Nak,
Entah sejak kapan aku memanggilmu dengan sebutan itu, dan entah sejak kapan pula aku berhenti memanggilmu dengan sebutan itu. Tapi yang jelas sekarang aku tidak akan bisa memanggilmu dengan sebutan apa-apa lagi.
Nak,
Hampir empat tahun yang lalu kita bertemu, kesan pertama dan keduaku padamu begitu bagus sehingga aku memperlakukan kamu dengan lebih istimewa. Bahkan teman-teman SC-ku bilang kalau kamu pantas jadi anakku. Mungkin dari situlah panggilan itu kugunakan untuk memanggilmu.
Waktu itu kita berdebat soal tugas yang cocok dan akhirnya kita sepakat untuk membuat tanda penunjuk jalan ke HMTC. Walaupun ternyata sampai kutulis surat ini mereka tetap tidak menunjukkan belasungkawanya di halaman mereka. Pada hari yang telah ditentukan aku menunggumu datang mengumpulkannya. Kemudian kamu datang membawa hasil karyamu itu dengan wajah yang sangat tidak sedap. Walaupun dilarang, aku coba sedikit melunak dan bertanya. Lalu kamu jelaskan kalau perutmu sakit. Ketika kutanya lagi kenapa kamu bisa sampai sakit, akhirnya kamu jelaskan bahwa kamu mengerjakan semua tugas itu hampir sendirian. Dari situlah terminologi
Cowok-Cowok Brengsek
Mulai dikenal luas dan masih digunakan di beberapa tempat sampai sekarang. Kamu juga sempat membuatku cegek sewaktu kamu dengan tenangnya mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan retorisku. Di usiamu yang masih semester satu kamu sudah membayar biaya kuliahmu sendiri. Dari situ aku merasa aku sama sekali bukan apa-apa dibanding kamu.Tapi tidak ada gading yang tak retak, ternyata dibalik segala kelebihanmu itu, kamu juga cukup slebor, untung saja waktu itu barang itu kutemukan hehehe.
Nak,
Setelah pengkaderan selesai aku hampir tidak pernah bertemu denganmu lagi, kamu juga sudah sibuk dengan duniamu sendiri. Terakhir kali kita bertemu kita malah membicarakan cowokmu dan hal-hal tidak penting lainnya. Dan kamu tetap tidak berubah, kamu masih menunjukkan wajah yang sama. Waktu Anti memberitahu aku tentang “hijrah”-mu ke alam baka, aku sempat tidak percaya. Tapi aku segera bisa menerima kenyataan dan berpikir kalau mungkin Tuhan sayang padamu. Tapi aku menyesal karena tidak bisa hadir di pemakamanmu.
Nak,
Di bawah pohon yang berdiri di makam di ujung kompleks Banjarsari kau dimakamkan. Di sebuah daerah yang masih ber-jalan tanah dan warungnya menjual rokok Marlboro berwarna oranye (karena begitu lamanya) namamu diabadikan di sebuah nisan. Di daerah dekat kantor bupati Gresik yang begitu megah di tengah-tengah daerah tanah itulah keluarga dan teman-temanmu melepasmu sebelum kita semua kelak akan menyusul.
Nak,
Sebetulnya aku berencana mencarimu sebelum kamu lulus, sebetulnya ada cukup banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi itu semua sudah terlambat, itu semua sudah berlalu dan aku tidak akan menyesalinya agar perjalananmu di alam sana tidak terbebani (geer banget ya aku). Semoga kamu bahagia di alam sana, semoga Tuhan memang sayang padamu, semoga kita semua bisa bahagia
Surabaya, 10 April 2007, 03:15
Yours Sincerely
C11-018
Untuk Lia, adik kelasku yang hebat. Walaupun aku tidak terlalu akrab denganmu, tapi kamu tetap seorang wanita yang hebat di mataku.








Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…
Turut berbelasungkawa yang dalam,
Lia, nama yang terlalu indah untuk diabadikan di sebuah nisan,
Tuhan sudah memanggil, manusia hanya bisa pasrah dan percaya.
Goodbye my friend.
Mungkin, hanya do’alah yang bisa menyampaikan suratmu kesana…
Semoga Allah memberikan kemudahan baginya untuk memasuki pintu surga-Nya yang agung. Amin.
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun turut berduka cita kawan…
Selamat jalan sahabat…
Turut berduka cita….
terima kasih a/ …
#picke# a/… itu apa ya?
‘Sejak semester satu bayar kuliah sendiri’ dun? Kamu gak salah ‘Lia’ ni…?
Emangnya ada lia lain ta? ya waktu itu sih dia bilangnya gitu………
ya udahlah mut, nggak usah diperdebatkan lagi, toh nggak ada manfaatnya