Setelah melewati banyak kejadian aneh, mulai dari orang mabuk teler yang berlagak bosan hidup, tuduhan penghamilan, dan beberapa kasus lain yang menyita waktu (halah kasus koyok detektif ae
) akhirnya rutinitas melatih voli kembali menyambut.
Karena UNAS SMA yang sudah kurang dari 2 Minggu (katanya), maka anak-anak kelas 10 dan 11 (1 dan 2) yang tidak ikut UNAS juga mulai tertular virus MSO ( Macak Study Oriented). Bisa ditebak, peserta latihan Voli menurun drastis. Hanya ada 5 orang Cowok dan 5 orang Cewek, bahkan tidak cukup untuk satu tim. Teman saya akhirnya mutung dan pulang (walaupun akhirnya balik lagi
) karena males.
Tapi dengan semangat 45 yang tidak pernah kita ketahui (karena belum lahir) kita tatap latihan. Justru gara-gara kondisi mbencekno inilah saya menemukan postulat baru untuk membangun sebuah tim. Kita pasti tahu betapa sulitnya untuk membentuk (kekompakan) sebuah tim yang besar dan anggotanya banyak. Sebut saja kelas, angkatan mahasiswa baru, MLM, dan sebagainya. Tetapi ternyata kesulitan tersebut bisa diakali dengan cara lain.
Untuk bisa membentuk sebuah tim besar yang solid, pertama-tama kita pecah dulu tim-tim tersebut menjadi tim-tim kecil. Hal ini dilakukan karena dalam sebuah tim yang kecil, kecenderungan untuk berinteraksi semakin besar sehingga waktu yang dibutuhkan untuk kompak semakin sedikit.
Banyak sekali contoh sebuah perusahaan atau tim besar yang berawal dari tim-tim kecil, sebut saja Google dan Hanna Barbera. Tim kecil akan lebih memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh setiap anggotanya sehingga eksistensi mereka menjadi lebih jelas, diakui, dan bermanfaat.
Kemudian setelah tim-tim kecil itu terbentuk, lakukan ekspansi atau penyatuan dari tim-tim kecil tersebut kedalam wadah yang lebih besar. Lakukan secara berulang ulang sampai wadah (baca tim) terbesar yang semula kita inginkan sudah terbentuk. Memang ini butuh waktu, tetapi hasilnya bisa lebih baik daripada kita memaksa langsung membentuk sebuah tim yang besar.
Contoh yang terjadi di Tim SMA saya ketika menghadapi paceklik pemain kira-kira seperti ini:
- yang rajin latihan cuma ketua sama satu orang anggotanya, Dias sama Yance (dua-duanya kelas 2)
- Akhirnya mereka makin lengket dan mengajak teman mereka yang pejabat sekolah si Adigolo. Mereka kemudian semakin lengket dan membentuk “Trio Libels “
- Setelah mereka makin kompak (padahal dulu saya ingat betul betapa mereka saling membenci dan suka berkelahi
) akhirnya satu orang anak kelas 1 berhasil mereka racuni untuk bergabung dalam gerombolan mereka. - Kemudian mereka ber-4 berhasil meng-convert salah seorang atlit dayung sekolah untuk bergabung juga. Akhirnya sampai sekarang kita punya 5 orang anggota pria yang sudah solid dan kompak. Bahkan terlalu kompak sehingga kalau berkumpul dan bercanda mirip anak autis karena orang lain tidak bisa mengerti
Ada banyak cara untuk menggerus tim-tim kecil kedalam tim besar. Salah satu cara yang dipraktekkan diatas adalah cara MLM. Dengan mengedepankan keteladanan dan edifikasi terhadap anggota tim mereka masing-masing sehingga orang, satu-per-satu, tertarik untuk bergabung.
Cara lain bisa dengan menggabungkan 2 tim kecil dalam sebuah wadah yang lebih besar, dan selanjutnya sehingga seperti sistem gugur dalam pertandingan sepak bola. Misalnya seperti waktu saya kuliah dulu :
- Ada tim sepakbola kelas genap dan kelas ganjil
- Karena ada pertandingan antar angkatan akhirnya tim genap dan ganjil dilebur (bukan diseleksi) dalam wadah yang lebih besar yaitu tim angkatan
- ketika ada pertandingan antar jurusan maka tim-tim angkatan dilebur menjadi tim jurusan
- dan seterusnya
Kemudian ada cara yang ketiga, yang penuh kontroversi, yaitu dengan melemparkan masalah yang sama kepada mereka. Hal ini bertujuan agar mereka, mau tidak mau, akan dipaksa untuk bekerjasama. Cara ini, bila dilakukan dengan instan, biasanya juga akan menghasilkan tim yang instan (baca oportunis). Jadi agar hasilnya maksimal, proses ini perlu diulangi berkali-kali dalam rentang waktu yang cukup lama. Biasanya cara-cara ini yang digunakan dalam OSPEK atau bahasa tempat saya “Pengkaderan” dan diklat-diklat olahraga maupun pecinta alam.
Cara yang lain lagi bisa dengan menggunakan cara tipuan punishment and reward. Anda bisa memaksa atau membentuk sebuah tim dengan menunjukkan pada mereka keuntungan atau reward yang mereka (mungkin) akan dapatkan kalau mereka bekerjasama. Dan sebaliknya tunjukkan kerugian atau punishment yang (mungkin) akan mereka dapatkan kalau mereka masih egois pada diri/kelompok kecil mereka sendiri.
Sebetulnya masih ada banyak cara-cara yang lain. Mungkin orang-orang yang lebih berpengalaman mau membagi ilmunya disini? Selamat membentuk Tim








kayaknya tipe punishment dan reward lebih ampun
namun sayangnya
suka bingung milih bentuk punishment dan reward yg tepat
Masalah yang harusnya dilempar itu masalah apa ya?
Kalo personil di timnya merespon dengan,”Itu kan masalahmu” atau “Aku emang bisa apa? Aku lho nggak bisa apa-apa” atau “Dia kan lebih tahu, biar dia aja yang ngurus”
Gimana? Maklum aku kan cupu dan nggak ngerti apa-apa…
Kalo salah satu metode yang aku tahu adalah mencari kesamaan, dekatkan pada keseharian dan tekankan pada simpulan, bahwa mereka itu sebenernya sama, dan punya tujuan sama.
#avank# pengalaman adalah guru yang paling baik, so selamat mencari pengalaman
#dnial# terserah, masalah yang sebagian besar punya, misalnya setiap orang dikasih satu keping dari sebuah jigsaw puzzle raksasa yang jumlah potongannya sejumlah anggota mereka
atau cara lain
kalau metode mencari kesamaan itu lebih cocok diterapkan untuk membangun opini daripada tim. seperti:
1. Ungkap yang tersirat
2. Susun yang acak
3. Dekatkan dengan keseharian
5. Tekankan kesimpulan