Sore itu, setelah suatu pertandingan bola voli di sebuah kampus negeri di Surabaya, diadakan evaluasi di sebuah kantin didepan sebuah laboratorium bidang minat di sebuah jurusan di kampus tersebut.
Edo : Mainku opoo yo mas? (permainanku kenapa ya mas?)
Vanek : Kon iku kakean sambat do (kamu itu terlalu banyak mengeluh do)
Edo : Opoo emange mas? (memangnya kenapa mas)
Vanek : Kon iku nek sambat malah ngaco, wis ta gak usah dipikir, gak ngarah gak nek mbok pikiri terus mengko kon dadi iso (kamu kalau mengeluh malah jadi ngawur, sudahlah nggak usah dipikir, nggak mungkin kalau kamu pikirkan terus lantas kamu jadi bisa).
Edo : Ooo ngono yo mas, terus aku kudu lapo? (ooo gitu ya mas, terus aku harus bagaimana?
Vanek : Yo latian do, sing semangat, teknik dasar didandani (ya latihan do, yang semangat, teknik dasarnya dibenahi)
…………………………………………………………
dan dialog itu masih terus berlangsung. Aku yang mengambil posisi persis didepan mereka berdua senyum senyum sendiri. Edo itu adalah tosser dari tim voli SMA-ku. Vanek itu (kuliah di ITS Surabaya) adalah mantan tosser yang baru lulus tahun 2006 kemarin, sekarang dia berduet dengan temannya melatih tim voli putra SMAN 5 Surabaya.
Pertamanya sih aku senyum-senyum sendiri karena lucu melihat Edo dimarahi, aku juga bangga melihat Vanek menasihati Edo dengan sebuah pelajaran yang sangat berharga. Ya, pelajaran yang membuat senyumku hilang sesaat kemudian. Ternyata seorang “maba”-pun mengerti bahwa mengeluh itu adalah pekerjaan bodoh. Aku jadi merasa tersindir. Aku jadi sadar kalau belakangan ini aku terlalu banyak mengeluh dan bertingkah seperti orang stress karena sedang menghadapi banyak masalah.
Ternyata aku beruntung, aku bisa bercermin dari dua orang “anak kecil” didepanku. Memang pelajaran akan datang dari sumber yang mungkin tidak kita duga sama sekali, dan datangpada saat yang tidak kita duga juga. Yang jelas aku bersyukur dan bangga memiliki adik-adik sehebat mereka.
Mengeluh, konon adalah satu dari dua pekerjaan yang paling mudah dilakukan oleh manusia (yang satunya adalah menyalahkan orang lain). Hampir tidak ada efek baik yang dihasilkan melalui mengeluh, apalagi kalau tidak dibarengi dengan tindakan yang nyata dan solutif.
Terlalu banyak mengeluh akan membentuk mental kita untuk cenderung menjadi pecundang. Kita akan terbiasa untuk menerima kegagalan dengan menyalahkan orang lain. Hati kita akan buta terhadap segala kelemahan diri kita karena setiap kali kita gagal kita selalu mempunyai alasan. Hal ini akan menyebabkan perkembangan karakter kita terhambat.
Di samping itu, mengeluh juga akan membentuk kebiasaan hidup yang cenderung negatif. Tanpa disadari, dengan sering mengeluh kita akan lebih jarang tersenyum (konon senyum itu sehat). Kita juga akan lebih rentan terkena stress karena merasa terlalu banyak masalah. Kita juga akan mudah terkena penyakit-penyakit yang bersahabat dengan stress yaitu jantung, darah tinggi, dan mudah capek.
Walaupun demikian, mengeluh juga bukan tanpa manfaat. Bila dilakukan sewajarnya, kadang-kadang mengeluh justru dapat melegakan hati kita karena beban yang ada bisa kita keluarkan, apalagi kalau kita mengeluh pada orang-orang yang tepat misalnya Tuhan atau orang tua kita. Yang penting adalah apabila kita mengeluh pada orang lain, yakinkan diri kita bahwa kita sedang mencari solusi, bukan mencari pelarian dari masalah kita. Dan yang harus dihindari adalah mengeluh untuk mencari perhatian dan simpati orang (apalagi lawan jenis), orang kayak gini ini harus banyak belajar menjadi pengeluh profesional sama Daniel deh
.
Jadi ingatlah, mengeluh sih boleh boleh saja, tetapi lakukan sewajarnya dengan niat yang benar dan pada orang yang tepat. Dan mungkin kita justru akan mendapatkan jawaban atau petunjuk lebih cepat dari yang kita harapkan melalui cara/orang yang tidak kita duga.
Masalah itu harus diselesaikan. Supaya bisa menyelesaikan masalah kita harus fokus dan percaya diri. Yang fokus saja belum tentu berhasil, apalagi yang nggak fokus.
-Bapak saya yang sangat saya banggakan-
Kalau sudah selesai mengeluh, jangan lupa selesaikan masalahmu dengan segera!! mengeluh tanpa menyelesaikan masalah sama saja dengan makan bersama Peter Pan di Neverland, nikmat tapi tidak kenyang








pertamax!!!!!!
Mengeluh boleh saja, akan tetapi setelah itu harus ada tindakan-2 yang nyata atas persoalan yang sedang di hadapai.
Saya paling tidak suka dengan orang yang bisanya hanya mengeluh saja, akan tetapi dia tidak mau mencoba mencari jalan keluar.
Mengeluh itu manusiawi
Tetapi yang tidak manusiawi adalah terus menerus mengeluh….
Semoga persoalannya akan cepat selesai
Kalau cermin ada di mana-mana bikin pusing kepala yah, cerminnya banyak banget, mantul sana sini, heheheh. Kalau gitu gaji guru juga gak boleh dikeluhkan, nikmati saja yah, lihat mereka yang dibawah kita, hidupnya lebih terlunta-lunta.
#prayogo# betul, solusi dan mengeluh itu hubungannya ibarat sekrup roda pada mobil. walaupun mobil bisa jalan tanpa sekrup roda, tapi tidak akan lama
#helgeduelbek#
wah bukan gitu maksudnya pak, yang namanya ketidak-adilan (halah) memang harus dikeluhkan, tapi disertai lampiran solusi mengatasinya juga dong
kasian dong orang yang dibawah kita? selalu jadi hiburan saat kita merasa susah. kita bisa terhibur karena melihat mereka lebih susah dari kita
Opo maksutmu pengeluh profesional?
bener mas, apalagi lek wayahe TA ngene ato sebut saja pada saat masa akhir2 hidup di TC, banyak sekali yang saya jumpai pengeluh-pengeluh tentang TA mereka, tentang kemana mereka setelah ini, bingung, sumpek dll . Kalo aku sendiri sedang bingung, sekarang lebih banyak melampiaskan dengan membaca buku2 motivasi dan tentu saja baca Al Qur’an, kalo bisa sama tafsirnya.
dulu waktu kuliah sumpek, dah kerja sekalipun tetep sumpek, wis married sumpek, weleh kapan terange(baca: gak sumpek,-red) yo….
#rile# ya gak papa to ril mereka mengeluh, sing penting digarap kan, nggak mutung
#peyek# waduh, sampeyan tanyak saya, saya tanyak siapa?
tapi kalo liat berita eh infotaintment tadi, menurut pepeng (pelawak) dan istrinya, susah itu kan dari hati, kalo mau nggak susah/sumpek ya dianggap gampang aja (kata mereka lho)