Membaca tulisan mas Aufa tentang perempuan membuat saya terkagum-kagum. Beliau sampai mengemukakan 4 teori tulang rusuk yang melibatkan aspek medis, pasar, sampai kepercayaan. Dan pada akhirnya ada sebuah kesimpulan bahwa perempuan memang diciptakan untuk disayangi. Pertanyaannya siapakah yang harus menyayangi perempuan? apakah laki-laki juga diciptakan untuk menyayangi perempuan?.
Sebenarnya tulisan ini saya buat sebagai bentuk simpati saya terhadap beberapa teman saya yang mengalami nasib yang cukup tidak mengenakkan dalam sayang menyayang (termasuk saya kaleee). Saya cuma ingin menjelaskan apa sebenarnya yang mungkin diinginkan oleh (sebagian) laki-laki. Siapa tahu nanti ada yang ingin menulis buku untuk menandingi buku What Men Want agar saya dan orang-orang lain tidak perlu mengeluarkan 7,99$ untuk membacanya.
Mulanya saya heran melihat beberapa kolega (halah) saya yang harus menjilat ludahnya sendiri dan kembali memasang label “lajang” mereka, saya heran sebab menurut pengakuan mereka masing-masing dan menurut pengamatan saya dan teman-teman yang lain, sebetulnya tidak ada masalah yang cukup worthed untuk meng-undelete status “lajang” dari recycle bin mereka. Akhirnya saya tergelitik untuk berbincang-bincang dengan mereka.
Dari Pihak perempuan:
Biasanya memang formulir pengajuan putus hubungan ini diajukan oleh perempuan terlebih dahulu. Alasan yang dikemukakan-pun menurut saya (karena saya laki-laki tentunya) lucu dan aneh. Seperti salah satu teman saya yang mengatakan
“dia tak putusin soalnya aku ngerasa ini nggak adil buat dia”
“kenapa?”.
“Karena aku nggak bisa menyayangi dia seperti dia nyayangi aku”
“Emang kamu pernah omongin ini sama dia?”
“hehe, enggak…..”.
nah lo, ada dua kemungkinan yang bisa ditarik dari sini. Yang pertama, memang sampel saya ini kurang sadar kodratnya sebagai perempuan yang diciptakan untuk disayangi. Yang kedua, mungkin saja teori yang mengatakan bahwa perempuan diciptakan untuk disayangi itu yang salah. Dan selalu ada kemungkinan ketiga yaitu saya salah mengambil sampel
. Tapi agar tulisan ini tetap berlanjut, maka saya akan meniadakan kemungkinan yang ketiga.
Dari pihak laki-laki:
Sementara perempuan mengajukan alasan yang bertele-tele (petikan wawancara saya diatas sebetulnya masih panjang, karena itu saya putus dengan menggunakan “……”), justru dari laki-laki kebanyakan alasannya sepele. Mereka umumnya memberikan jawaban yang mirip-mirip walaupun redaksionalnya beda seperti:
- “ya, dia minta putus…. masak tak paksa, kan percuma kalo cuma sepihak”
- “Buat apa aku terus nyayangi orang yang nggak mau disayang?”
- ” aku nggak peduli dia sayang aku atau nggak, asal dia mau disayang aku lho nggak masalah (suer, yang kayak gini langka banget tapi
)”
Memang jawaban-jawaban diatas terkesan sok romantis, tapi harus kita akui secara jujur bahwa memang laki-laki umumnya selalu mengambil inisiatif untuk memulai suatu hubungan. Dan dalam memulai suatu hubungan itu dia tidak perduli apakah si perempuan memiliki perasaan yang sama atau tidak. Kalau sama syukur, kalau nggak ya gimana caranya kita bekerjasama dengan waktu untuk membuat rasa itu tumbuh (sok romantis deh). Ini sedikit membuktikan kalau memang laki-laki memang (biasanya) penyayang dan perempuan (biasanya) ada untuk disayang.
Kalau saja perempuan mau mengerti kodratnya untuk disayangi dan kalau saja laki-laki mau cukup sabar untuk mendengarkan perempuan dan menyampaikan maksudnya secara terbuka (perempuan itu bukan peramal yang serba tahu) mungkin kecelakaan-kecelakaan yang tidak penting bisa dihindari. Bukankah akan lebih keren kalau kita bisa menjawab “dia selingkuh” atau “dia main video porno sama orang lain” ketika ditanya alasan kita putus/cerai daripada cuma sekedar jawaban “soalnya dia terlalu baik untukku” (banyak cewek-cewek korban salah seorang seniorku yang selalu bilang begitu kalau ditanya kenapa mereka putus) .
Sebuah hubungan itu tidak usah dibuat rumit. Kalau suka ya buatlah hubungan, dalam membangun hubungan harus ada kesepakatan (walaupun tidak tertulis), kalau tidak ada masalah ya jangan putus (atau mencari-cari masalah sebagai alasan putus), dan kalau memang sudah mantap menikahlah.
Beres Kan? gitu aja kok repot. Sadar nggak, kalau kita terus membuat semuanya (masalah relationship) jadi rumit, maka kita akan semakin mendorong menjamurnya buku-buku semacam “women are from venus and men are from mars“, “why man cant listen and women cant read maps“, dan lain lain?.
Bukalah matamu lebar-lebar, masih banyak buku dan pengetahuan lain yang lebih layak dikonsumsi dan dibaca (ex tentang IT, olahraga, Hukum, ekonomi, dll) daripada masalah hubungan laki-laki dan perempuan yang sebetulnya bisa dengan mudah kita komunikasikan dan selesaikan sendiri dengan pasangan atau calon pasangan kita masing-masing. Tidak perlu tuntunan dari buku untuk mengungkapkan isi hati, kita hanya perlu menurunkan GENGSI kita masing-masing dan saling menjaga rahasia dan kepercayaan diantara kita. Toh di jaman yang serba maju ini media komunikasi semakin tidak terbatas kan?.








Kayaknya yang ini:
Juga yang ini:
Seems familier.
Tapi kadang agak lebih rumit dari itu. Ada yang putus emang gara-gara bermasalah. Seperti pribadi yang nggak cocok atau bahkan KDP (Kekerasan Dalam Pacaran).
Btw perasaan postingan ini juga nyindir dirimu sendiri yo Dun?
:))
hello, does “sebetulnya tidak ada masalah yang cukup worthed untuk meng-undelete status “lajang” dari recycle bin mereka.” ring something?.
yang dibahas ini kan diluar konteks kekerasan ataupun ke”daniel”an dalam rumah tangga
Asline alasan nggak penting itu sebenarnya hanya berujung pada dua alasan utama: BOSEN! atau EMANG NGGAK COCOK! atau bahasa lainnya SUDAH NGGAK CINTA LAGI!
Wes…
Yang lainnya hanyalah pemanis bibir belaka, supaya (ex)pasangan-nya nggak sakit hati,
d-nail eh salah d-nial: dan, dan… nggak pernah terlintas dalam pikiranmu kalo salah satunya sedang menderita penyakit, katakanlah, AIDS gitu? Ato yang paling buruk wes, kalo salah satunya mau mati sebentar lagi?
Ah pak fabian, eh salah, dun, itu tulisan kok keliatannya “bukan mardun banget” ya. Secara, kamu kan pernah bilang klo… wkwkwkwkwkwkwk
Pokoknya: perempuan dan laki-laki nggak akan klop, deh. Nggak perduli siapa yang ditakdirkan jadi penyayang atau yang disayangi.

Membaca blog ini “Aufa tentang perempuan” saya jadi mikir dan tanya diri sendiri: hati (liver) itu kan nggak di rongga dada, toh?
Yang di rongga dada kan jantung dan paru-paru. Makanya banyak orang yang nggak pasti lalu bilang: oh, jantung -hatiku.
tapi yang kebanyakan gengsi (jaim) tu dari pihak wanita mas
#Tukang Komentar# wah tanya sama orangnya langsung aja deh
#agung# ya juga sih, tapi tulisan ini kan juga gak tertuju ke laki-laki doang.
Atur aja mas…… Jadikan aja setiap masalah adalah pelajaran bagi kita , buat ngadepin kehidupan dimasa yang akan datang.. Bukan begitu??? (only yang baru pacaran….. Kakek2 gak usah baca)
hm???? maksudnya?