Antara Idealisme, Kesuksesan, dan Sok Tahu

Sumpah deh, aku sama sekali nggak bermaksud ikut campur memikirkan masalah yang bukan masalahku. At least sampai sekarang aku masih percaya sama Kahlil Gibran dan SOAD. Tapi gara-gara baca komen ini, aku jadi tergoda untuk nulis lagi tentang tempat mulia dengan kurator keparat ini. Terus baca komen ini, aku jadi betul-betul pingin nulis tentang rumah biruku tersayang ini lagi.

Pertama-tama, saya berasumsi bahwa teman saya ini memang orang yang sangat mempercayai temannya. Kemudian saya juga berasumsi bahwa dia adalah orang yang sangat mudah berempati dengan orang lain (Apalagi alumni yang lebih tua). Sebab dia dengan mudahnya percaya dan berempati pada orang-orang yang mengaku idealis. Padahal definisi idealisnya sepertinya perlu di re-write deh.

Dengan mudahnya dia mengatakan bahwa sekian banyak orang mengaku idealis yang ditemuinya kini menyesal. Seharusnya si Dewa ini nonton sinetron “Candy” deh. Dalam sinetron itu ada adegan ketika si tokoh Alva yang sedang menyepi ke papua ditegur oleh kepala sukunya.

Nak alva, kebebasan itu tidak ada di mana-mana. Adanya hanya di sini (menepuk dada). Kebahagiaan juga begitu, walaupun kau lari sampai ke ujung dunia pun tetap tidak akan kau temukan

Walaupun cuma sinetron dan saya cuma kebetulan menonton sebelum berangkat mengejar deadline :P , tapi saya sempat manggut-manggut mendengarnya. Ternyata masih ada hal positif yang bisa disampaikan oleh sinetron Indonesia :P .

Mbulet ae toh! saya cuma pingin ngomentari bahwa yang namanya kebahagiaan dan kesuksesan itu tergantung bagaimana kita memaknainya. seperti pengalaman seorang teman saya, nasi dengan bumbu seadanya pun tetap nikmat kalau memang dimakan saat butuh. Makanan seenak makanan di hotel bintang lima juga akan terasa enek saat kita sedang kenyang (pengalaman pribadi :P ).

Teman saya yang diatas itulah bagi saya seorang idealis sejati. Sederhana saja, karena dia seumur saya kenal tidak pernah sekalipun mengaku-aku kalau dia idealis apalagi aktivis (gak seperti pejabat rektorat yang suka mengaku mantan aktivis, cuih). Bahkan di tengah penderitaannya di hutan rimba Jakarta pun dia tidak pernah menyalahkan aktivitas maupun idealismenya yang selalu dia pegang teguh (meskipun tidak digembar gemborkan) selama menjadi mahasiswa.

Menurut saya, seorang idealis atau tidak bukan datang dari dirinya sendiri. Lingkungannya lah yang akan melihat dan memberi penilaian se-idealis apakah dia. Kalau dia memang selalu memegang teguh pendirian dan nilai-nilai kebenarannya, maka dia sudah cukup idealis bagi saya. Dan orang-orang seperti itu tentu sudah SADAR DARI AWAL bahwa pilihan hidupnya yang menentang arus akan membawa resiko. Jadi tidak ada kata menyesal untuk sebuah idealisme. Idealisme bukan masalah menang atau kalah, tetapi idealisme adalah masalah benar atau salah.

Jadi orang-orang yang mengaku idealis terus mengaku menyesal sih lebih baik masuk tong sampah aja sono. Mereka memang tidak pantas mereguk kesuksesan. They’re just a bunch of Hypocrete. Mereka ini buta akan arti sebuah sukses maupun kebahagiaan.

Memangnya kalau seseorang kerja di Hally Burton dengan gaji 25 juta per bulan lantas dia bisa dibilang sukses? lantas kalau ada sarjana komputer yang akhirnya “cuma” buka toko mracangan di sebuah perkampungan lantas dia bisa dibilang nggak sukses? Kayaknya nggak perlu dijawab deh :P

NB. Kalau buat komen yang ini, Saya tidak mau membanding-bandingkan. Saya cuma bisa bilang kalau orang selalu merasa paling tahu kalau dia sedang menjalani sesuatu. Tapi jangan lupa, sekelilingmu itu tidak buta, dan mereka juga pernah berada di posisimu sebelum kamu, iya kan mir?  

Dan semoga orang-orang culas yang haus Curriculum Vitae akan segera jadi Sampah Masa Depan

20 Tanggapan ke “Antara Idealisme, Kesuksesan, dan Sok Tahu”


  1. 1 vend Agustus 26, 2007 pukul 9:11 am

    Idealisme bukan masalah menang atau kalah, tetapi idealisme adalah masalah benar atau salah.

    bukannya kebenaran suatu idealisme itu relatip dun? relatip yang acuannya ya orang2 yang memiliki idealisme itu :P
    contohnya idealisme mahasiswa dan idealisme rektorat dalam hal OMB pengkaderan :roll:

  2. 2 kakilangit Agustus 26, 2007 pukul 10:07 pm

    yah..idealismu itu kan keyakinan, kalo sampe nyesel megang keyakinanya, berarti…..

    wah jangan dun…doamu nanti kalo terwujud bahaya, orang jaman sekarang aja sampahnya udah pada menggunung.

  3. 3 dr Agustus 26, 2007 pukul 10:16 pm

    aku nunggu jawaban dari mas dewa ae lah, kira-kira postingan ini mau dikomentari kayak gmn ya?

  4. 4 dr Agustus 27, 2007 pukul 12:05 am

    wah do’amu syep tenan… amin dah.

  5. 5 mardun Agustus 27, 2007 pukul 1:08 am

    #vend#
    Justru itu, idealisme itu kan keyakinan masing-masing individu/kelompok tentang apa yang diyakini sebagai sebuah kebenaran.

    Penyesalan akan sebuah idealisme hanya dilakukan apabila terjadi “sesuatu” yang mengakibatkan dia berubah pandangan terhadap idealismenya. Tapi yang jelas dia tidak akan menyesali nasib “buruk” yang menimpanya karena sudah memperjuangkan idealisme.

    #kakilangit#
    sepakat, hehehe tapi gak papa sampah menggunung. Entar kita tinggal sewa sejumlah suku primitif untuk jadi “pembakar” sampah :P

    #Dr#
    sama deh. :)

  6. 6 dnial Agustus 27, 2007 pukul 12:17 pm

    Dari 4 fungsi mahasiswa, ternyata yang agent of change yang paling susah.
    Harus rela diskorsing, rela berjuang sendirian, rela gagal, kalau berhasil bukan dia yang nikmati.

    Hari gene ngomong idealis?
    Bisa diskorsing ntar….

  7. 7 alex Agustus 27, 2007 pukul 12:43 pm

    :lol:
    Idealisme?? Idealis itu cuma muncul di kalangan mahasiswa sehabis nonton film seperi Gie: Catatan Harian Seorang Demonstran atau The Motorcycle Diaries. Selebihnya, kenakan baju oblong Che dan nongkrong di KFC. Yup! That’s what they called Ideliasm :)

    Ah… bicara tentang menyesal, saya nggak pernah menyesal; bahkan walau mesti drop-out kuliahan. Setidaknya, idealisme tidak membunuh kita atau menjadikan kita zombie.

    Btw, postingan bagus :)

  8. 8 dnial Agustus 27, 2007 pukul 2:24 pm

    btw…
    Jangan mendoakan yang jelek2…
    Biar saja.

  9. 9 pribadidewa Agustus 29, 2007 pukul 12:24 am

    @dr dan mardun
    no komen deh .. terlalu jauh melebar .:D masing2 kita kayaknya memiliki parameter sendiri2 mengenai idealisme .. apalagi tentang hima…lagipula yang dibahas mardun sudah melebar ke ruang yang lebih luas …
    semoga ente dan rekan2 yang memiliki idealisme tetap bisa memegang idealismenya sampai tua tidak hanya sebatas pada himpunan tapi juga dengan memberikan kontribusi kongkrit pada bangsa dan negara ini ..

    saya berharap dr nantinya setelah lulus juga akan tetap konsisten menyantuni anak2 jalanan terlantar yang putus sekolah

  10. 10 mardun Agustus 31, 2007 pukul 10:18 pm

    Amiin deh wa. kalau kamu sudah ngomong gitu, mending polemik ini tidak usah diperpanjang. saranku sih, kalau kamu mau ikut komentar, janganlah mengomentari orang yang sedang berusaha menyelesaikan urusan rumah tangganya sendiri (Baca yang berhubungan dengan tetek bengek organisasi seperti SK-SK keparat itu).

    Tapi kalau kamu mau berdiskusi tentang bagaimana berorganisasi yang baik aku yakin anak-anak 2004 pasti respek sama mantan SC-nya iya kan?

  11. 11 dr September 1, 2007 pukul 1:49 am

    @mas dewa: Amiiin mas, semoga aku mampu untuk melakukan itu :)

  12. 12 pribadidewa September 1, 2007 pukul 7:17 pm

    Amin amin ya robbal alamiiin …
    btw aq juga (merasa) g butuh respek koq dun .. jika semua diniati ibadah (niat baik paling gak) insya Allah kita juga dapat balasan pahala dari Allah sekalipun dari dunia tidak dapat balasan …
    dan ..terlepas dari segala kesalahan yang dilakukan oleh rekan2 himpunan (karena tiap kepengurusan tidak ada yang sempurna) .. himpunan periode ini merupakan salah satu himpunan yang cukup hebat … karena bisa melaksanakan agenda2 yang dulu gak dijalankan semacam temu alumni dan agenda pengikutnya (seminar security dlsb) …semoga bisa berjalan terus …

    “Dan semoga orang-orang culas yang haus Curriculum Vitae akan segera jadi Pupuk Kompos Masa Depan..(berubah jadi lebih baik) “

  13. 13 Rizma September 2, 2007 pukul 4:22 pm

    gile ini tulisan top abis! Ma suka banget,, :D
    Ma spicles buat komen nih sekarang,, tapi intinya, Ma suka tulisannya!!

  14. 14 dimasrlp September 9, 2007 pukul 4:26 am

    wuih..tulisane koncomu iku bener2 &#&**^&(&)*…wes gak isok ngomong opo2 aku….

  15. 15 mardun September 13, 2007 pukul 12:13 am

    #Alex#
    Yups, yang “mereka” bilang idealisme sekarang itu cuma simbol doang :P . Pantes aja bisa dengan mudah menyesal dan diganti-ganti :P

    #rizma#
    ehhmm…. jadi malu :P

    #Dimasrlp#
    Monggo dikopdar :P (sumpah saya bukan provokator)

    #pribadidewa#
    Mudah-mudahan saat itu terjadi (mereka jadi kompos) bumi masih punya tanah dan belum tenggelam karena pemanasan global :P

  16. 16 just try my best to hold my idealism November 8, 2007 pukul 2:02 pm

    Saya baru saja mengawas ujian. Pekerjaan seorang mahasiswa yang duduk ditengah diliriki oleh dua orang rekannya dari samping kiri dan kanan. Yang bersangkutanpun seperti sengaja membiarkan kedua rekannya melakukan hal tersebut.Sebagai pengawas, idealisme saya bilang bahwa ini adalah tanggung jawab saya untuk tidak membiarkan hal tersebut terjadi. Setelah dua kali saya peringatkan, maka kali ketiga, mahasiswa yang ditengah (sebagai sumber contekan) saya pindahkan duduk ke depan. Hal ini saya lakukan mengingat saya lebih mungkin memindahkan satu orang (yang diconteki) daripada harus memindahkan dua orang penyonteknya.
    Namun, setelah ujian selesai, mahasiswa yang saya pindahkan duduknya memaki saya dan tidak terima dengan apa yang sudah saya lakukan. Dia bilang bukan dia yang nyontek, jadi kenapa dia yang harus dipindahkan, sehingga orang bisa saja mengira dia yang nyontek.
    Setau saya, baik yang menyontek, maupun yang mau saja “diconteki”,keduanya sama-sama berbuat curang dalam ujian. menurut saya, saya sudah berusaha menjalankan kewajiban saya sebagai pengawas. namun, mereka dan teman-temannya mencap saya sebagai pengawas yang “gak asik”, karena kalau saya yang ngawas tidak ada yang bisa mencontek.
    Jadi, saya sekarang mempertanyakan idealisme mahasiswa. idealisme seperti apa yang selama ini diperjuangkan mahasiswa jika pada diri mahasiswa sendiri masih “melegalkan yang salah” dan “memojokkan yang benar” (saya tau mungkin tidak semua mahasiswa seperti ini, tapi mahasiswa yang ada di pengalaman saya ini adalah mahasiswa yang seperti itu).
    Seseorang yang menjalankan idealismenya seharusnya diberi dukungan, sehingga idealismenya semakin kuat. Bukannya malah dimusuhi beramai-ramai. Karena bagaimanapun sebagai seorang manusia biasa, orang yang idealis juga mengalami pasang-surut dalam keyakinannya dan membutuhkan orang-orang disekitarnya untuk menguatkannya lagi.
    Jadi, jangan sampai orang yang idealis menyesal menjadi orang yang idealis karena lingkungannya tidak mau mengerti dan mendengarkan kesedihannya. Bagaimanapun setiap manusia punya keinginan untuk dimengerti dan dipahami,demikian juga orang yang punya idealisme. Jangan mentang-mentang orang idealis, lalu lingkungan membiarkannya sendirian memperjuangkan idealismenya, serta membiarkannya sendirian merasakan akibat dari idealisme yang dipegangnya.
    Demikian, semoga bermanfaat.

  17. 17 calonorangtenarsedunia November 17, 2007 pukul 12:06 am

    kalo aku idealis ga?

    *kedip2*

    nyesel megang idealisme?

    memalukan.

    idealisme itu identitas, Bung!

  18. 18 mahendra Februari 21, 2008 pukul 3:18 am

    tul tuh.

    banyak sekarang mahasiswa2 aktivis sok idealis padahal sendirinya masih berlaku tidak adil

  19. 19 mahendra Februari 21, 2008 pukul 3:19 am

    nih ad tambahan.

    gw kutip dari satu artikel

    Netters Yth,

    Saya sedih banget ngeliat gelagat mahasiswa kita sekarang, mereka
    cumanya bisa NGomDo alias NGOMONG DOANG. Liat aja! Mereka cuma bisa
    nge-Gelar Aksi Demonstrasi, ngeritik orang, ngedumel, ngumpat de el el.
    Mereka cuma bisa nyari-nyari kesalahan orang lain, tanpa ngeliat apa
    yang ada dalam diri mereka sendiri.
    Mereka bilang bahwa Pemerintahan kita kudu bersih, alias ‘Clean
    Goverment’. Padahal kelakuan mereka belum tentu lebih baik dari para
    pejabat yang konon kabarnya tukang korupsi, kolusi dan manipulasi.
    Mereka nggak bisa ngaca diri, apa bener kelakuan mereka lebih baik dari
    para pejabat kita? Mereka semua sok idealis, sok pinter, juga sok suci!
    Padahal – kalo kita ngeliat gelagat – mereka saat mengikuti ujian/tes,
    mereka masih sering nyontek, celingak-celinguk, tanya kiri, tanya kanan.
    Apa iya kalo mereka itu jujur, selama mereka ikut kuliah di bangku
    mahasiswa? Apa iya nilai yang mereka peroleh, murni dari ‘hasil keringat
    sendiri’ atau malah hasil ‘pertolongan’ orang lain.
    Terus… apa iya mereka itu nggak pernah korupsi juga, atau manipulasi
    uang kuliah, uang buku yang diberikan oleh ortu mereka sepeser pun?
    Sedangkan ortu mereka susah payah banting tulang untuk ngebiayain
    mereka.
    Coba deh koreksi diri sendiri dulu, jangan cuma bisa nyari-nyari
    kesalahan orang lain. Jangan cuma bisa seperti lalat dong! Bisanya cuma
    nyari kotoran yang keluar dari borok orang lain. Ngegerogotin daging
    orang lain. Itukan dosa lho!
    Coba deh, belajar lebih dewasa! Jangan kayak anak kecil ah… malu donk
    sama diri sendiri.
    Coba deh intropeksi diri ‘apa yang dapat kalian berikan untuk
    kemaslahatan masyarakat, agama, bangsa dan negara?’ Buktikan dong dengan
    amal yang nyata! Jangan cuma ngomong doang!
    Dari pada kalian cuma ngabisin waktu! Ngabisin masa muda dengan
    hura-hura, ngeritik, ngomongin orang! Coba deh beramal untuk
    kemaslahatan masyarakat kita. Kita bersama-sama dengan pemerintah dan
    seluruh rakyat untuk memperbaiki kondisi masyarakat, dengan melakukan
    reformasi di segala bidang. Ingat! reformasi BUKAN revousi! Reformasi
    nggak semudah ngomongin orang, ngorek-ngorek borok orang, dan
    nyari-nyari kesalahan orang!
    Perbaiki dulu deh diri sendiri, baru kalian bisa memperbaiki orang lain.
    Tegakkan kebaikan dalam diri sendiri, baru kalian bisa menegakkan
    kebaikan di muka bumi ini. Saya kira, cukup apa yang saya usulkan.
    Janganlah masukan ini dianggap sebagai kecaman, tapi lebih sebagai
    masukan yang berarti. Masukkan ini bukan didasari dari rasa benci, dan
    dendam. Tapi lahir dari rasa cinta, dan kepedulian saya pada kondisi
    umat ini. Akhirnya kita harus ‘berlapang dada’ dari segala kritikan dan
    masukkan yang sifatnya membangun, memperbaiki apa yang ada dalam diri
    kita. Mohon maaf segala kekurangan sebab hanya Allah Yang Maha Sempurna.

    Wassalam


  1. 1 Dosen dosen dahsyaat! « Ma-Me-Ma,, Just being Me!!!! Lacak balik pada September 2, 2007 pukul 4:15 pm

Tinggalkan Balasan




This Blog Has Been Read

  • 93,064 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

a