Kolaborasi Kahlil Gibran dan SOAD?

Pernah dengar kata-kata ini :

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau, tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu, tapi mereka bukan milikmu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh, bukan jiwa mereka. Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

itu kata-kata penyair terkenal Kahlil Gibran yang konon banyak disadur ke lagunya grup musik Dewa. Atau mungkin yang lebih gaul dan cinta musik pernah dengar lagunya System Of A Down (SOAD) yang liriknya seperti ini:

You and me will all go down in history,
With a sad Statue of Liberty,
And a Generation that didn’t agree

Kedua syair diatas memiliki makna yang kurang lebihnya sama (walaupun sudah pasti mereka tidak janjian). Hal ini sedikit dapat menjawab kebingungan menghibur hati saya dan beberapa teman saya selama ini.

Kedua syair tersebut bercerita tentang “orang tua” yang tidak bisa mengikuti jalan pikiran anaknya/generasi penerusnya. Hanya bedanya lirik dari SOAD lebih berupa sebuah keluh kesah, sedangkan syair dari Gibran (walaupun ironis) lebih berusaha menjawab keresahan tersebut. Keresahan yang saya yakin juga dialami oleh para orang tua, para tokoh-tokoh besar angkatan babe gue, dan mungkin juga oleh kita, para kakak yang sudah mulai merasakan punya adik maupun “adik” :P .

Memang zaman (baca lingkungan) sangat berperan dalam membentuk seseorang. Sekeras apapun usah kita untuk merumahkan mendidik dan mewariskan nilai-nilai luhur (alah) kepada generasi penerus kita. Tetap saja akan mengalami distorsi karena perbedaan variabel zaman.

Sebagai contoh, orang-orang dulu mungkin bisa memperbaiki moral kaum muda dengan melarang laki-laki dan perempuan bertemu atau berdua-duaan diatas jam 8 malam. Tetapi sekarang? melarang mereka bertemu adalah hal yang sia-sia. Dengan pesatnya teknologi, mereka masih bisa menggunakan media telepon/ponsel yang malah bisa berujung ke sms-sms jorok/phone seks/pemborosan pulsa berkedok taujih :P

Contoh lain adalah dengan berkembangnya zaman, jaring kekuasaan koruptor juga makin luas. Dulu murid sekolah mungkin takut berbuat salah karena takut dihukum guru. Sekarang (seperti yang terjadi di sebuah sekolah favorit di surabaya) justru guru yang takut menghukum siswa karena (istilah pak penjaga kantin saya) mulutnya sudah disumpal uang sama bapak dari murid tersebut yang (katanya) pejabat :P

Mungkin kita bisa memilih untuk mengisolasi mereka, sebuah cara yang sangat efektif menurut saya (seperti yang dilakukan militer misalnya). Tapi sampai kapan? Apakah kita yakin kita bisa terus berkonsentrasi mengawasi mereka (kecuali orang tua yang pengangguran :P ). Kita bukan tentara yang punya intel canggih yang bisa mengawasi para kadetnya (bahkan bisa tahu kalau mereka melepas seragam :) ).

Karena itu mengisolasi mereka dan menolak perkembangan zaman adalah sebuah kemustahilan. Berapa banyakpun diskotek yang dibakar, berapa banyakpun pelacuran yang dijadikan aset pribadi ditutup paksa, berapa banyakpun artis yang diusir dari rumahnya, berapa banyakpun majalah porno resmi maupun stensilan yang dibredel, Mereka akan tetap muncul lagi karena zaman adalah variabel yang absolut.

Lantas kita bisa apa menyongsong degradasi moral (alah alah) didepan mata ini?. Apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan generasi penerus kita?. Apakah kita hanya diam saja dan melihat anak-anak (penerus) kita menjadi anak zamannya seperti kata Gibran?. Tidak, kita tidak boleh menyerah pada zaman. Kalau kita tidak bisa melawan zaman dengan terang-terangan, kita harus bisa menungganginya.

Seorang teman pernah bilang pada saya :

Zaman itu selalu berputar ke arah kehancuran, jadi kalau kita bergerak melawan arus, berarti kita ada di jalan yang benar.

Orang yang kuat mungkin akan melawan arus dengan menjejakkan kakinya kuat-kuat dan berjalan ke arah yang dia inginkan. Tetapi orang-orang yang lemah seperti saya tentunya konyol kalau berbuat demikian. Akhirnya saya punya macam-macam opsi:

  • Naik perahu
  • Merambat di tepian sungai sambil pegangan
  • dll

yang jelas apapun akan kita lakukan agar tidak terseret oleh arus. Itu juga yang seharusnya coba kita lakukan pada anak-anak/generasi penerus kita. Kita tidak boleh memaksa mereka berjalan dengan tegak melawan arus sungai yang ada. Kita harus bisa menyelami dunia mereka untuk mengetahui keinginan-keinginan mereka. Apabila kita sudah tahu, maka kita harus bisa menjembatani keinginan kita dengan keinginan mereka. Tidak akan pernah ada hasil yang baik bila kedua pihak sama-sama ngotot dengan caranya masing masing.

Orang tua yang baik akan mengerti kapan dia harus tegas(dan memastikan anaknya tahu mengapa dia bersikap seperti itu), dan kapan dia harus mengerti dan memberi dukungan pada anaknya. Punishment dan reward harus diberikan secara proporsional. Hukuman yang berlebihan akan melahirkan kebencian dan trauma, sebaliknya penghargaan yang berlebihan akan melahirkan kesombongan (konon katanya adalah dosa favorit setan) dan kemanjaan.

Seyogyanya semenjak anak kita sudah dewasa secara usia (sudah mimpi basah) kita harus mulai memperlakukan mereka secara dewasa dan mengajak mereka berdialog seperti mitra sejajar. Kita tidak boleh menganggap mereka anak kecil hanya karena kita lebih dulu tahu. Sebab apabila kita menganggap mereka seperti anak kecil, maka mereka akan cenderung defensif dan tertutup. Hal ini akan mengakibatkan mereka mencari tempat lain untuk berdialog seperti vodka, inex, tante rosa (tangan tengen karo sabun) dll. Kita tidak ingin itu terjadi kan?

23 Tanggapan ke “Kolaborasi Kahlil Gibran dan SOAD?”


  1. 1 d-nial Februari 23, 2007 pukul 8:22 am

    Tumben bijak…

    *oke saiki serius*
    Pertanyaan mendasar dulu:
    1. Kenapa kita harus ngelawan arus? Bukankah ikut arus itu lebih mudah?

    2. Arus yang mana? Dunia ini bukan sungai yang arusnya searah, ada arus2 yang dibuat orang yang menolak untuk mengikuti arus dan membuat arus sendiri. Jadi darimana kita tahu arus yang mana yang harus dilawan dan yang mana yang diikuti?

    3. Darimana kita tahu apa yang baik dan tidak untuk generasi baru? Keresahanku sekarang seperti ini: Aku melihat generasi baru kehilangan nilai yang dulu ada, tapi kalau aku pikir2 lagi, Apa nilai lama itu masih relevan? apakah nilai baru yang mereka bawa lebih jelek atau lebih baik? parameternya apa? hasil? iya kalo bagus, kalau jelek kan telat. Mencegah perubahan dari awal jauh lebih mudah dari mengembalikannya ke keadaan semula, dunia nggak kenal tombol undo.

  2. 2 Helgeduelbek Februari 23, 2007 pukul 10:04 am

    Om mardun sudah punya anak berapa?

  3. 3 Alief Februari 23, 2007 pukul 11:25 pm

    Di, kamu memang tipikal bapak yang baik deh… Beruntung banget istri ataupun calon istrimu… :D

    Btw emang benar kalo: time change, people change. Makanya juga Rhenald kasali buat buku ‘change’ :)

  4. 4 mardun Februari 24, 2007 pukul 12:32 am

    #dnial#
    1.betul, lebih mudah dan lebih aman. Itulah sebabnya lebih banyak yang ikut, tapi hidup jadi kehilangan seninya kan….

    2.arus itu ya yang dominan toh…. kalo arus-arus yang dibuat sendiri dan tidak dominan itu ya namanya cuma riak saja

    3.karena itu kita harus lebih bisa memisahkan mana nilai yang benar-benar fundamental atau hayna baik menurut kita karena kita rasakan baik di zaman kita. Kita juga tidak menentukan mana yang baik dan tidak untuk generasi baru, kita hanya menunjukkan dan mengajak.

    #helgeduelbek#
    hehehe nyindir nih, anak BELUM ada sih, tapi kalo adik (adik sungguhan) lumayan banyak.

    #alief#
    alah mas mas, sampeyan ini bisa aja :P
    tapi kalo masalah change I Cant Agree More deh… cuma tinggal dimana posisi kita dalam perubahan itu kan….

  5. 5 arifkurniawan Februari 25, 2007 pukul 3:52 pm

    zaman berputar ke arah kehancuran?

    Hehehe…. bagus juga kalimat temennya. Walaupun masih amat sangat dapat didiskusikan lebih lanjut. Tapi kalimatnya bagus. Lucu. Menghibur.

    Hehehe

  6. 6 dr Februari 25, 2007 pukul 10:20 pm

    pertanyaan nggak penting:

    Seberapa lama diri kita sendiri bisa bertahan dari yang namanya “arus” itu?

    Wallahu’alam (

  7. 7 mardun Februari 26, 2007 pukul 1:24 am

    #arifkurniawan# ya, maksudnya tren budaya dan moral yang ada kan semakin lama semakin bergeser ke arah yang lebih membawa kerugian daripada manfaat. itu maksudnya berputar ke arah kehancuran.

    diskusi lebih lanjut sangat ditunggu :)

    #dr# sekuat kita bisa, terserah kamu mau kuat sampai mana :P

  8. 8 antobilang Maret 1, 2007 pukul 8:47 am

    kalo ga salah juga si, om kahlil pernah bilang…

    biarkan anak kita melesat bagai anak panah….

    dan memang orang tua berperan sebagai busur dan tenaga yang mendorong si anak panah…karena anak panah tak pernah bisa melesat tanpa busur ataupun tenaga pelontarnya…

    hehehe

  9. 9 mardun Maret 2, 2007 pukul 1:05 am

    dan kalau sudah lepas bisa segera berubah jadi busur baru ya (kalau dia jadi orang tua)?

    ada yang bisa menjelaskan bagaimana proses sebuah anak panah berubah menjadi busur?

  10. 10 Heri Heryadi Maret 14, 2007 pukul 2:20 pm

    Bener, sampe sekarang saja saya masih suka ga nyambung sama ayah saya. Kalo saya ngomong sama beliau ada si nyambung-nyambung tapi biasanya topik obrolan ga seluas kalo ngobrol sama teman. Habis pendidikan juga ngaruh, ayah saya cuma lulus sampe SD, maklum dari generasi kampung jaman dulu. Tapi salutnya walau pendidikanya ga tiggi, support sama anak melebihi para profesor di kampus. Orang tua berbuat untuk siapa lagi kalo bukan utntuk anak, saya pun kalo punya anak mungkin akan begitu. Hehe, jadi curhat..;)

  11. 11 mardun Maret 15, 2007 pukul 1:09 am

    Salut buat ayah anda :) jarang ada orang tua kayak gitu. Untung orang tua kita dalam hal ini sama :)

  12. 12 Mr. Geddoe Maret 22, 2007 pukul 11:42 pm

    Dengan membaca entry ini saya jadi melakukan tiga hal.

    Pertama, saya bersyukur orang tua saya sangat bijaksana dalam mendidik saya. Mengarahkan, tapi tidak membentuk pola tertentu secara berlebihan.

    Kedua, saya semakin sadar mau mendidik anak saya nanti (kalau dikasih kesempatan) sebijaksana mungkin.

    Ketiga, saya putar lagunya SOAD itu. Sudah lama nggak dengar. Jadi segar :D

    Makasih petuahnya mas :D

  13. 13 mardun Maret 23, 2007 pukul 12:24 am

    SOAD memang enak, keras sekaligus lembut :)

    btw saya nggak ngasih petuah kok mas, kayak apa aja :P cuma sekedar sharing aja.

  14. 14 hain April 11, 2007 pukul 10:52 am

    SOAD – Sad Statue …. lagu yang jadi OST pengkaderan 2005 :D

    ternyata jaman udah berubah dun, kita udah diskusikan ini dulu ..
    sekeras apapun kita berusaha, mereka akan tetap berjalan dengan jalannya yang berbeda dengan kita ..

    hhmmfff … ( menarik nafas panjang )

  15. 15 mardun April 13, 2007 pukul 12:37 am

    Mangkanya, segeralah kamu tinggalkan tempat terkutuk itu jen :P

  16. 16 zam April 14, 2007 pukul 4:36 pm

    i Love u SOAD gw bikin TA bikin profile soad Lho……h…… doain yach semoga lulus amien……

  17. 17 kidid Juli 23, 2007 pukul 3:34 pm

    aloww wah hebat benar nech punya temen yang lebih mahir bikin ginian… kapan nech bisa ajarin dan sumbang ilmu…

  18. 18 Juned Januari 17, 2008 pukul 4:39 pm

    gw seh setuju klo zaman arahnye menuju kehancuran.kloga gitu mana mungkin ada barang yang rusak

  19. 19 eko April 1, 2008 pukul 10:43 am

    wah, aku pikir pola berpikir yang bagus,semua diatur secara proporsional
    yang jadi masalah, apakah ada orang tua yang mau menerima nasihat dari anak? jujur saya sebagai seorang anak muda, kadang merasa jengkel kalo melihat orang tua yang kolot, zaman udah banyak berubah bos, jangan samakan dengan jaman babe
    aku pikir, harus ada komunikasi yang baik antara anak dan orang tua, waktu untuk bersama,dll

  20. 20 abdul Agustus 7, 2008 pukul 7:24 pm

    hi….
    kau baca super novanya dewi lestari(dee) yg kesatria,putri, dan bintang jatuh?
    kau tau hidup si putri juga seperti itu,slalu di dekte orang tua,slalu ditekan orang tua,harus begini harus begitu.

    hi…..
    boleh juga kalimat teman kamu.
    ok bisa di coba.
    walau ngelawan arus itu sangat2 menyedihkan


  1. 1 Antara Idealisme, Kesuksesan, dan Sok Tahu « Altearis Lacak balik pada Agustus 26, 2007 pukul 12:36 am
  2. 2 Sholat Pun Jadi Rasan-Rasan « Altearis Lacak balik pada September 29, 2007 pukul 10:27 pm
  3. 3 Mental Model « Ma-Me-Ma,, Just being Me!!!! Lacak balik pada Oktober 18, 2007 pukul 8:06 pm

Tinggalkan Balasan




This Blog Has Been Read

  • 93,064 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

a