Moral Tidak Bisa Dipaksakan
Kata-kata itu sudah lama sekali tidak kudengar. Sudah satu tahun lebih setelah saya melemparkan kata-kata itu ke publik dan sempat jadi bahasa gaul di lingkungan saya. Berawal dari kasus skorsing yang saya dan teman-teman saya dapat karena menyelenggarakan suatu kegiatan yang dianggap ilegal oleh orang-orang sok tahu yang memegang pucuk pimpinan, kata-kata itu menjadi ungkapan untuk menyebut para penghianat busuk mantan teman-teman kami yang menikam kami dari belakang dan menjual semua rahasia yang kami punya untuk mendapatkan keuntungannya sendiri (dan mereka mengaku sebagai aktivis dakwah, cuihhh…..).
Saya jadi tertarik untuk menggunakan idiom ini lagi karena terenyuh membaca komentar dari mas Tomy Dwinta Ginting Pada tulisan saya sebelumnya tentang rokok. Tiba-tiba mata saya seperti disodok oleh pisau yang lebih tajam dari lidah tukang fitnah orang-orang yang suka memvonis mengatasnamakan Tuhan. Sebuah pembelaan dari “wong cilik” bahasa surabaya untuk menyebut kaum miskin kota.
Dia (Tomy) sebagai seorang perokok mengungkapkan keluh kesahnya atas ketidak-adilan dan ketimpangan pembangunan citra bagi para perokok yang dianggap sebagai orang-orang egois dan tidak beradab karena meracuni orang di sekitarnya. Sementara para pengguna kendaraan bermotor yang kadar polusinya sama bahkan lebih justru tidak mendapat sorotan, dan semuanya atas nama modernisasi.
Saya baru sadar, bahwa mungkin memang bagi para “wong cilik”, merokok bisa jadi sebuah usaha untuk mencari hiburan yang bisa mereka dapatkan dengan relatif murah (600-1000 rupiah perbatang) daripada hiburan lain yang tidak mungkin mereka mampu dapatkan. Ternyata kita sebagai non-perokok juga turut andil untuk semakin meng-hinakan citra para perokok dengan menyebut mereka sebagai pengganggu. Kita telah berlaku tidak adil karena kita mungkin dengan santainya memberi mereka polusi dari asap kendaraan kita (dan saya yakin kita tidak minta maaf, termasuk saya
).
Ternyata kita saya juga tidak jauh beda dari para guru dan orang tua yang menjerumuskan anak-anak dalam “kebodohan” palsu. Jadi melalui tulisan ini saya hanya ingin menghimbau untuk semua orang yang tidak merokok agar jangan mengurangi menyulitkan mereka yang perokok dengan membatasi gerak mereka (kecuali di rumah/daerah kekuasaan anda). Marilah kita semua belajar adil dalam menyikapi sesuatu.
Saya sendiri terus terang tidak pernah melihat ada usaha pembatasan penggunaan kendaraan bermotor baik dari pemerintah maupun masyarakat. Karena hal itu sudah dipandang sebagai suatu modernisasi dan kebutuhan. Mereka/kita (para pengguna kendaraan) mungkin berdalih bahwa walaupun menghasilkan polusi, tapi kendaraan membawa manfaat yang lebih sehingga polusi hanyalah bagian dari resiko modernisasi.
Mungkin pendapat itu benar jika kendaraan hanya benar-benar digunakan untuk transportasi sekolah, kerja, atau berdagang. Tetapi banyak manakah penggunaan kendaraan tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat dibandingkan dengan hal-hal yang sifatnya pribadi seperti pergi dugem, jalan-jalan, cangkruk, dan kebutuhan pribadi lainnya? dan pernahkah kita berpikir untuk minta maaf terhadap orang yang terganggu oleh “ulah” kita yang mengejar kebutuhan pribadi/keluarga itu?.
Sementara belum ada peraturan adil yang membatasi polusi-polusi (asap rokok, kendaraan bermotor, pabrik) tersebut, maka kita hanya bisa bergantung kepada moral kita masing-masing. Dan moral memang tidak bisa dipaksakan. Ini berlaku buat kita semua.
Perokok yang bermoral mungkin akan merokok di tempat sepi atau meminta ijin sebelum merokok, demikian pula dengan pengguna kendaraan bermotor yang bermoral akan meminta ijin lewat pada setiap orang yang dilewati jalur asapnya atau hanya berkendara di tempat sepi saja
. Maukah kita begitu? saya terus terang sih belum bisa
lantas solusinya gimana dong?
N.B yang saya lakukan sampai sekarang sih masih sebatas mencoba memperbesar toleransi saya kepada perokok, karena mungkin hanya itu hiburan yang bisa mereka dapat. Mungkin mereka tidak bisa mengakses internet dan main-main seperti saya.








Kalo aku g ngerokok n nggak ngasih asap kendaraan (aku lho naik angkot, nggak bisa bawa motor)
Solusinya:
Buat transportasi massal yang cepat, nyaman n murah meriah.
daniel: di surabaya kira-kira transportasi massalnya apa ya?
#D-nial# sepakat, atau pisahkan jalan kendaraan dan jalan manusia (bukan sekedar trotoar, jembatan layang mungkin?)
#dr# ada banyak, ada bus dan bemo, cuma saya yakin yang mau naik pasti mikir 10 kali kecuali betul-betul mau menghemat
mardun: nah, masalahe bus dan bemo di surabaya “tercinta” ini… benar-benar mengenaskan… (1 hal thok yang aku suka, kalo jangka waktu perjalanan dijamin singkat :p)
Moral bisa dipaksakan kok Mar.
Namun, pemaksaan moral tersebut juga harus dibarengi dengan konsistensi dan tindak lanjut terhadap kebijaksanaan tersebut. Kalau tidak, akan mendapat perlawanan balik.
Misalkan: kewajiban bersepatu di kampus, maka yang mewajibkan juga harus konsisten bersepatu. Larangan merokok, maka pemerintah harus siap menyediakan lapangan pekerjaan penggantinya.
Menurut saya, sih, merokok itu bukan soal moral, tapi pilihan yang harus dibayar sendiri dengan kemungkinan gangguan kesehatan di masa depan.
Betul bahwa merokok adalah hiburan yang penting bagi wong cilik, tapi kalau kemudian terserang macam-macam penyakit akibat merokok itu, maka akibat yang ditanggung akan terasa lebih berat juga, dibanding orang-orang kaya yang merokok. Biaya rumah sakit, pengobatan, dll merupakan “kemewahan” yang barangkali tidak akan terjangkau.
dr:
Nggak juga kok..
Naik bemo itu kadang2 asyik yo..
Rasakan sensasinya saat sang raja jalanan meliuk-liuk, ngerem ndadak trus ngebut lagi di jalanan yang penuh dengan kendaraan.
“Namanya juga kejar setoran, mas!” alasan mereka kalo aku ingetin soal itu.
Ya mau gimana lagi, penumpangnya banyak beralih ke sepeda motor yg semakin murah kreditnya.
Oh ya…
Kabarnya di Surabaya mau dibangun bus way lho,
Dari Bungurasih sampai Tanjung Perak (CMIIW).
Wah, pantesan tadi malam kamu bagi-bagi rokok di kantin, Dun. Terenyuh rupanya kamu sama hiburan rokok, jadi nawarin rokok supaya semuanya ikut terhibur.
Hehehe…
Di film Thank You for Smoking ada juga nyindir gimana dulu industri nempatin bintang film jagoannya pasti merokok di adegan pentingnya, sekarang malah bandit-banditnya doank yang merokok. Pembangunan citranya bergantung opini publik. Kalau kita perhatiin di koran, tokoh-tokoh politik atau artis selebritis itu pasti gak bakalan diprotret kalau lagi megang rokok. Padahal mereka kebanyakan pada perokok, nggak cewek nggak cowok.
#TJ# wah kalau masalah kesehatan saya kira baik rokok, kendaraan, bus, dan mie instant punya risiko yang sama deh mas
#d-nial#wah, kalau soal nikmatnya bemo sih saya udah pernah jadi korbannya waktu kaki saya dilindas bemo di depan gedung kotamadya surabaya
#Tomy# yup, its all about stigmatism. Sekarang merokok dianggap jelek karena hanya dilakukan oleh orang-orang jelek
. Seandainya sherlock holmes dan rokoknya itu tokoh nyata 
#mas Kholimi# itu kan bukan moral, its just rules. Kalau peraturan itu hilang pelakunya akan kembali melanggar kan?
asap kendaraan bermotor kan merusak ozon yang dapat menimbulkan kanker kulit dan dapat mengakibatkn kematian!kalo rokok diharamkan kenapa kendaraan bermotor yang juga dapat menimbulkan kemadaratan tidak diharamkan??? bales yah butuh nih??
berapa sih?? mksud lo??