Pak Salam Yang Kesepian

Setelah begitu banyak masalah yang mendera bangsa ini mulai dari lapindo sampai terakhir menteri luar negeri memanggil dubes Denmark sehubungan lomba karikatur Rasulullah S.A.W, ternyata masih ada sebuah sisi yang tak tersentuh oleh kita dan dilupakan begitu saja. Pak Salam, itu adalah nama sebuah warung es teler yang berjualan di pinggir jalan Kertajaya (dekat Pizza Hut). Beliau seolah olah tidak terganggu dan tetap menjalankan bisnisnya dengan tenang setiap sore sampai tengah malam. Sehingga walaupun terlihat ramai, saya entah mengapa merasa kalau beliau begitu kesepian.

Apabila memang permasalahan besar seperti uraian di atas adalah urusan kaum politikus tingkat atas, maka permasalahan kaum pinggiran seperti ini menjadi urusan siapa?. Beliau begitu kesepian karena beliau hanyalah satu dari sekian kaum marginal yang begitu bersemangat melihat mahasiswa yang berangkat untuk memperjuangkan nasib mereka, terlepas ditunggangi atau tidak. Mereka kesepian, merka tidak punya teman ketika bapak2 oknum satpol PP datang menagih uang keamanan, atau ketika tiba-tiba harga minyak tanah naik. Dan itu semua masih ditambah lagi dengan dada mereka yang menjadi licin karena terus-menerus dielus melihat perilaku anak-anaknya yang semakin menutup mata dengan keadaan lingkungannya.

Yang masih SD sudah bunuh diri, SMP tersangkut pemerkosaan, SMA menjadi bandar Narkoba, dan yang beruntung sempat kuliah justru menjelma menjadi bukan manusia (saya nggak bilang robot lho ya). Lantas tidaklah salah kalau di usianya yang belum 30 tahun rambutnya sudah memutih karena pusing memikirkan itu semua. Kemana perginya kaum intelektual bangsa ini? yang menjadi guru rata-rata masuk IKIP karena pilihan kedua waktu SPMB, yang menjadi dokter hobinya foya-foya, dan yang berprestasi setelah lulus justru tidak mau membagi ilmunya dengan menjadi dosen dengan alasan klasik (uang).

Saya jadi teringat sebuah kata-kata Almarhum Pramoedya Ananta Toer dalam epiknya Anak Semua Bangsa. “Segala yang terjadi di kolong langit ini adalah urusan mereka yang masih berpikir”. Siapa yang dimaksud? tentunya kaum intelektual kita, baik itu mahasiswa maupun dosen. Kaum intelektuallah yang senantiasa menemani orang-orang seperti pak salam ini di lingkungannya masing-masing. Jangan biarkan dia kesepian, jangan terhanyut kedalam proses Dehumanisasi yang dimulai semenjak kita masuk SD. Ingatlah bahwa harga diri dan muka suatu bangsa tercermin dari generasi muda serta kaum intelektualnya.

0 Tanggapan ke “Pak Salam Yang Kesepian”


  1. Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan




This Blog Has Been Read

  • 44,608 TImes Already
I am Kakashi! I am ichigo! I am Krillen! KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

 

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031