Pak Gatut, mantan guru olahraga SMAN 5 Surabaya (meski cuma honorer), kini menjadi guru di SMA Kristen St Agnes Surabaya. Sosok seorang guru dan pendidik yang sangat layak untuk mendapatkan “Oemar Bakrie Award” karena jasa dan dedikasinya untuk mendidik dan memajukan murid-muridnya. Meski hanya guru honorer, beliau tidak pernah setengah-setengah dalam memberikan pendidikan kepada murid-muridnya. Beliau juga bisa menggunakan cara-cara yang lebih manusiawi namun tetap tegas dalam mendidik.
Suatu contoh yang menunjukkan kearifan beliau adalah ketika ada seorang siswa yang memakai cat kuku ke sekolah. Saat guru agama sudah memarahi dengan segala cara penjajah bahkan sampai mengata-ngatai murid tersebut kafir yang justru membuat murid tersebut makin jengkel, justru beliau melakukan pendekatan yang manusiawi tapi tegas. Beliau hanya bertanya
“nduk, kamu Islam? (nak kamu Islam?)”.
“Iya pak”.
“Nek sholat wudune yaopo? (kalau sholat wudhunya bagaimana?)”.
Dan tidak lama kemudian murid tersebut segera menghapus cat kukunya. Beliau juga selalu berusaha sebisa mungkin mendampingi murid-muridnya kalau ada kegiatan dan bahkan selalu berani terdepan dalam membela murid-muridnya yang “kurang” berprestasi akademik tapi memiliki bakat lain ketika guru-guru mengutuk mereka (saya bahkan pernah dikutuk nggak lulus UMPTN). Hal inilah yang mengakibatkan beliau akhirnya tidak berumur panjang di SMAN 5 Surabaya.
Sosok-sosok guru seperti Oemar Bakri dan Pak Gatut inilah yang dibutuhkan untuk memajukan pendidikan di negara ini. Walaupun hanya bermodal sepeda yang (maaf) butut untuk mengajar dan gaji yang tidak seberapa, tetapi mereka betul-betul mengabdikan dirinya untuk mendidik. Tetapi mengapa justru guru-guru berbakti dan berdedikasi macam ini yang disingkirkan?. Ini menunjukkan ketololan sekolah “sehebat” SMAN 5 Surabaya, justru sekolah seperti St Agnes-lah yang lebih mengerti bahwa guru-guru seperti Pak Gatut inilah yang dibutuhkan.
Iwan Fals memang benar “Jadi guru jujur berbakti memang makan ati“. Tapi paling tidak hal ini membuka mata saya bahwa memang masih ada guru yang Jujur dan berbakti walaupun dihina-hina oleh mereka yang mengaku “pendidik” sekolah favorit. Memang sekolah favorit sangat hobi membodohi murid-muridnya dengan janji palsu.








Salut buat Pak Gatut…I take my hat off to him
Berarti Pak Gatut tidak hanya berperan sebagai pengajar tetapi juga pendidik, he is the real teacher
Jadi ingat GTO (Great Teacher Onizuka)…
Sayang sekolahnya (yang mecat beliau) tidak berpikir seperti itu.
Guru-gurunya nggak pernha liat GTO mungkin, takut kesindir