“Dia sahabatmu nip?”
“Ya iya lah dun, hanya sahabat yang bisa mengkhianati”.
“maksudmu?”.
“kalau dia bukan sahabat, dia nggak mungkin mengkhianati kita dong”.
Nah lo, itu sepotong dialogku dengan salah seorang kolegaku (aduh melipe rek kolega). Sebuah dialog yang memberi wawasan baru buat aku. Ternyata memang musuh dalam selimut lebih berbahaya daripada musuh di luar selimut. Musuh di luar selimut hanya bisa menyerang dari depan, sedangkan musuh dalam selimut bisa menyerang dari mana saja. Waspadalah!!! (kata bang napi).
Yah, itu hanya sekelumit cerita masa lalu yang Insya Allah akan kusampaikan ke anak cucuku kalau aku sempat punya. Kisah yang akan menjadi pelajaran yang sangat berharga dan semoga semua tokohnya masih hidup untuk diceritakan dan melihat mimik muka orang yang mendengar sandiwara gak jelas babaknya ini. Yang jelas Idealisme bukan masalah Menang atau kalah, Idealisme adalah dan tetap akan selalu tentang masalah Benar atau Salah. Kenapa ya akhir-akhir ini begitu banyak kenangan masa lalu yang muncul ke otakku? tanda2 apakah ini?.








Sekali-kali, kalau pengkhianatan jangan dianggap sebagai pengkhianatan gimana?
Bingung ya? Aku juga bingung kok.
-Mardun—–> Bisa aja sih mas, aku sih udah gak ada dendam, cuma tetap sulit untuk melupakan. Kayak lagunya The Corrs “Forgiven not Forgotten”
wah…..
gw juga bingung ga tau apa bisa kalau penghianatan itu ga dianggap penghianatan padahal kan itu tindakan pecundang..l…1
Yah…. demikianlah kalau ideologi sudah dipandang sebagai pengganti Tuhan