Tanpa Tanda Jasa Mengaku Pahlawan? Cuih…….

Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Kata-kata yang selalu ditanamkan pada kita sejak kita masih TK sampai sekarang. Yang jadi pertanyaan krusial adalah, benarkah itu?. Tampaknya kalau melihat kenyataan sekarang ini kita perlu mengkaji ulang slogan itu. Mungkin memang sudah saatnya guru diberi tanda jasa, agar guru-guru yang memang tidak punya jasa tapi mengaku pahlawan itu (guru SMA Negeri 5 Surabaya misalnya) mendapat pelajaran.

Mengapa pernyataan yang bernada sinis bahkan langsung menyebut nama ini keluar? Tidak lain dan tidak bukan adalah merupakan akumulasi kekecewaan saya melihat kiprah dan perilaku guru-guru di almamater saya (SMAN 5 Sby) dari semenjak saya sekolah disana 8 tahun yang lalu sampai sekarang. Hanya sedikit sekali guru yang betul-betul menjalankan perannya sebagai pendidik untuk membimbing murid-muridnya dan mengajarkan mereka untuk dapat membedakan yang baik dan yang benar. Selebihnya hanya setara bahkan lebih hina dari tentor di LBB semacam SSC atau Ganesha Operation.

Kasus terakhir dan yang memang hampir terjadi setiap tahun dapat dilihat dari penyelenggaraan invitasi olahraga antar sekolah se-jawa Timur bernama “Smala Cup”. Bayangkan saja, pada even yang berskala provinsi ini, partisipasi guru hampir tidak ada. Mereka tidak datang mendukung saat anak didiknya bertanding, mereka tidak memberi dorongan moral saat panitia mengalami masalah, dan yang paling parah, mereka justru menghalang-halangi panitia yang berusaha melakukan tugasnya. Justru untuk acara-acara yang sifatnya “komersial” (baca murid diwajibkan membayar) mereka tega memaksa murid-murid untuk mengikuti dengan berbagai macam ancaman. Kalau mereka hanya digerakkan oleh uang, lalu apa bedanya guru-guru dengan tentor LBB?. Belum lagi kalau kita melihat bagaimana kecenderungan sebuah sekolah untuk selalu memaksa muridnya untuk berprestasi di bidang akademik dan sama sekali menutup mata terhadap prestasi non akademik.

Melihat fenomena tersebut memang kompleks, karena itu yang bisa saya harapkan hanyalah agar setidaknya janganlah ditanamkan pada anak-anak atau murid bahwa guru itu adalah “pahlawan tanpa tanda jasa“. Tanamkanlah pada anak-anak atau murid agar mentasbihkan atau memberikan “tanda jasa” versi mereka sendiri kepada guru yang memang punya jasa atau layak jadi pahlawan. Kalau hanya mengajarkan Matematika atau Fisika tanpa proses pendidikan lebih lanjut, sembarang orang juga bisa asal ada literaturnya. Bahkan tentor-tentor LBB mungkin jauh lebih mampu daripada guru-guru konvensional. Bahkan kalau perlu guru-guru semacam itu sebaiknya dipecat saja.

6 Tanggapan ke “Tanpa Tanda Jasa Mengaku Pahlawan? Cuih…….”


  1. 1 artefaksi Februari 9, 2007 pukul 3:47 am

    *pahlawan tanpa tanda jasa* itu secara jangka panjang justru melemahkan pendidikan yang *tanpa tanda-tanda kemajuan*, semboyan itu hanya eufinisme yang diberikan rezim untuk melemahkan posisi guru dalam distribusi anggaran, guru tanpa tanda jasa sementara pejabat yang dihasilkan guru sangat melimpah “tanda jasanya”, irasional & ironis pak…

  2. 2 mardun Februari 9, 2007 pukul 5:26 am

    jadi ingat, sekitar tahun 1996, ada salah satu peraih nilai tertinggi dalam EBTANAS (UNAS, red) yang memberikan sebuah komentar ekstrem.

    Saya berhasil mencapai prestasi ini bukan karena jasa guru, tetapi karena jasa LBB

    hal ini menimbulkan keresahan, banyak mantan gurunya yang marah dan menuduhnya tidak tahu terima kasih, tetapi ada juga yang memang sadar dan secara ksatria mengakuinya.

    cobalah sekali-sekali amati sekolah-sekolah negeri, perhatikan polah tingkah guru-gurunya mulai dari masuk sekolah sampai pulang sekolah. Mungkin kita akan tahu kenapa pemerintah ragu-ragu untuk menaikkan gaji guru. Sampai sampai ada yang bilang

    Kerja seenaknya sendiri kok minta gaji dinaikkan, ngaca dong

  3. 3 ratna Februari 25, 2007 pukul 6:43 am

    ngga’ semua guru seperti yang digambarin diatas walau aku sadar itu hanya satu banding seribu.
    ayo donk…. para guru berubah!
    dah tahu orang awam kaya’ gitchu… jangan nutup mata deh!!

  4. 4 mardun Februari 26, 2007 pukul 1:21 am

    #ratna# saya bantu teriak deh, ayo donk para guru….berubah!!!! :)

  5. 5 risca Maret 4, 2007 pukul 10:20 am

    setujuu banget tuchh

    emangnya ada pahlawan tapi tidur di kelas???

    sedangkan, setiap ulangan seorang murid dituntut untuk mendapat nilai “A”….

    itukah “pahlawan tanpa tanda jasa”????

  6. 6 Bagus April 21, 2008 pukul 11:20 am

    Bener tuh yang kamu tulis, mereka memang gak peduli ama yang begituan, malah menghalang-halangi. Dipikir panitia itu dapet duit banyak dari penyelenggaraan Smala Cup dan mereka tidak mendapat apa-apa dari situ. Dulu untuk acara Smala Cup V aja, kau dan temen-temen harus melobi berkali-kali ke KepSek dan WaKepsek untuk dapat ijin penyelenggaraan. Apalagi yang namanya Pak Danang itu guru OR, bisanya malah mengintimidasi huh…. sebel. Kisah nyata ne… aku dulu kebetulan Ketua Panitia soalnya.

Tinggalkan Balasan




This Blog Has Been Read

  • 42,761 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

Nopember 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930