Seragam sekolah, benda yang telah atau akan kita gunakan selama kurang lebih 12 tahun sejak kita SD sampai SMA. Saya tidak tahu asal mula maupun siapa yang pertama kali menciptakan ide untuk menggunakan seragam bagi anak sekolah. Di Indonesia sendiri, penggunaan seragam untuk sekolah negeri umumnya dibagi berdasarkan warna. Atasan putih dengan bawahan merah untuk anak SD, atasan putih dan bawahan biru gelap untuk SMP, dan atasan putih dan bawahan biru (atau abu-abu) untuk SMA. Sedangkan sekolah-sekolah swasta umumnya lebih bervariasi dalam menentukan seragam mereka.
Menurut versi resmi yang beredar (lewat guru PPKn saya), seragam memiliki fungsi untuk menghilangkan kesenjangan sosial. Seragam dibuat untuk menghilangkan sekat antara mereka yang mampu secara ekonomi maupun yang tidak (atau yang biasa kita sebut kaum Mustadz’afin). Sebuah filosofi yang mulia untuk mendidik anak-anak bangsa. Saya pribadi sangat salut kepada orang Indonesia yang pertama kali mencetuskan ide pembuatan seragam. Akan tetapi sangat disayangkan kalau sekarang sebagian besar tujuan itu tidak tercapai.
Fungsi seragam untuk menyamakan status seorang siswa dihadapan pendidik hanyalah impian belaka. Sekarang mudah sekali membedakan status sosial seorang siswa hanya dari melihat seragamnya. Mulai bahan kain yang digunakan, model jahitan, dan aksesori lain yang dikenakan pada seragam (pin, sabuk, dll). Jadi kalau orang sekarang bilang seragam itu digunakan untuk menghilangkan kesenjangan sosial, bagi saya itu hanya omong kosong alias Bullshit (baca telek kebo).
Hal ini disebabkan oleh berbagai macam sebab, baik dari pihak sekolah maupun pihak siswa sendiri. Sekolah terkadang kurang tegas dan terlalu banyak toleransi terhadap seragam siswanya. Hal ini terutama kepada mereka yang lebih mampu secara ekonomi. Sekolah biasanya mengijinkan adanya pemakaian seragam “serupa tapi tak sama”, yaitu seragam yang mirip tapi dari segi jahitan maupun bahan sama sekali berbeda (alias yang seragam hanya lambang sekolahnya saja). Sedangkan dari pihak siswa terkadang banyak yang memandang seragam mereka terlalu tidak fashionable sehingga mereka-pun melakukan berbagai macam modifikasi terhadap seragam mereka (memendekkan rok, menambah tali untuk mengetatkan, dll).
Oleh karena tidak terpenuhinya target penghilangan kesenjangan sosial tersebut, maka fungsi seragam yang tersisa kini hanyalah sebagai identitas. Seragam hanya digunakan untuk menunjukkan bahwa siswa yang bersangkutan memang murid sekolah tersebut. Biasanya hal ini ditunjukkan lewat badge atau lambang sekolah yang disematkan di saku dada dan lengan sebelah kanan dari seragam. Hanya hal ini saja yang masih tersisa dari fungsi seragam di Indonesia.
Di negara lain penggunaan seragam juga bermacam-macam. Tapi yang membedakan dengan Indonesia adalah adanya ketegasan dalam implementasi penggunaannya. Ada negara yang ketat menentukan seragam dari atas sampai bawah seperti Jepang, ada pula yang begitu bebas seperti Amerika. Akan tetapi ada semacam konvensi tentang fungsi seragam yaitu sebagai pembatas. Seragam menentukan batasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dipakai oleh seorang siswa. Bahkan di negara sebebas Amerika-pun tetap memberlakukan sebuah “dress code” untuk siswanya. Biasanya dress code ini menentukan batasan-batasan (panjang bawahan minimal, panjang lengan minimal, dll) terhadap pakaian yang dikenakan oleh siswanya. Akan tetapi dari dua negara sama-sama tersebut memiliki sebuah ketegasan dalam implementasinya.
Untuk Indonesia sendiri, apabila memang seragam sekolah masih memiliki fungsi untuk menghilangkan kesenjangan sosial antar siswa, maka banyak hal yang perlu dibenahi. Yang pertama adalah dengan menindak tegas seragam-seragam “gaul” ataupun seragam-seragam “serupa tapi tak sama”. Kalau memang seragam itu adalah identitas sekolah, maka sekolah sebaiknya menyediakan seragam untuk murid-muridnya sehingga dapat dipastikan kalau semuanya sama. Kalaupun ada yang membuat sendiri, harus betul-betul sama mulai dari bahan sampai warnanya. Tapi kalau ini diterapkan di Indonesia, biasanya akan berujung kepada perebutan proyek pengadaan seragam sekolah
.
Yang harus dibenahi selanjutnya adalah ketegasan dalam implementasinya. Tidak boleh ada ampun (baca sikap permisive) terhadap penggunaan seragam berbeda yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya kesenjangan antar siswa maupun antar sekolah (karena perbedaan seragam yang begitu kentara).
Apabila kualitas sekolah di Indonesia sudah merata dan pola pikir masyarakat untuk tidak melihat seseorang dari pakaian yang dikenakannya sudah terbentuk, maka mungkin sah-sah saja apabila kebijakan penggunaan seragam dibuat lebih longgar. Sebab bagaimanapun juga kalau semuanya seragam, akan menjadi tidak menarik. Penggunaan seragam yang terlalu ketat juga membawa cukup banyak efek negatif. Hal ini sempat diutarakan oleh David L Brunsma dari University of Alabama dan Kerry A. Rockquemore dari University of Notre Dame melalui penelitian mereka di jurnal pendidikan. Selain mengungkapkan bahwa seragam tidak berpengaruh secara signifikan terhadap disiplin maupun prestasi seorang siswa, mereka juga mengungkapkan bahwa seragam pada titik tertentu dapat membuat seorang siswa merasa frustasi karena merasa dikekang sebab mereka akan dihukum bila terdapat kesalahan dalam seragam mereka.
Menurut saya, penyamaan kualitas sekolah dan pembentukan pola pikir masyarakat inilah yang sebetulnya lebih penting daripada seragam. Walaupun saya tetap salut dan kagum terhadap orang yang pertama kali menciptkan ide seragam untuk menghilangkan kesenjangan sosial, akan tetapi bila pola pikir masyarakat masih seperti ini, maka akan tetap banyak orang yang memiliki tendensi untuk membuat kesenjangan-kesenjangan baru. Sekolah memang butuh identitas, tetapi bukan berarti identitas tersebut harus selalu dipakai setiap hari kan?








Itu adalah identitas individu, sementara pihak sekolah sendiri juga tak ada bedanya. Lihat saja, ada seragam khas yang tiap sekolah berbeda, yang menunjukkan ciri bahwa, inilah sekolah A, sekolah yang favorit dan gudangnya anak pintar. jadi sekarang, duluan mana, telur apa ayam? hehehehe…
Justru itu, kalau menurutku minimal dalam satu sekolah jangan sampai identitasnya dibedakan dari seragam (yang seragamnya bagus dan nggak, yang seragamnya hasil modif dan nggak, dll
).
identitas individu dalam satu wadah sekolah yang sama harus dilihat dari performa individu tersebut (prestasi akademik, prestasi nonakademik, dll).
Kalau antar sekolah satu dengan yang lain berbeda sebetulnya tidak masalah, tetapi apabila dilihat kalau tiap2 sekolah adalah individu2 didalam “sekolah depdiknas”. Maka seyogyanya ada suatu “keseragaman” dari segi kualitas. Baik itu fasilitas maupun standar pengajaran. Agar tidak ada lagi kejadian siswa SMK V Surabaya yang mencoret huruf “K”-nya dengan spidol dan mengganti jadi huruf “A” supaya dikira siswa SMA V Surabaya (ini kasus nyata lho
)
Sekolah swasta yang biayanya lebih tinggi mungkin boleh memiliki fasilitas lebih, tapi dari segi kualitas pengajaran seharusnya tidak boleh terlalu berbeda. Perlakuan yang didapat juga tidak boleh timpang, itulah sebabnya saya tidak suka dengan istilah “sekolah favorit”, saya lebih suka kalau masuk sekolah itu berdasarkan wilayah seperti yang (katanya) diterapkan Jepang. Tapi tentunya bila kualitas pengajarannya ridak “timpang” seperti sekarang
.
Jadi keinget seragam anak2 SMA di bandung, terutama seragam cewe2nya, hehehe..
Saya lebih melihat bahwa seringkali, di lingkungan saya, biaya seragam itu termasuk salah satu yang paling memberatkan orangtua, terutama ketika awal-awal memasuki sekolah atau kenaikan kelas..
memang seringkali tujuan yang awalnya mulia jadi nggak karuan, nah sebenarnya apa yang mesti dibenerin? oknum yang berbuat apa sistem peraturan yang harus dipertegas?
Tulisan brilian. Sayang membumihanguskan seragam tidak mungkin serta-merta, dan menyamaratakan bahan agak riskan prakter korupsi dkk…
#heri# jadi pingin lihat
#hafiz# yups, saya heran, padahal sudah diungkapkan oleh para peneliti bahwa seragam tidak punya efek yang signifikan terhadap prestasi, kenapa ya seragam itu kok harus bagus, kenapa ya seragam itu nggak yang biasa saja?
#peyek# IMHO tidak bisa satu-persatu, harus secara simultan, alias harus ada oknum yang berani membenahi sistem. Sebab kalau dibenahi satu-persatu hayna akan berputar-putar dalam lingkaran setan
#Mr Geddoe# Saya tidak menganjurkan untuk membumihanguskan seragam, cuma ingin agar kebijakan mengenai seragam itu lebih realistis dan konsisten. Kalau soal riskan praktek korupsi, apa sih di Indonesia yang nggak bisa dikorupsi?
Berarti mau nggak mau, hidup proyek pengadaan seragam dari sekolah!
Semoga nggak dikorupsi…
Pake seragam seperti Jepang. Rok mini, atau ala sailor kan gaul… asyik…
serius:
Menyeragamkan sebuah seragam?
Sebuah konsep baru…
Senin: Kostum sailor dan rok mini.
Selasa: Kostum suster.
Rabu: Kostum maid.
Kamis: Kostum office girl.
Jumat: Kostum polisi.
Sabtu: Kostum miko.
Oh, ini hanya yang cewek saja. Yang cowok silakan pakai sesuka mereka
Aduh, maaf, jadi ngelantur.
dan guru di kelas pun menjadi sutradara…
Jangan ngomong mesum.
*merasa munafik*
ckckck, ngomongin apa sih kalian (sambil siul-siul)
aslinya menyesal kenapa sekolahku seragamnya nggak gituSekolah saya dulu begitu, mas *bohong*
halah, nih anak satu,, ckckck,, Ma suka pake seragam, ga cape cape bingung milih mau pake baju apa hari ini,, hehehe,,
tapi ga setuju kalo seragamnya kaya saran Geddoe,, gimana caranya kostum sailor roknya panjang dan pake jilbab,,?
#Mr.Geddoe# lebih bagus atau lebih parah?
#Rizma Adlia# masa seharian pake seragam? kalo kostum sailor ya tinggal panjangin roknya aja terus pake jilbab
tapi nggak jamin fashionable atau nggaknya
tapi seragam pernah bikin temenku malu gara2 diusir satpam di Mall (dasar satpam gila, masakan dia nggak tahu kalau jam 16.00 itu sudah pulang sekolah
)
#Mar
Kan ada fullday school
Full day school iku opo sih?
Saya membayangkan, kalo anak sekolah dikasih seragam HANSIP.
Gimana yaaa?
Huahahahahahahahahaha
*ngakak guling-guling*
wow, nice posting…
klo di desaku masalah seragam memang buat ribut2….
bukan karena apa2.., tapi karena ga kuat mbayar seragam
seragam ya..
jadi inget jaman sekolah dulu..
sampe di kuliahan pun masih pake seragam euy..
tapi bener kata rizma.. ga repot kalo pake seragam mah..
ga sibuk nyari atasan yang matching ma bawahan..
btw, salam knaaaaallll
#Bangaiptop# bukannya sudah ada ya sekolah yang kayak gitu?
yang menghasilkan pembunuh dan bandar narkoba itu lho
#purna# harusnya seragam gak usah maksa ya?
#dwi# salam kenal juga, btw kampusnya norak banget ya masih pake seragam
(guyon lho ya)
Hehehe,, Ma sama Dwi satu kampus nih,, kalo mau ke rumah sakit, ada seragam Koas-nya,,
kalo sering sering sih bosen juga emang,, hehehe,,
Enaknya pake seragam ..karena gak usah keluar duid banyak buat baju
Gak enaknya jelas karena gak bisa gaya mweheheheh
aku sieh lebih seneng gak usah pake seragam..buat apa BCBGirl ada klo gitu..ato forever 21..ato sogo dan dept store2 lainnya
Menumpang komentar ya
Iya, saya juga kurang suka yang seperti ini.
Kalau yang namanya seragam ya harus seragam. Jangan dimodif-modif. Jangan diperkecil…
Dan kelihatannya salah satu fungsi seragam yang tersisa adalah indikator mana yang bisa diajak tawuran
*bercanda*
oughhh…gadis2 sma…oughhhhh….
seragam itu indah. seragam itu mengingatkan saya pada cinta pertama
Wah… seragam itu …. ga asyik banget..
Gimana mau menseragamkan Kualitas Pendidikan.. Seragam sekolah saja sekarang sudah TIDAK SERAGAM LAGI. Jenis SERAGAM makin BERAGAM. Sampai kita sulit membedakan mana yang seragam dan mana yang bukan.
Kang Mardun kemana aja???? Lama banget ga ngeblog lagi. Ditunggu ya…
hehehe, akhirnya bisa kembali ngeblog, setelah cukup lama terganggu. Huh, memang cinta itu buta
aku suka seragam.
aku juga suka kok
tapi liat-liat dulu seragam apa
seragam pilot aku suka.
apalagi pilotnya ganteng dan gagah.
ahahahhaaaaa…
Cowok kesekolah pakai rok dan cewek keselolah pakai celana.
Saya teringat pendapat Lumsden (2001) yang menyebutkan beberapa keuntungan penggunaan seragam sekolah, diantaranya: (1) dapat meningkatkan keamanan sekolah (enhanced school safety); (2) meningkatkan iklim sekolah (improved learning climate), (3) meningkatkan harga diri siswa (higher self-esteem for students), dan (4) mengurangi rasa stress di keluarga (less stress on the family)
ke sekolah kenakan seragam sekolah Tibyan
Seragam sekolah ?? Jadi pengen sekolah lagi..