Biasa, kenapa Tidak?

Cinta laki-laki biasa, Sebuah cerita yang disadur dari blognya mbak Meme memang sebuah cerita yang istimewa. Menceritakan tentang seorang perempuan yang membuat sebuah pilihan yang tepat dalam memilih calon pendamping hidupnya. Dia memilih untuk menikahi seorang laki-laki yang terlalu biasa. Bahkan ketika seluruh dunia menentangnya, dia tetap bersikeras memilih karena mengikuti kata hatinya (sebab dia juga tidak bisa menemukan alasan untuk membuat laki-laki tersebut pantas dipilih).

Memang terkadang kita mengalami suatu pergeseran bahasa yang aneh. Kata-kata “biasa” yang berkorelasi dengan “sering” dan “stabil” justru dianggap sebagai suatu cara halus untuk mengatakan “jelek” atau “tidak pantas”. Padahal justru seringkali yang biasa itulah yang menuai hasil akhir yang baik karena sudah memiliki fondasi yang mantap seperti kata pepatah “bisa karena biasa”.

Dalam berbagai masalah kehidupan yang membutuhkan sebuah pengambilan keputusan (khususnya cinta), kita tentu selalu memiliki variabel-variabel yang digunakan untuk menguatkan keterpihakan kita pada sebuah keputusan. Seringkali sebuah keputusan kita tinggalkan jauh-jauh karena terlalu “biasa”.

Hal inilah yang patut diwaspadai, karena sebenarnya tidak ada yang salah dengan biasa. Sama tidak salahnya dengan berbeda. Itu cuma masalah pilihan, kita ingin beda atau biasa. Walaupun jika hidup kita “biasa-biasa” saja akan mengurangi seni, tetapi selalu berbeda juga bukan sebuah pilihan yang baik. Karena terkadang untuk mencapai hasil yang baik kita perlu mengambil posisi dan keputusan yang “biasa”.

Intinya, yang terlihat tidak selalu melambangkan isinya, “a ninja must see underneath the underneath”, kata Kakashi dalam serial Naruto. Walaupun kita bukan ninja, tetapi tidak ada salahnya prinsip itu kita ikuti.  Jangan kita menilai sesuatu itu jelek hanya karena “biasa”. Apalagi jika itu adalah keputusan yang akan sangat mempengaruhi hidupmu (seperti memilih pasangan hidup atau sekretaris pribadi misalnya :) )

Jadi kalau orang bilang:

Kenapa takut beda?

Saya juga akan bilang:

Kenapa takut biasa?

14 Tanggapan ke “Biasa, kenapa Tidak?”


  1. 1 xwoman Februari 25, 2007 pukul 8:09 pm

    Biasa dan tidak biasa tergantung dari kasus (walah kasus), topik atau tema yang akan diselesaikan..
    sekian terimakasih :)

  2. 2 dr Februari 25, 2007 pukul 10:09 pm

    sekretaris pribadi misalnya

    hati2 dun… :p

  3. 3 mardun Februari 26, 2007 pukul 1:27 am

    #xwoman# sepakad, namun apapun kasusnya, “biasa” tidak selalu berarti negatif kan?

    #dr# ya, terima kasih atas peringatannya :P

  4. 4 arifkurniawan Februari 27, 2007 pukul 2:21 am

    Mardun…,

    ada apakah gerangan seorang pakar jomblo tiba-tiba bicara mengenai pelabuhan cinta?

  5. 5 helgeduelbek Februari 27, 2007 pukul 11:59 am

    @ arif kurniawan : mungkin den madun keseringan men-joomla-kan sehingga didapat hasil tentang pelabuhan cinta

  6. 6 d-nial Februari 27, 2007 pukul 1:16 pm

    Kamu pengen berubah jadi orang biasa, dun?
    Atau kamu skrg “dituntut” jadi orang biasa, karena kamu sudah terlalu sering bertingkah tak biasa?

  7. 7 mardun Februari 28, 2007 pukul 1:45 am

    #arifkurniawan# pakar jomblo? maksudnya?

    #helgeduelbek# menjoomla itu apa ya pak?

    #dnial# mungkin lebih tepatnya tergoda untuk jadi orang biasa :)

  8. 8 rianto Maret 1, 2007 pukul 10:12 pm

    sepertinya memang enak jadi orang biasa, karena setahuku orang biasa itu:
    1. lebih objektif dalam menilai sesuatu hal
    2. lebih mudah menerima ketika dihadapkan pada sesuatu yang jauh dari kebiasaan
    3. lebih menghargai ketika mendapatkan sesuatu hal yang luar biasa
    4. terkadang bisa membuat sesuatu hal yang biasa menjadi luar biasa
    5. dll..

    jadi kesimpulanku jadi orang “biasa” itu bagus, tapi jangan jadi orang yang “biasa saja”.

    crirw :)

  9. 9 mardun Maret 2, 2007 pukul 1:09 am

    pengalaman pribadi nih rie?

    aku setuju sama poin 3, kalau 1,2, dan 4 kayaknya orang yang nggak biasa pun juga bisa:

    1. lebih objektif, contohnya Nabi Muhammad S.A.W
    2. lebih mudah menerima hal yang jauh dari kebiasaan, contohnya para seniman yang penampilan maupun gaya hidupnya “jauh” dari kebiasaan :P
    3. Membuat hal yang biasa menjadi luar biasa, contohnya Newton yang bisa membuat apel menjadi temuan rumus yang mendunia :P

    btw, bedanya orang “biasa” sama “biasa saja” itu apa ya?

  10. 10 kakilangit Maret 12, 2007 pukul 12:22 pm

    Yoi banget..
    kadang jadi yang biasa (pasaran,umum) lebih nyaman daripada jadi beda.

  11. 11 mardun Maret 14, 2007 pukul 12:14 am

    tapi kamu kan luar biasa sup, kamu kan ***b**g :P

  12. 12 nieznaniez September 17, 2007 pukul 12:16 am

    aku ga suka jadi biasa

  13. 13 nieznaniez September 17, 2007 pukul 12:18 am

    btw, pasang link UNDIP di “Other Links”-mu,mas..

  14. 14 mardun September 17, 2007 pukul 3:09 am

    Ya gpp toh, itu kan pilihanmu mau jadi biasa atau “biasa” :)

    btw, soal link, beres dah, segera setelah aku bisa mengakses internet yang bisa mengupdate linknya. soalnya koneksi yang ini nggak bisa (entah kenapa)

Tinggalkan Balasan




This Blog Has Been Read

  • 44,608 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728