Jerman menang adu penalti melawan Argentina, sekaligus mematahkan mitos bahwa jerman tidak pernah menang melawan tim “besar”. Ternyata di tangan Klinsmann Jerman bisa lebih banyak “berbicara” daripada Brazil atau seteru abadinya Inggris yang sudah gugur duluan. Hal ini seperti mengulang kesuksesan jerman menjadi salah satu “raksasa” sepakbola seperti saat diarsiteki oleh Beckenbauer (tahun 1990 jerman juara dunia). Lantas mengapa selama dilatih oleh Berti Vogts (1990-199
Jerman begitu memalukan di pentas piala dunia?.
Sebetulnya baik Klinsmann, Beckenbauer, maupun Vogts memiliki latar belakang yang sama, yaitu sama-sama pernah mengenyam piala dunia sebagai pemain. Vogts pernah merasakan nikmatnya berduet dengan Beckenbauer pada Piala Dunia 1974, dan Klinsmann pernah merasakan diantar Beckenbauer mencium Piala Dunia 1990. Akan tetapi ada perbedaan mendasar yang membedakan Berti Vogts dengan Klinsmann dan Kaisar, yaitu karakter mereka.
Karakter Beckenbauer lebih mirip dengan Klinsmann daripada Vogts, mereka berdua sama-sama menjadi pemain bintang saat meraih piala dunia. Sementara Vogts hanyalah “pembantu” Beckenbauer yang memiliki spesialisasi Man-to-man marking. Vogst juga tidak seekspresif mereka, sehingga banyak pemain maupun publik Jerman yang meragukan kapabilitasnya. Berbeda dengan Klinsmann yang begitu ekspresif saat ikut merayakan gol bersama anak asuhnya, Klinsmann bertindak seolah-olah dia masih bermain (umurnya 42 tahun lho) dan seolah-olah dialah yang mencetak gol. Hal ini mungkin juga menjadi pelecut semangat tersendiri bagi squad Panser Jerman. Klinsmann dan Kaisar juga sama-sama penggemar sepakbola menyerang (meskipun Beckenbauer adalah pemain belakang), sehingga permainan Jerman begitu menarik (aku sudah pasrah aja waktu Argentina Leading 1-0, tapi tetap legawa soalnya mainnya Jerman bagus), berbeda dengan Vogts yang begitu getol menerapkan pola bertahan, taktik tersebut membuat permainan Jerman membosankan dan sukses mengantarkan mereka dipecundangi tim “non unggulan” seperti Bulgaria (1994) dan Kroasia (1998).
Kalau melihat karakter Klinsmann yang mirip Beckenbauer, banyak publik Jerman yang menaruh harapan mereka di pundak Klinsmann untuk dapat mengulang sukses Jerman merebut piala dunia untuk yang keempat kalinya. Semoga permainan Jerman dan inovasi Klinsmann terus berkembang sampai partai puncak nanti, siapaun lawannya. Bravo Uber Alles.








Deutschland Uber Alles