Kesengsaraan Mulai Coba Saingi Agama

Ada suatu cerita tentang kecelakaan paling konyol yang pernah saya tahu. Kejadian yang menunjukkan betapa terbelakang dan piciknya mental bangsa kita (kebenaran dijamin 95%, sebab saya dengar dari orang yang menangani kasusnya yang kebetulan masih kerabat, 4% kemungkinan karena kurang/kelebihan cerita, 1% kemungkinan bohong).

Jadi gini ceritanya, waktu itu di sebuah daerah di pulau jawa, seorang kenalan saya, sebut saja doni, dan temannya sedang mengisi bensin di pom bensin. Setelah dia selesai mengisi dia bermaksud kembali melanjutkan perjalanannya. Ketika dia keluar dari pom bensin dan memasuki jalan yang 2 jalur dan baru berjalan beberapa meter, dia melihat ada sepeda motor dari arah berlawanan yang melaju kencang. Karena khawatir (meskipun dia di jalur yang benar) dia menghentikan kendaraannya. Bukannya terus menghindar, eh sepeda motor ini malah melaju kencang melalui jalur yang bukan miliknya. Hasilnya sudah bisa ditebak.

Akhirnya sepeda motor tersebut menabrak mobil si Doni dengan sukses dan dahsyat (bahkan mobilnya sampai terdorong mundur). Penduduk sekitar yang mendengar segera berhamburan keluar. Sebagian membantu pengendara motor (tidak saya sebut korban, sebab justru dia tersangkanya) yang terpelanting hampir 20 meter dibelakang mobil si Doni, sebagian lagi bekerja keras melepaskan sepeda motor yang menancap di mobilnya Doni. Tersangka segera dibawa ke rumah sakit dan kerumunan segera (seolah olah) bubar setelah polisi datang. Si Doni karena kasihan melihat kondisi tersangka yang sudah pasti luka parah nggak karu-karuan (dan cukup berumur), berinisiatif untuk menanggung biaya pengobatan sebagai bentuk simpati.

Masalah baru dimulai ketika tersangka mulai sadar. Tidak puas dengan ongkos rumah sakit yang ditanggung Doni, dia malah ngelunjak dan minta ongkos ganti rugi untuk sepeda motornya. Dengan berbagai alasan (sepeda motornya untuk kerja, dia orang miskin) bahkan dia berani menuduh kalau si Doni ini berada pada posisi yang salah (nah lo).

Warga sekitar tidak kurang gilanya, mereka mengerubuti dan mengancam mau membakar mobil si Doni karena dianggap “ugal-ugalan”. Opini setan darimana ini? sejak kapan mobil diam bisa disebut ugal-ugalan. Untung polisi segera mengamankan mobilnya di kantor polisi sehingga luput dari amukan massa.

Ternyata tidak kalah kurang asemnya, justru polisi tersebut menggunakan ancaman amuk massa tersebut untuk meminta “tebusan” ke Doni sebagai jaminan keamanan. Aduh apes bener si Doni ini.

Karena mangkel, stress, dan putus asa akhirnya si Doni minta bantuan kerabat saya yang kebetulan menjabat sebagai Hakim di kota tersebut untuk membantu. Akhirnya masalah bisa selesai dengan cukup adil (walaupun menyisakan dendam yang mendalam). Doni bisa pulang, mobil bisa diambil tanpa bayar tebusan, dan si tersangka harus puas “hanya” dibayari ongkos rumah sakit dan operasi yang “cuma” sekian juta.

Seandainya “Pembenaran Award” memang ada, maka posisi Agama sebagai juara bertahan selama dekade-dekade terakhir ini bisa jadi terancam oleh kuda hitam yaitu kesengsaraan. Sebab dengan dalih kesengsaraan orang selalu bisa melakukan pembenaran dan menyalahkan orang lain.

Coba kita lihat, dengan mengesampingkan kemanusiaan, sering sekali yang terjadi selalu begini :

  1. Yang naik kendaraan yang lebih “mewah” pasti disalahkan, kalau mobil VS motor pasti mobil yang salah, kalau motor vs pejalan kaki pasti motor yang salah, kalau apapun vs becak, bus, atau bemo pasti becak, bus, atau bemo yang benar (perkecualian untuk kereta api).
  2. Yang lebih baik kondisinya pasti disalahkan tanpa melihat siapa yang salah. Kalau ada yang masuk rumah sakit pasti lawannya yang disalahkan
  3. Kalau ada pemilihan ketua, kepala desa, atau pimpinan lainnya, yang latar belakang hidupnya lebih sengsara (dan kadang-kadang dilebih-lebihkan) biasanya yang menang
  4. Kalau ada perdebatan terutama yang topiknya sosial-ekonomi, biasanya yang lebih nggak kaya yang menang karena menyerang lawannya menggunakan kata-kata wasiat “mentang mentang kaya” atau “kamu nggak tahu rasanya susah sih”.

Seperti kasus Doni tadi, atas nama kemanusiaanlah dia menawarkan untuk menanggung ongkos rumah sakit, bukan karena dia merasa bersalah. Tetapi orang-orang menganggap bahwa sikap Doni tadi sebagai suatu keharusan dan bentuk tanggung jawabnya karena dia bersalah. Pandangan seperti inilah yang menyesatkan, kita harus bisa membedakan antara simpati dengan tanggung jawab. Status sosial tidak menentukan apakah orang itu benar atau salah.

Sering pula dalam beberapa kasus kita menggunakan kesengsaraan sebagai senjata. Banyak sekali kasus dimana orang menggunakan kata-kata wasiat “mentang-mentang kaya” dan sejenisnya sebagai senjata untuk menyalahkan orang lain. Padahal sama sekali tidak ada relevansinya dengan kasus tersebut. Walaupun kata-kata itu tidak salah, tapi kita harus bisa menggunakan kata-kata itu sesuai konteksnya, jangan asal diumbar saja.

Memangnya orang miskin (baca sengsara) itu nggak boleh salah? memangnya orang sengsara bebas berbuat apa saja (naik motor nggak pake helm, ngebut melawan arus seenaknya, kencing sembarangan dll) atas nama kesengsaraan? coba kalau yang berbuat seenaknya itu nggak sengsara, pasti kata-kata wasiat itu langsung meluncur dari mulut orang-orang.

Inilah yang saya maksud mental yang picik. Kita seringkali merasa bisa berbuat seenaknya dan menyalahkan siapa saja (yang jelas-jelas tidak bersalah) hanya karena kita merasa hidup kita sudah cukup susah dan sengsara.

Orang orang seperti ini selalu menuntut “keadilan”, tapi yang mereka anggap keadilan adalah pembenaran atas semua tindakan mereka karena mereka sudah cukup susah. Coba anda lihat perilaku membahayakan bus, bemo, dan becak di jalanan, apakah mereka mau disalahkan? padahal mereka mereka membahayakan nyawa mereka, pengendara lain, dan penumpangnya. Mereka tidak sadar bahwa merekalah yang sebenarnya tidak adil.

Kalau terjadi kecelakaan dan disalahkan mereka pasti bilang “iyo, mentang-mentang sugih, kon gak ro rasane susah ngejer setoran gae nguripi anak bojo” (ya, mentang-mentang kaya, kamu nggak tahu rasanya kesulitan mengejar setoran untuk menghidupi anak dan istri).

Pembenaran macam apakah ini? mungkin kalau mereka (bus bemo dan becak) yang melakukan pembenaran seperti ini agak bisa dimaklumi karena mereka tidak kurang berpendidikan. Tapi ternyata banyak juga mahasiswa, sarjana, bahkan guru dan dosen yang notabene berpendidikan cukup tinggi yang menggunakan pembenaran sesat seperti ini untuk memenangkan perdebatan atau kepentingan mereka. Bahkan ada yang menggunakan kesengsaraan mereka untuk menarik simpati dalam berkampanye.

Lalu apa bedanya orang-orang seperti ini dengan para tukang bakar diskotek dan pembredel majalah porno (yang cuma porno karena merknya) atas nama agama dan akhlak?. Mereka sama-sama selalu merasa benar dengan menggunakan pembenaran yang sensitif dan membuat orang takut untuk mendebat. Yang menyedihkan, orang-orang seperti ini jumlahnya kok justru makin lama makin banyak ya?

23 Tanggapan ke “Kesengsaraan Mulai Coba Saingi Agama”


  1. 1 wadehel Maret 15, 2007 pukul 8:54 am

    Eeeuuuuh, bener banget itu. Di tempat saya udah umum tuh pake kesengsaraan buat pembenaran.

    Kalo gitu kambing hitamnya siapa dong?
    Pendidikan? Kok banyak orang sekolahan juga melakukannya?

    Kesadaran? Hmmm…

    Atau ga ada kambing hitam?

  2. 2 galih Maret 15, 2007 pukul 9:49 am

    Yeah, dan biasanya mereka juga bisa ngomong semacam posting ini. entahlah kenapa bisa begitu: orang-orang teriak anti korupsi tapi diri sendiri juga korupsi. pusing kalo mikir begituan, enakan mikir diri sendiri, egois is the best!

  3. 3 kakilangit Maret 15, 2007 pukul 11:14 am

    Betul..dan kadang dengan alasan yang sama (kesengsaraan) orang bisa nekat melakukan tindakan kriminal seakan bahawa hukum bisa tunduk dengan yang namanya sengsara. misal mencuri, menjarah, tapi yang jelas bukan memperkosa :D

  4. 4 dnial Maret 15, 2007 pukul 2:51 pm

    Ya, itulah mas Mardun (dengan gaya Jarwo Kuat di Kerajaan Mimpi), Pembodohan terstruktur budaya feodal yang salah kaprah yang tidak relevan dan signifikan.

    Emang dia kira orang kaya itu dulunya nggak miskin. Lim Soe Liong harus bangkrut beberapa kali sebelum jadi kaya raya. Tukul pernah jadi sopir, dan merangkak dari bawah. Zidane juga datang dari kalangan miskin.

    Oh ya kembali ke topik utama.
    Jaman dulu itu budaya kan budaya Feodal. Yang kaya ya para bangsawan itu(andai jaman itu masih berlangsung mungkin aku jadi bangsawan juga hehehehe…. sayang….). Dan kekayaan dan kekuasaannya turun-temurun. Jadi (dulu) wajar kalo orang nganggep orang kaya berarti keluarganya kaya, kakek neneknya kaya, buyutnya kaya… Dan artinya dia nggak pernah miskin nggak tahu rasanya jadi orang miskin.

    Asumsi yang nggak relevan dan signifikan untuk masa kini. Tapi (sayangnya) masih dipakai.

  5. 5 arifkurniawan Maret 15, 2007 pukul 9:23 pm

    “Mentang-mentang kaya”…. Kadang jargon ini dipakai sebagai pembenaran. Kacau deh.

    Andai jargon tersebut diganti… jadi… “Mentang-mentang ganteng”.

    Mungkin paradigmanya berubah kali yaaa.

    whehehe.. OOT lagi nih.
    (*Kacau seharian bisa OOT gini*)

  6. 6 manusiasuper Maret 15, 2007 pukul 9:29 pm

    Benar Pak, kalo ditempat saya, ada wanti-wanti ‘jangan tabrak tukang becak’… Ga peduli siapa yang salah, yang bayar pasti kita, he…

  7. 7 dr Maret 15, 2007 pukul 10:20 pm

    well, berarti konsep “memberantas kemiskinan” itu bisa juga dibenarkan kan?

    ah… itulah indonesia, aku nggak tau sih dengan kondisi di India (negara no.1 dengan gaya nyetir ugal2an didunia, no.2 indonesia lho), kira2 kalo kasus si doni itu diapakan ya?

  8. 8 rasyid Maret 15, 2007 pukul 10:56 pm

    sepakat mas..
    dibekasi kadang angkot seenaknya menaikan dan menurunkan penumpang ditengah jalan..dan kalo diklakson, kebanyakan dari mereka marah sambil bilang “Dasar mobil pribadi, belagu amat seh lo..!!” Heran gw galakan yg salah..
    Satu lagi Teman Bapak saya punya sebidang tanah (lupa luasnya dan dimana) nahh..dia perlu uang mau jual tanahnya tapi ragu2 masalahnya Tanahnya udah jadi pasar. Kebayangkan masalah yang dihadapi kalo dia mau jualin tanahnya
    Emang caur neh negara..ngga kaya ngga miskin..sama caurnya..!!

  9. 9 mardun Maret 16, 2007 pukul 6:43 am

    #wadehel# ya nggak perlu kaming hitam, kalau memang bener ya bener, nggak usah cari pembenaran dunk :P

    #galih# emmmmm amar ma’ruf nahi munkar mungkin? :) awas kamu entar kualat sama daniel lho :P

    #kakilangit# perasaan memperkosa juga deh, soalnya ongkos lokalisasi yang berlisensi kan mahal :P

    #arifkurniawan# pokoke konteksnya cocok kang

    #manusiasuper# kalau setahu saya sih, yang “punya” jalan itu ada 3B bus bemo becak, kalau taxi itu penanam saham :P

    #dr# “memberantas kemiskinan”?

    #rasyid# wah ditempat saya malah ada bapak-bapak yang jadi setengah gila dan suka teriak-teriak diperempatan gara-gara tambaknya dijarahi warga sekitar. kasihan banget deh, padahal sudah tua orangnya

  10. 10 Helgeduelbek Maret 16, 2007 pukul 2:43 pm

    Itu karena kesombongan dan segala prilaku buruk serta kesewenang-wenangan sudah di generalisasikan untuk orang “kaya” maka di Indonesia jangan harap deh…

  11. 11 antobilang Maret 16, 2007 pukul 6:03 pm

    Kalau ada pemilihan ketua, kepala desa, atau pimpinan lainnya, yang latar belakang hidupnya lebih sengsara (dan kadang-kadang dilebih-lebihkan) biasanya yang menang

    bener ini, udah ada buktinya tuh, yang lagi megang kekuasaan negeri ini…

    hahaha

    *kabur ah*

  12. 12 mardun Maret 18, 2007 pukul 12:20 am

    #helgeduelbek# iya, lewat apa ya pen-stigma-an itu terus-terusan berlanjut? apa sekolah juga punya peran?

    #antobilang#…………………………………….

  13. 13 Aufa Maret 20, 2007 pukul 2:35 pm

    Ada kemungkinan penyebabnya adalah akumulasi kesengsaraan yang dirasakan. Padahal orang-orang yang miskin dan sengsara sadar bhw kondisi kemiskinan mereka itu tidak lepas dari struktur sosial yang tidak adil.

    Kita tahu bahwa kesewenang2an kekuasaan, arogansi dan kemewahan sering didemontrasikan didepan hidung mereka ditengah2 hidup mereka yang susah. Kita jg tahu bahwa orang2 miskin dan menderita jg sering mengalami konflik dengan orang kaya, namun mereka sering dikalahkan oleh polisi, pengadilan dan opini media, karena hukum dan informasi telah dibeli oleh orang2 kaya.

    Namun memang sayangnya ekpresi ‘kemarahan’ itu dilampiaskan secera generalasir.

    Karena itu, menurutku selama ketidak adilan terhadap kekuasaan, ekonomi,politik, informasi dan pendidikan masih terus berlansung, maka sikap dan mental ‘picik’ itu akan terus tumbuh subur.

  14. 14 mardun Maret 21, 2007 pukul 1:49 am

    jadi inget komik tales of the sea king deh :)

  15. 15 Mr. Geddoe Maret 22, 2007 pukul 11:10 pm

    Akhirnya ada juga yang menulis seperti ini (atau sebenarnya sudah banyak dan hanya saya saja yang kurang membaca?). Entah sejak kapan sengsara itu sinonim dengan kebenaran.

  16. 16 mardun Maret 23, 2007 pukul 12:21 am

    sejak mulai banyak orang yang sengsara mungkin? :P

  17. 17 Mr. Geddoe Maret 23, 2007 pukul 9:51 am

    Entahlah, ketika saya lahir, stigma seperti itu sudah ada :)

  18. 18 mardun Maret 24, 2007 pukul 11:45 pm

    :) berarti sudah sejak lama sekali dong.

  19. 19 buchin Maret 25, 2007 pukul 11:05 am

    Aku semakin takut untuk berasumsi

  20. 20 mardun Maret 26, 2007 pukul 12:19 am

    berasumsi tentang apa chin?

  21. 21 Sunarya Mei 11, 2007 pukul 1:32 pm

    Pembenaran semacam ini bukan cuma untuk alasan kesengsaraan aja kok, sebenarnya meski gak sengsara, watak bangsa kita memang egois, menghalalkan segala cara, mau menang sendiri. Tapi kita juga harus obyektif ya, jangan pukul rata, harus dilihat sebab2nya juga. Misal, ada orang jualan mobil di rumah, mobilnya banyak diparkir dimana-mana sampe di depan pagar dan rumah tetangga, jelas ganggu tetangga. Begitu tetangga protes, apakah protes itu salah karena dianggap pembenaran akibat ‘kesengsaraan’ atau ‘iri’ akibat kesuksesan si penjual? Atau ada yang gunakan rumahnya jadi rumah bordir, tetangga protes juga dianggap salah? Soal pornografi, jelas itu ganggu orang lain, karena mereka gunakan ruang publik untuk mengeruk keuntungan, apalagi jelas merusak moral generasi muda. Apakah yang protes dianggap munafik atau sok moralis? Kita tahu kenapa pengendara motor dan masyarakat punya opini ’sesat’ tersebut, akibat tidak ada penerapan hukum obyektif yang melindungi hak orang. Seperti tadi, petugas yang seharusnya melindungi secara obyektif tapi ikut meres seperti masyarakat. Hanya yang kuat yang menang, termasuk yang kuat bikin opini, seperti media massa yang mengusung pornografi.Di negara maju, ada hukum yang melindungi moral bangsa, termasuk jual playboy gak boleh sembarangan, apalgi dijajakan di tengah jalan umum. Akibat gak ada batasan tadi, ada orang yang merasa hak asasinya untuk gak diganggu masalah susila (termasuk ingin mendidik anak2nya jauh dari pengumbaran syahwat) diinjak-injak oleh kelompok pemilik modal yang mencari ’sesuap nasinya’ dari jualan pornografi dan prostitusi, dengan dalih kebebasan ekspresi atau juga hak asasi. Seperti kasus inul, Gus Dur bilang pelarangan pada inul melanggar hak asasi inul, tapi dia gak mikir bagaimana dengan hak asasi masayarakat yang terganggu oleh ulah inul di ruang publik? Kalo mau sex bebas, pornografi, foto/lukisan telanjang, monggo tapi gunakan ruang privat, jangan ruang publik. Majalah, TV, panggung pertunjukan, itu ruang publik, bukan ruang privat. Setiap orang silahkan berekspresi semaunya tapi dengan syarat : jangan ganggu orang lain yang btidak semua suka pada tingkah lakunya. Makanya di negara maju yang liberal itu tetap ada batasan, karena gak boleh ganggu orang lain. Nah, pendididkan ini yang gak ada di negeri ini, termasuk ugal2an naik sepedamotor, silahkan kalo pake jalan pribadi dan tidak bahak orang lain. Memang kelakuan pengendara sepedamotor makin memuakkan, bukan cuma cara berkendara saja, tapi jugapolusi suara yang memang disengaja akibat pikiran picik mereka yang merasa gagah dengan suara berisik karena merupakan representasi watakp preman, suatu profesi yang amat membanggakan di negeri ini. Inilah akibat kebodohan dan kemiskinan yang makin mendekatkan pada kekufuran.

  22. 22 mardun Mei 13, 2007 pukul 6:24 pm

    Mungkin definisi “gangguan” itu yang harus lebih dijelaskan?

    sampai manakah orang punya hak untuk menegur orang lain dengan alasan “terganggu” ?


  1. 1 Egois dan Terhormat, Munafik dan Nista « Altearis Lacak balik pada Maret 16, 2007 pukul 8:16 am

Tinggalkan Balasan




This Blog Has Been Read

  • 95,150 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

Maret 2007
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

a