Pembagian Saham Anak Bodoh

Kalau ada seorang anak yang bodoh (atau dituduh bodoh) kita harus kembali berpikir ulang. Benarkah itu semua? atau jangan-jangan sebenarnya dia tidak bodoh, tetapi “dipaksa” untuk jadi bodoh?.

Menurut saya apabila ada seorang anak yang dikategorikan bodoh, ada banyak pemegang saham yang memiliki andil dalam “go public”-nya (diketahui banyak orang)kebodohan tersebut.

Para pemegang saham tersebut (akan dijelaskan kemudian)  adalah :

  • Anak yang bersangkutan  sebesar 10%
  • Guru sebesar 35%
  • Orang Tua sebesar 30%
  • Masyarakat sebesar 20%
  • Faktor lain  sebesar 5%

Di jaman sekaran ini, bahkan mungkin sejak dulu, memang para pelaku pendidikan mempunyai andil yang sangat besar dalam menentukan masa depan generasi muda yang mereka didik. Guru sebagai pendidik utama yang memberikan evaluasi seringkali terburu-buru memberikan stigma “bodoh” pada seorang murid hanya karena murid tersebut tidak bisa menuruti kemauannya.

Sebagai contoh, seorang siswa yang tidak bisa lari keliling sekolah lebih cepat dari 15 menit akan langsung mendapat nilai kurang untuk olahraganya. Padahal kita tahu olahraga itu bukan cuma lari saja. Ketika hasil penilaian guru yang berupa angka-angka di rapot atau laporan hasil belajar ini sampai ke orang tua, orang tua akan memberikan reaksi yang tidak kalah dahsyatnya dalam memberikan stigma “bodoh” pada anaknya.

Bila rapot anaknya mendapat angka jelek, maka orang tua tidak akan segan-segan memarahi anaknya dan mengatai anaknya bodoh. Ketika hal ini diketahui masyarakat lain di sekitarnya, maka mereka pun akan ikut-ikut membenarkan stigma tersebut dalam gosip-gosip murahan seperti

eh anaknya pak parno itu bodoh ya, masakan fisikanya dapat 5

Padahal kita tahu bahwa mungkin saja walaupun fisikanya mendapat nilai 5, tetapi bahasa inggrisnya mendapat nilai 9, apakah anak seperti ini bodoh? bagi saya yang bodoh adalah orang yang mengatakan anak ini bodoh, mulai dari guru, orang tua, dan semua tukang gosip murahan yang terlibat.

Seharusnya guru/dosen sebagai orang yang lebih berpendidikan bisa lebih arif dan bijaksana dalam menyampaikan hasil belajar seorang murid kepada orang tua. Bukankah lebih baik menyampaikan

Walaupun fisikanya dapat 5, tetapi bahasa Inggrisnya dapat 9, anak ibu pintar lho……

Daripada

Anak ibu ini fisikanya dapat 5, mungkin perlu lebih dikurangi waktu bermain-mainnya

Komentar kedua adalah komentar yang (bagi saya) hanya bisa muncul dari seorang bajingan orang yang kurang berpendidikan. Dan jelas itu sama sekali bukan komentar yang pantas diucapkan oleh guru. Orang tua yang sudah mempercayakan anaknya pada guru tentu saja akan shock mendengar komentar seperti itu dan akan betul-betul yakin bahwa anaknya memang “bodoh”.

Pernahkah kita memikirkan perasaan anak yang bersangkutan? siapa sih yang sebenarnya bersekolah? apakah standar pintar itu hanya pada pelajaran-pelajaran yang menghasilkan uang punya nilai jual tinggi saja?

Karena itu saham pemfitnahan pemberian stigma bodoh terhadap seorang pelajar paling besar dipegang oleh guru, yang kedua orang tua, dan masyarakat. Karena proses ini adalah sebuah rangkaian kemalasan kurang intensifnya para pendidik dalam memantau perkembangan anak didiknya. Apalagi dengan adanya KBK yang semakin mendorong para guru untuk “mengarang indah” di rapot muridnya :P .

Karena itu, apabila kita menjadi salah satu komponen pemegang saham diatas, janganlah kita terburu-buru memvonis seseorang itu bodoh atau pintar hanya dengan berpatokan pada angka-angka. Ingat, kecerdasan manusia itu ada banyak sekali macamnya. Kita harus bisa memotivasi dan mendorong bakat seorang pelajar (anak, keluarga, atau teman) untuk maju. Say no untuk pembodohan massal ala sekolah favorit

12 Tanggapan ke “Pembagian Saham Anak Bodoh”


  1. 1 dr Februari 12, 2007 pukul 1:15 am

    Eh, kalo anak yang nilai fisika 5, matematika 5, bahasa inggris 5, sejarah 5, dan lain-lain 5, tapi kalo tawuran berbakat. Itu termasuk kategori anak apa dun? (sumpah yang beginian sering keliatan jamanku smp-sma dun)

  2. 2 tj Februari 12, 2007 pukul 6:10 am

    Kembali lagi, apa itu tujuan sekolah?

    Apakah sebagai black-box tampat memisah-misahkan mana yang bodoh, mana yang pinter. Atau tempat mendidik anak untuk menjadi manusia yang lebih baik.

    “Manusia yang baik” itu mencakup banyak hal. Antara lain memang termasuk kerajinan, rasa ingin tahu, disiplin, yang konsekuensinya antara lain adalah nilai yang baik. Tapi itu baru sebagian kecil saja dari kualitas-kualitas yang dimiliki “manusia yang baik” itu tadi.

  3. 3 d-nial Februari 12, 2007 pukul 8:21 am

    Gimana kalo setiap anak di-homeschooling aja. Biar orangtuanya yang ngajar, atau ada satu guru privat yang ngajar.
    Aku juga heran ngeliat rapotnya adikku (SMU berbasis KBK), darimana gurunya tahu kompetensinya adikku ini, dari sekian banyak siswa yang diajar?

  4. 4 wadehel Februari 12, 2007 pukul 11:09 pm

    Hehe, saya dulu termasuk satu diantara anak-anak bodoh itu. Senang ada yang mengkritisi masalah ini :)

    Sekolah yang saya alami memang aneh, udah gurunya keras-keras dan pemarah –mungkin kurang gaji– cara penilaiannya juga ganjil. Saya termasuk yang ga bisa lari tuh, dan nilai olahraga saya ancur. Padahal dalam mata pelajaran yang lain… ancur juga!! Hahahaha… dasar emang saya yang bego kali, hihi.

    Para guru gimana ya pendapatnya? Apa iya sekolah cuma untuk mengkotakkan antara si pintar dan si bego?

  5. 5 Anang Februari 13, 2007 pukul 2:20 am

    padahal kepintaran tidak hanya bisa dilihat dari angka.. angka tidak mencerminkan apa yang ada di otaknya..

  6. 6 Galih Maulana Ardi Februari 13, 2007 pukul 11:08 am

    OOT

    sekolah itu candu!!!!

  7. 7 Alief Februari 13, 2007 pukul 11:58 am

    Alhamdulillah ada yang mengingatkan tentang hal ini, buat evaluasi saya semester depan. Thx.

  8. 8 Arif Kurniawan Februari 14, 2007 pukul 12:05 am

    Say no untuk pembodohan massal ala sekolah favorit.

    ehem… ehmmm… ini.. ini.. maaf… anu… Sekolah favoritnya dimana yaa?… maaf, atas kebodohan pertanyaan saya… hmmhh.. anu… anu.. begini…

  9. 9 mardun Februari 14, 2007 pukul 3:12 am

    #dr# harusnya disuruh ikut ekskul bela diri tuh, atau orang tuanya bilangin biar nggak kerja cari duwit terus, perhatiin anaknya :P

    #tj# ya harusnya namanya lembaga pendidik ya fungsinya untuk mendidik dong :)

    #d-nial# ya itu, KBK itu kayaknya nggak lebih dari keputus asaan guru yang menyadari kalau selama ini mereka itu sok tahu dan gagal mengajar :P

    #wadehel# saya juga termasuk yang “bodoh” kok. Gak malu ya mereka minta naik gaji? padahal ngajarnya ngawur :P

    #galih# telat sek tas moco saiki :P

    #alief# semoga bukan cuma evaluasi :P

    #arif kurniawan# macem-macem mas, mulai sekolah favorit negri sampe swasta yang aneh-aneh menagih biaya gak karuan mahalnya (katanya demi memperbaiki akhlak, pengadaan CD multimedia, tengaga pengajar asing dll) tapi ngggak “sumbut” sama hasilnya :P

  10. 10 mardun Februari 14, 2007 pukul 3:14 am

    #anang# nah justru itu, soalnya memang cara paling mudah untuk menilai kan pake angka, makanya kayaknya guru guru yang nggak mau susah lebih milih menilai dengan cara itu :P . Walaupun tidak bisa dipungkiri angka memang penting, tapi yang jauh lebih penting adalah darimana angka itu berasal kan :)

  11. 11 ree Desember 31, 2007 pukul 3:17 pm

    ngapain c ngebahas sekola. udeh tau candu!!! 1 catatan: di sekolah kita tidak pernah dididik untuk menjadi orang yang kreatif agar produktif, tapi konsumtif. terlebih dengan kekurangajaran “guru” yang menilai seseorang seenaknya.

  1. 1 Ilmu Sosial Itu Haram Nak!!!! « Altearis Lacak balik pada April 13, 2007 pukul 1:39 am

Tinggalkan Balasan




This Blog Has Been Read

  • 44,608 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728