Entah kenapa tiba tiba jadi ingat sama kembang-kembang api indah yang ditembakkan untuk memeriahkan hari ulang tahun surabaya beberapa waktu (eh agak lama juga sih) yang lalu, bertepatan juga dengan semaraknya Festival Seni Surabaya. Waktu itu kembang api yang diluncurkan begitu banyak dan indah, tetapi yah…. begitulah…… hanya sesaat saja bisa dinikmati.
Entah kenapa hidup ini selalu penuh dengan kembang api, kembang api yang bersahabat erat dengan kesempatan. Kedua-duanya sama-sama memiliki ttl (time to live) yang singkat, tetapi mereka sama sama memiliki daya sesal yang tinggi apabila dilewatkan. Satu-satunya perbedaan yang mencolok hanyalah bahwa kembang api hanya bisa dilihat dan dinikmati, sementara kesempatan bisa memberikan hasil yang baik dikemudian hari.
Kembang api dalam kehidupan memang sebuah ironi yang menyedihkan, kita lihat saja sebagai contoh adalah Bastian Schwensteiger (sori kalau ejaannya salah) pemain Jerman yang telah menutup piala dunia dengan manis. Dia telah memberikan sebuah kembang api yang sangat indah pada publik Jerman dan kita yang menonton di rumah dan mendukung Jerman. Tapi apa faedah alias manfaat yang kita dapat? nyaris tidak ada selain sebuah ecstasy/euforia sesaat.
Yang ingin saya maksud, Kembang api dan Kesempatan mirip seperti Fubuki dan Muramasa dalam komik Samurai Deeper Kyo, mereka bersahabat tapi sangat bertolak belakang. Karena itu kita harus pandai-pandai memilah mana yang merupakan “kembang api” dan mana yang merupakan kesempatan agar kita tidak terlena dan bahkan kemudian terperosok dalam kerugian lahir batin karena menganggap kembang api sebagai sebuah kesempatan dan sebaliknya mengacuhkan sebuah kesempatan karena hanya kita anggap sebuah kembang api yang lewat.








koq aku ngerasa kalau kita bisa bilang itu indah karena itu sesaat, hanya pada saat itu saja dan tidak akan pernah terulang ataupun direwind (podo ae yo?)
hidup ini indah karena tiap detiknya bisa merupakan detik terakhir dalam hidup kita, dengan begitu setiap detiknya begitu berharga, coba kalau ada selamanya, matahari aja cuman ada 12 jam sehari (kalau di kutub emang 6 bulan siang 6 bulan malam) dan bayangkan kalau siang terus ga ada malam, nah lo
its just an opinion
-Mardun—–> I cant agree more man