Egois dan Terhormat, Munafik dan Nista

Setelah baca komen di tulisan ini, trus komen di tulisan itu, dan beberapa komen serta kejadian-kejadian di dunia nyata, akhirnya setelah sekian tahun memendam saya akan menumpahkan uneg-uneg saya dalam tulisan ini.

Entah kenapa, terutama di kalangan anak muda, gejala fatalisme dan skeptisme mulai menjamur. Setiap kali melihat sesuatu yang mereka sendiri tahu itu tidak benar, mereka enggan dan malas untuk berbuat sesuatu. Mantra sakti yang digunakan selalu berkutat pada

Memangnya aku sudah bener kok mbener-mbenerin orang lain

memang pendapat itu tidak salah, yang namanya mbener-mbenerin itu memang dilarang. Kalau salah ya salah, bener ya bener. Jangan sampai ada yang disalah-salahin atau dibener-benerin.

Seperti kata pepatah, “karena nila setitik rusak susu sebelanga”. Seringkali hanya karena sebuah kesalahan kecil, orang sudah terlanjur menyamakan posisi orang lain sama hinanya dengan pemerkosa babi.

Orang selalu menghina orang lain yang mencoba menyuarakan hal yang diyakininya benar hanya karena orang lain itu tidak luput dari kesalahan. Jadi orang yang pernah mencium pacarnya waktu pacaran dianggap tidak berhak bicara tentang bahaya seks bebas, orang yang pernah nggak sengaja naik sepeda motor melawan arus dianggap tidak berhak bicara tentang keselamatan berkendara.

Saya sangat mengerti dengan orang-orang seperti ini, saya sempat menganut paham ini selama beberapa tahun. Saya juga tahu betul bahwa ada sebagian dari orang orang ini yang mengatakan hal-hal seperti itu (benahi diri sendiri dll) hanya untuk pembenaran saja karena mereka sebetulnya ingin bicara/bertindak tapi takut. Tapi kemudian sebuah kenyataan pahit dari seorang teman (kenalan sih, soalnya dia jadi bapak saya juga pantes) yang bekerja di dunia “hitam” perlahan-lahan merubah jalan berpikir saya.

Intinya dia cuma bilang begini

Nggak papa aku jadi bajingan atau maling, yang penting anakku jangan sampai meniru aku

anda yang membaca mungkin langsung akan menyematkan berbagai label kemunafikan terhadap orang ini. Tapi yakinlah, dia mengatakannya sambil berkaca-kaca dan dalam kondisi yang tidak mungkin berbohong (tidak perlu saya ungkap kondisi apa :P ). Dia tahu betul bahwa apa yang dia lakukan itu salah, dan dia tidak ingin ada keluarganya yang mengikuti jejaknya. Dan saya pikir yang lebih hina adalah orang yang menganggap orang ini munafik.

Bahkan orang yang paling hina sekalipun kadang-kadang bahkan sering bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Mungkin mereka memang lemah karena terpaksa mengambil jalan yang salah, tapi kita juga tidak tahu apa yang melatar-belakangi kan?

Agama (saya) mengajarkan untuk amar ma’ruf dan nahi munkar. Untuk saling mengajak berbuat kebaikan dan mencegah keburukan. Disana sama sekali tidak ada syarat dan ketentuan bahwa hanya orang baik yang boleh bicara tentang kebaikan kan?

Seseorang tidak pernah kehilangan haknya untuk menyuarakan kebenaran hanya karena dia sendiri pernah berbuat kesalahan. Seseorang tidak kehilangan haknya untuk menentang korupsi karena dia pernah mencontek. Dia hanya (mungkin) akan kehilangan haknya untuk berkata “saya bukan koruptor”. Tapi dia tetap berhak mengingatkan orang lain untuk tidak korupsi.

Walaupun klasik, tapi semua orang pasti pernah berbuat kesalahan. BahkanRasulullah SAW yang pernah kehilangan kesabaran terhadap salah satu umatnya tidak dicabut haknya untuk berwasiat tentang pentingnya sabar. Maksud saya adalah bahwa tidak ada orang yang tidak pernah salah. Semua orang pernah salah, dan itulah sebabnya ada kewajiban untuk saling mengingatkan. Cara mengingatkan itu kan macam-macam. Seperti kata teman saya yang sering saya kutip

nek gak kenek dicangkemi yo ditangani, nek gak kenek ditangani yo disikili

Saya tahu, memang orang-orang yang egois dan tidak pernah memikirkan orang lain itu mungkin jauh lebih terhormat. Mereka jauh lebih terhormat karena tidak munafik seperti saya yang sering bersepeda motor nggak pake helm tapi melarang adik-adik saya naik motor tanpa helm. Saya memang sering nyontek, toh saya juga sering mengkritik mereka yang mendapat nilai dengan cara tidak halal (menyuap, apalagi dengan tubuh).

Untuk apa kita hidup terhormat (baca egois, apatis, cynical, skeptis dll) dan mengaku beragama kalau kita hanya menghina orang lain dan membiarkan kesalahan terus terjadi. Masih untung maling yang melarang anaknya itu sadar kalau maling itu perbuatan “haram”, daripada orang yang terhormat dan tidak mau mengingatkan orang lain supaya jangan jadi maling padahal mungkin tanpa sadar dia juga pernah maling.

Saya tetap akan tetap menyuarakan kata hati saya untuk menghentikan korupsi, hentikan produksi rokok, jangan buang sampah sembarangan dan lain lain. Orang mau bilang saya munafik juga nggak peduli. Yang penting saya tidak akan pernah berkoar kalau saya tidak pernah korupsi, tidak pernah merokok, dan tidak pernah buang sampah sembarangan dll. Yang penting saya tidak cuma diam dan terus menumpuk kesalahan saya dan memendam diam jadi emas yang kuning seperti tae*.

Kalau harus menunggu orang yang benar-benar benar untuk menyuarakan kebenaran, sampai kiamat juga nggak bakalan ada. Rasulullah SAW yang akhlaknya katanya paling sempurna saja pernah salah kok. Toh dia tidak dipecat jadi Rasul. Evita Peron yang mantan pelacur juga tetap mendapat tempat dihati rakyat Argentina. Bahkan Khalifah Umar yang sudah membantai banyak orang tetap diijinkan bertaubat.

Memang butuh jiwa besar untuk bisa menerima kritik, apalagi kalau kritik itu dilontarkan oleh orang yang kita anggap lebih “hina” dari kita. Janganlah hanya karena “nila setitik rusak susu sebelanga”. Hanya karena orang itu pernah salah lantas kita anggap semua omongannya salah. Tidak ada orang yang 100% (benar atau salah). Lama-lama kita bisa jadi cynical, skeptis, dan akhirnya fatalis.

Dan jangan pula sampai terjadi kebalikannya, hanya karena orang itu punya citra yang baik lantas serta merta kita anggap benar (lah ujung-ujungnya bahas ginian lagi deh :P ). Bukan berarti kalau yang bicara MUI lantas makanan yang diproduksi dengan mempekerjakan orang seperti mempekerjakan hewan itu jadi halal. Bukan berarti kalau yang bicara Onno W Purbo lantas kita percaya saja kalau misalnya dia mengatakan tombol help itu ctrl+alt+del :P

Terserah anda mau memilih jalan hidup yang bagaimana, egois dan terhormat (maka diamlah selamanya), atau munafik dan nista (dan terus bicara). Tapi buat anda yang memilih hidup nista, tidak ada salahnya kan kalau kita mencoba mengurangi kemunafikan kita? Alangkah lebih baiknya kalau kita bisa berhenti mencontek sebelum bicara tentang korupsi, tapi kalau masih belum bisa, tetap jangan berhenti menentang korupsi (dan jangan lupa tentanglah korupsi anda sendiri :P ).

N.B tapi kalau munafik jangan keterlaluan, jangan sampai kita bilang “minum minuman keras itu haram” sambil memegang botol bir dalam kondisi mabuk :P .

20 Tanggapan ke “Egois dan Terhormat, Munafik dan Nista”


  1. 1 dr Maret 16, 2007 pukul 1:33 pm

    tapi kalau munafik jangan keterlaluan, jangan sampai kita bilang “minum minuman keras itu haram” sambil memegang botol bir dalam kondisi mabuk

    weh… siapa tu yang kamu sindir dun?

  2. 2 Helgeduelbek Maret 16, 2007 pukul 3:44 pm

    Yo wis ayo dikurangi kemunaf-kan kita. Yang penting semua tidak pada S.O.K itu khan?
    :D Salam

  3. 3 galih Maret 16, 2007 pukul 5:36 pm

    Ah, sebuah kehormatan dua komentarku menjadi sebab utama diangkatnya posting ini :-P Tapi aku tahu kok dun, kamu udah dapet inti sebenarnya dari dua komentarku itu secara udah kamu tulis lengkap di posting ini. thanks, great article :)

  4. 4 antobilang Maret 16, 2007 pukul 5:59 pm

    nek gak kenek dicangkemi yo ditangani, nek gak kenek ditangani yo disikili

    hahaha… di sikili itu artinya gimana sih, mas?
    dikasih bau jempol sikil? hahaha…bisa pingsan itu..

  5. 5 Ali S Kholimi Maret 16, 2007 pukul 9:30 pm

    Bismillah

    N.B tapi kalau munafik jangan keterlaluan, jangan sampai kita bilang “minum minuman keras itu haram” sambil memegang botol bir dalam kondisi mabuk

    Itu mah definisi dari fasik, CMIIW, bukan munafik. Munafik itu, kalau ketemu orang yang berpendapat minuman keras itu halal, maka berkata halal, kalau ketemu orang yang berpendapat minuman keras itu haram, maka berkata haram.

    Dalam kasus, saudara Galih, aku kira itu gak munafik kok. Ya, seperti katamu pada paragraf 2, skeptis. Keputus-asaan dalam melihat lingkungan sekitar. Keputus-asaan yang keterlaluan. :)

    Wallahu ‘alam

  6. 6 peyek Maret 17, 2007 pukul 7:35 pm

    mas, bukankah ini pembenaran atas “maling teriak maling?”

  7. 7 mardun Maret 18, 2007 pukul 12:35 am

    #dr# alah, udahlah itu kan masa lalu :P

    #helgeduelbek# yups….. sepakat deh pak

    #galih# tapi yang lebih bikin aku geleng2 kepala itu justru komen persis dibawahmu di blognya daniel itu lho lih :) tapi suer ini nggak bermaksud menyinggung siapa2

    #antobilang# hehehe maksudnya ya dikasih kaki alias ditendang :P

    #Ali S Kholimi# bukannya salah satu cirinya orang munafik itu perbuatannya tidak sesuai dengan perkataannya? CMIIW

    #peyek# gimana ya, memang bedanya tipis sekali. Tapi menurut saya maling teriak maling itu kalau dia menuduh orang lain maling dan dia berlagak bukan maling, yah mungkin seperti hanya melemparkan kesalahan saja tanpa solusi apapun. CMIIW :)

  8. 8 dr Maret 18, 2007 pukul 12:50 am

    ampun dun… sudah membuatmu geleng-geleng kepala :D

  9. 9 Ali S Kholimi Maret 18, 2007 pukul 6:04 am

    #Mardun

    Yup, kamu benar. Tapi tidak semudah contoh yang kamu berikan itu dalam menjelaskannya. Dalam hal ini, saya tidak heran banyaknya kesalahan penggunaan kata munafik, karena orang-orang banyak yang hanya menggunakan definisi yang sama seperti yang kamu pakai. Kalau aku membahasnya di sini, bisa-bisa tidak jadi comment, tapi satu posting besar, seperti posting-mu ini. :)

    Mungkin contoh gampangnya begini. Ada negara A dan B berperang. Negara C bilang pada negara A, aku stock kamu senjata deh, tapi tertutup saja ya. Negara C juga bilang pada negara B, aku stock kamu senjata deh, tapi tertutup saja ya.

    A dan B pun berperang. Dunia tahu kalau senjata kedua belah pihak dari C, tapi C bilang, mana buktinya, senjata saya kan bisa didapatkan dari pasar gelap. Sedang A dan B gak bisa ngomong apa-apa karena jual beli senjatanya gak pake surat, jadi gak ada bukti.

    Sedang jika disamakan dalam kasus yang kamu berikan, dalam hal ini, maka si C akan mengatakan, “Saya tidak setuju perang, tapi saya menjual senjata karena negara saya butuh uang.” Bukan malah menyembunyikan perannya mati-matian. Tapi, beda juga dengan kasus mata-mata lho ya, takut kalau-kalau nanti kalimatku yang terakhir ini kamu definisikan mata-mata sebagai orang munafik.

    Untuk penjelasan di atas, koreksi saya jika ada yang salah.

    Oh ya, ada lagi yang aku ingat banyak salah makna, adil vs bijaksana.

    #Peyek

    Maling Teriak Maling, itu kejadiannya gimana dulu?
    Bisa jadi, itu sesuatu yang bisa disalahkan 100%, namun bisa jadi itu bukan 100% salah.
    Dalam rentetan kasus yang diceritakan dalam posting ini oleh saudara Mardun, maka ini termasuk yang bukan 100% salah.

  10. 10 mardun Maret 20, 2007 pukul 12:45 am

    Itu bukannya pengadu domba ya?
    kalau waktu SMP dulu kata guru agama ciri2 orang munafik itu ada 3
    1. kalau ngomong dusta
    2. perbuatan tidak sesuai perkataan
    3. kalau dipercaya khianat

    itu syaratnya berlaku “or” atau “and” sih?

  11. 11 dnial Maret 20, 2007 pukul 10:19 am

    Weleh…
    Ngikut aja deh…
    Tapi pikiranku sederhana sekali untuk masalah ini:
    “Kalau bukan kita yang mengingatkan lalu siapa?”
    “Kalau bukan kita yang ngelakuin lalu siapa?”
    Siapa yang mau kita tunggu untuk mbuat keadaan membaik?
    Pemerintah? Polisi? Rakyat?

  12. 12 joesatch Maret 20, 2007 pukul 12:22 pm

    dunia itu abu2.
    saling mengingatkan aja dengan cara yang baik dulu :)

  13. 13 Anang Maret 20, 2007 pukul 2:02 pm

    ndak kenek disiliki di siliti ae.. heuheuheue

  14. 14 mardun Maret 21, 2007 pukul 1:44 am

    #dnial# wah kali ini aku setuju banget sama kamu dan :)

    #joesatch# kalo cara yang baik nggak mempan? :P

    #anang# nah ini kosakata baru, disiliti iku diapakno mas?

  15. 15 Evy Maret 21, 2007 pukul 11:56 am

    Ehhhm…double standard ga ya…gimana klo insaf dulu trus sharing, aku lebih suka bilang sharing/menyampaikan kebaikan, drpd memperingatkan org lain :), tapi memperingatkan disini aku ngerti dalam arti u care… it’s nice :)

  16. 16 Fast Maret 22, 2007 pukul 8:05 pm

    Koreksi diri masing-masing sebelum mengoreksi orang lain.

  17. 17 mardun Maret 23, 2007 pukul 12:16 am

    #evy# gimana kalo insaf sambil sharing :)

    #fast# emang ada ya orang yang kalo ngoreksi diri hasilnya nggak salah?

  18. 18 Mr. Geddoe Maret 23, 2007 pukul 8:39 pm

    Analogi;

    Saya kecebur ke comberan, penuh lumpur.
    Mas Mardun kecebur ke comberan, penuh lumpur.

    Lalu ada yang lewat, nanya ke saya; “Mas Mardun kecebur ke comberan?”

    Pertanyaannya, apa untuk menjawab “Iya” saya mesti mandi dulu?

    :D

  19. 19 mardun Maret 24, 2007 pukul 11:41 pm

    analogi yang agak aneh :P saya nggak tau nyambung ato nggak, tapi jelas jawaban saya “tidak” :)

  20. 20 Mr. Geddoe Maret 25, 2007 pukul 12:42 am

    Ya, kalau pakai logika bahwa ‘harus benar sebelum membenarkan’, saya tidak boleh mengatai Mas Mardur penuh lumpur, kalau saya sendiri juga berlumpur :P

Tinggalkan Balasan




This Blog Has Been Read

  • 44,608 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

Maret 2007
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031