya ada hidung belang yang motivasinya kasihan?”
    ya jelas nda mungkin tho, huehuehe^^
    kalo emang kasian, knafa fara hidung belang itu ndak ngasi uang aja? kalo ferlu diperistri sufaya terjaga…
    tapi..kembali lagi ke moral orang-orang^^

  28. 28 mardun September 28, 2007 pukul 3:00 am

    #baliazura#
    wadduh,kalo bicara jaminan mah…… susah bang. Itu sama aja kayak tanya “siapa yang bisa jamin besok masih hidup?” :P

    #buchin#
    Mantap!! singkat padat dan jelas :D

    #Hoek#
    Ada, kan kamu katanya :P *lirik komen Hoek sebelumnya*
    DIperistri? kamu mau?
    Tapi memang moral nggak bisa dipaksakan.

  29. 29 siawhietji September 28, 2007 pukul 6:43 pm

    hohoho… Om Hoek sungguh budiman

    *muter lagunya ebiet yang penggalan liriknya kayak gini : “… mencari nafkah hidupnyaaa… sebagai seorang pramuuuuriaaaaa…* :P

  30. 30 Shelling Ford September 29, 2007 pukul 9:23 pm

    dukung saya sebagai germo baru yang bermoral!

  31. 31 mardun September 29, 2007 pukul 9:31 pm

    #siawhietji#
    Luki….. jangan gitu ya, kasian lho dia udah stres jaga warnet. Entar kamu ikut di dor lho :P

    #Shelling Ford#
    Beres Joe, pasti tak dukung, apalagi kalau konsepmu seperti itu :D
    nanti aku tolong direkrut jadi kepala personalia/HRD-nya ya :)

  32. 32 kakilangit Oktober 15, 2007 pukul 1:41 pm

    bawa2 McGetan arek iki :D
    tapi setauku udah ga ada dun, puing2nya juga udah g ada..
    itu adalah bagian dari certa masa kcilku

  33. 33 mardun Oktober 16, 2007 pukul 11:42 pm

    *liat komen atasku*
    cerita masa kecilmu? cepat dewasa kamu mbing :P

  34. 34 Devi April 11, 2008 pukul 12:56 pm

    kalo nutup pelacuran pas bulan puasa doank, namanya mah munafik dan gak masuk akal. Bukankah sejatinya puasa itu dimulai dari inisiatif diri sendiri. Kalo bener-bener mau puasa dengan sungguh-sungguh, tidak ada yang harus dilakukan pada pihak luar. Kita yang berpuasalah yang harus pintar-pintar menahan diri… kalo orang Jawa punya istilah itu… TOPO NGRAME… artinya puasa di keramaian. Misalnya puasa makan pada saat pesta dimana semua orang pada makan yang enak-enak. Nah kalo puasa di tempat sepi, ya semua orang juga bisa. Lantas, apa lebihnya, apa pahalanya bagi kita? Tidak ada.

    Behitu juga dengan hal pelacuran or prostitusi. Walaupun prostitusi tetap buka di mana-mana, tetapi yang berpuasa tetap kuat iman dan tahan godaan, ya tidak akan terjadi apa-apa. Kalau ia tergoda, itu kesalahn dirinya sendiri karena tidak mampu berpuasa dengan baik…nafsunya TIDAK MAU ditahan (bukan tidak bisa).

    Jadi ini adalah masalah mental. Yang perlu dibenahi adalah mental para muslim tentang hal berpuasa. Terutama para muslim yang berada di jajaran di atas sana, perlulah mereka mengintrospeksi diri, apakah mereka betul-betul seorang muslim sejati ataukah mereka merupakan muslim yang tersesat dari kumpulannya? Marilah merenungkan lebih dalam apa tujuan beragama, melakukan kebaikan atau melakukan kejahatan? Benarkah melakukan kejahatan atas nama Tuhan? Sungguh, Tuhan pun tentu tak menutup mata jika Ia tahu bahwa hati manusia berpikir munafik.

    Semoga bermanfaat….!;P

  35. 35 lolon manson April 18, 2008 pukul 10:56 am

    gue sih asik2 aja.justru menurut gue klo puasa ga ada godaan puasanya ga pool.maaf klo saya salah pendapat seandainya bulan puasa diskotik,hiburan dll buka ga masalah karena ini adalah tantangan ujian keimanan kita untuk menahan tidak ke dugem dan berusaha untuk ibadah tarawih….puasa tanpa godaan mana asik.gue sendiri ga muna suka maen ke dugem liat konser band dll tapi saat puasa gue selalu berusaha taraweh nah disini sisi terberat yg aku alamin.
    misal orang yg ga pernah dugem sih biasa aja klo puasa menghadapi dugem.tapi gue yang sering maen malem dugem dll benar2 merasakan perang sabil dalam hati antara ibadah dan dugem

  1. 1 Bulan Puasa == Bulan Tutupnya Warung ? « Ceritane Baskoro Adi Lacak balik pada September 30, 2007 pukul 1:27 pm

Tinggalkan Balasan




This Blog Has Been Read

  • 44,608 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

September 2007
S S R K J S M
« Agt   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930