Pernahkah kamu melihat seseorang yang begitu sempurna? Dalam artian dia punya begitu banyak kelebihan sehingga kamu tidak bisa menemukan alasan untuk tidak suka padanya. Misalnya seperti seorang menteri dengan latar belakang keluarga NU, (mengaku) aktifis HMI, bicaranya menyejukkan hati (kecuali gebrakan mejanya). Kalau iya, pernahkah kamu tiba-tiba merasa tidak suka pada orang itu?
Sebaliknya, pernahkah kamu bertemu orang yang begitu menyedihkan? Sampai-sampai orang (sok tahu) memvonisnya tidak punya masa depan. Misalnya seperti seorang pemabuk, pecandu narkoba, (Kata orang yang suka mengaku Tuhan) kafir pula. Dan pernahkah kamu tiba-tiba merasa suka padanya?
Ya, saya sedang membicarakan penyanyi idola saya, Ari Bernardus Lasso. Orang-orang akrab memanggilnya Ari Lasso, (bukan mantan) vokalis DEWA 19. Bukan apa-apa, saya hanya ingin mengekspresikan kekaguman saya sewaktu melihatnya bernyanyi bersama DEWA dalam acara Konser Musik Sempurna di Lapangan Brawijaya Surabaya Kemarin Malam. Dia tampak begitu memukau, semenjak kepergiannya sebelum Album Bintang Lima keluar tahun 2000 silam, saya berhenti jadi “Baladewa”. Dewa 19 sudah bubar di mata saya (LKSC
)
Tapi ketika mendengar suara emasnya melantunkan Cinta kan Membawamu Kembali kemarin malam, rasanya Dewa 19 hidup lagi. Itulah Ari Lasso, seorang penyanyi yang pernah dihancurkan oleh Narkoba. Semua orang menyalahkannya ketika dia dinyatakan positif sebagai Junkies. Orang seolah-olah lupa dengan suaranya yang mampu menggetarkan jagat musik.
Untunglah ada Melly Goeslaw, dia justru menaruh kepercayaannya ketika semua orang memandang hina Ari Lasso. Dengan penuh keyakinan Melly mengajak cowok kelahiran Madiun, 17/01/1973 ini berduet dalam lagu “Jika”.
Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga ini kemudian perlahan-lahan bangkit. Bahkan akhirnya dia berhasil menelorkan empat album solo. Akhirnya mau tidak mau “The King” Ahmad Dhani yang terkenal Arogan “terpaksa” mengundangnya kembali dalam satu panggung.
Mengutip perkataan pak Ali Maschan Musa (Ketua PWNU Jatim) tadi siang,
Olah rasa itu jauh lebih penting daripada rasio
mungkin orang akan menertawakan orang yang lebih menggunakan perasaan daripada rasio. Tapi rasio bukanlah akal sehat, rasio hanya semata-mata perhitungan matematis yang tentunya tidak bisa diterapkan pada manusia. Apa jadinya kalau Melly tidak memberikan kepercayaan pada Ari waktu itu? tidak perlu dijawab kan?. Tindakan Melly yang lebih menuruti kepercayaannya pada Ari daripada semua cercaan dan hinaan dari masyarakat maupun Infotaintment itulah yang telah menyalamatkan karier seorang Ari Bernardus Lasso.
Hal ini memang sangat klise, tapi saya memang masih sering menemui orang
yang berlagak hakim dengan menilai orang dari luarnya saja. Dan sebaliknya saya jauh nggak habis pikir bagaimana seseorang bisa begitu terpukau dengan seseorang yang jelas-jelas licik, bermental penghianat, dan tidak punya pendirian. Semuanya hanya karena dia ganteng, tutur katanya halus, dan sering (terlihat) masuk masjid. Dasar orang-orang buta.
Mungkin orang boleh bilang seeing is believing, tapi bagi saya tergantung apa yang kita gunakan untuk melihat. Kalau kita cuma melihat dengan mata, saya cenderung percaya kalau seeing is blinding. Kalau untuk menilai orang, saya jauh lebih menggunakan perasaan daripada rasio (apalagi Rasiyo pake drs di depannya
).
Orang yang ingin membuat first impression dengan rasio pasti bisa mengatur agar dirinya terlihat bagus. Misalnya dengan memakai pakaian yang rapi, minyak wangi, bahkan mengecat gigi :P. Tapi first impression dengan hati tidak akan pernah bisa diatur, sebab hati tidak pernah bisa berbohong. Orang tidak akan bisa mengatur dirinya dengan cara apapun agar orang lain bisa “merasa” senang padanya kecuali memang sifat aslinya bisa membuat orang lain senang.
So, Just Trust Your Heart. Jangan pernah hakimi buku karena koper.








Aku mencoba tuk percaya pada hatiku.
Tapi itu akan semakin membingungkanku.
Kadang hati itu plin-plan.
keduax
biografi-nya ari lasso?
*OOT mode on*
That’s called, “lebih baik percaya sama orang sejenis sama kamu, sebusuk apapun, daripada yang tidak sejenis, sebaik apapun”
Mirip2 preman itu susah dinasihati sama kyai, tapi kalo yang ngomong sesama preman, dia lebih percaya.
*yah kira2 begitu
*
tapikan mau tidak mau penampilan (seeing) juga menjadi hal utama dalam menentukan orang itu seperti apa.
Misalnya orang wawancara penampilannya juga pertama di lihat bukan?
atau ada istilah “cinta pada pandangan pertama”… hehehe :p
atau Kenapa suatu perusahaan perlu melakukan publikasi, kenapa ada iklan supaya mereka secara penampilan bisa dilihat orang…
mau tidak mau penampilan luar juga dibutuhkan untuk mengenalkan diri orang…. kalo tidak begitu, tidak maju-maju perusahaannya dong, dan bisa tersaingi dengan perusahaan lain.
Tapi jangan juga, hanya menggunakan istilah “dont judge the book by the cover” hanya untuk membela diri agar bisa dinilai semua orang sama, karena kita juga harus melakukan perubahan terhadap diri agar bisa diakui dan dinilai baik sama orang lain.
Ary lasso juga dinilai baik sama orang karena akhirnya dia bisa melakukan perubahan terhadap dirinya yang dulu dianggap tidak baik menjadi orang baik sekarang ini, dan melepaskan ketergantungannya.
saya rasa semua hal baik seeing maupun believing, menjadi faktor deh menilai seseorang….
its just my opinion….
#nieznaniez#
sulit membedakan antara hati dengan keinginan
#syafriadi#
buka aja di sini
#dnial#
paragraf pertama sama kedua kok gak nyambung ya?
#arul#
Bukannya justru kebanyakan orang tidak bisa menjelaskan cinta pada pandangan pertama karena ada perasaan yang alasannya tidak bisa dijelaskan (dilihat dari penampilannya) ya?
Benar, Ari Lasso dinilai baik oleh orang setelah berubah. Itulah orang-orang yang cuma melihat luarnya aja. Entar kalau mereka ketemu Ari Lasso nggak sengaja foto seronok mereka bakal hujat dia lagi.
Tapi Melly beda kan? saat semua orang menghujat, dia justru percaya sama Ari Lasso. Keberanian Melly untuk mempercayai hatinya inilah yang jarang dipunyai orang.
Sepakat, memang saya bilang kalau orang itu cuma seeing dia bisa buta kan? saya nggak bilang kalau penampilan tidak perlu dinilai lho
. Cuman heran aja tapi ngeliat orang-orang buta yang begitu mudahnya percaya sama orang karena penampilannya 
@mardun
mungkin orang2 seperti itu memegang tradisi..
yang sudah menjadi tradisi turun temurun ..
yang diturunkan di tanah jawa …
bahwa ajining rogo soko busono…
ajining diri tumpaking lati…
ajining kuwoso soko kukilo lan wanito …
(menghargai raga dari busana
menghargai diri dari ucapan
menghargai kekuasaan dari burung peliharaan dan wanita )..
ya .. namanya ngubah tradisi tidak semudah membalik telapak tangan … akhirnya kita aja kalo punya barang bagus dipack dengan baik agar orang2 juga tertarik …
orang masjid yang gak punya pendirian,licik dan pengkhianat ?? … sering datang ke masjid atau gak, itu urusan dia sama Allah SWT… dalam beberapa kasus gak ada hubungannya dengan kualitas seseorang… misalkan seseorang itu pengen dagangannya dipercaya konsumen ..terus tiap hari berdoa di masjid tapi gak mau belajar untuk dipercaya ya nonsense…. lain halnya kalo ternyata di mesjid itu akhirnya dia diketemukan oleh Allah SWT dengan orang yang ahli dan mau mengajari agar konsumen percaya ke dia sehingga dia hatinya terbuka dan mau belajar …
@dnial
walah dan .. ada kiyai2/ustad yang dulunya preman, pecandu narkoba, penjudi juga.. beberapa dari mereka dapat petunjuk dari orang2 yang bukan temannya sekalipun ada yang dari teman2nya juga …
Mirip-mirip dengan Love is blind. ketika orang jatuh cinta, orang dibutakan oleh cinta sampai tak mampu lagi melihat sisi negatif orang yang dicintainya. *tetap melankolis mode: on*